Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Terpaksa Berbohong


__ADS_3

Satu minggu sejak kejadian itu sekarang Tamara adalah satu-satunya wanita yang menjadi ratu di dalam rumah Demian. Setelah laki-laki itu menceraikan Liana dan ternyata rupanya Tamara menerima Demian meskipun laki-laki itu mandul. Karena bagi Tamara anak bisa wanita itu adopsi, sedangkan pasangan tidak akan bisa dengan sangat mudah dan secepat itu bisa dicari penggantinya.


"Lamunin apa?" tanya Demian saat laki-laki itu baru saja keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang dililitkan pada pinggangnya. "Apa mau mengulangi yang tadi malam?"


Tamara yang mendengar suara Demain langsung saja menatap sang suami. "Ish, Mas ini. Badanku terasa sangat pegal dan juga terasa hampir remuk."


Demian langsung saja terdengar terkekeh, karena lima hari belakangan ini laki-laki itu sekarang tidak merasa takut lagi melakukan hubungan suami istri dengan Tamara. Karena laki-laki itu merasa Tamara sudah bisa menerima kekurangannya, meskipun Demian sempat merasa minder. Namun, kali ini tidak lagi saat mendengar untaian kata-kata Tamara yang membangun kepercayaan diri di dalam diri laki-laki itu.


"Kalau sering-sering, pasti tidak begitu lagi," kata Demian berbicara sangat pelan saat ia mengatakan itu pada sang istri. "Bagaimana kalau kita melakukan itu tiga kali sehari? Mas jamin pas–"


Tamara melempar bantal ke dada bidang Demian sehingga kalimat laki-laki itu terputus.


"Mas, jangan seperti minum obat deh, lama-lama Mas ini ...." Tamara sengaja menjeda kalimatnya.


"Apa?" Demian menaik turunkan alisnya.


"Nggak jadi, sekarang Mas Demian pakai baju gih, dan antar aku ke toko. Karena hari ini ada barang baru yang akan datang, dan itu artinya hari ini aku akan sangat sibuk di toko."


"Imbalannya apa?" tanya Demian yang belakangan ini sering kali mengajak sang istri bercanda. "Sayang, Mas tanya, imbalannya apa dulu?"


Tamara malah mencubit pelan perut laki-laki yang sudah berstatus menjadi suaminya itu. "Mas mau apa?" Sekarang Tamara malah bertanya balik pada Demian. Bermaksud ingin tahu apa yang suami me sumnya itu mau.


Demian tersenyum sambil berbisik. "Berikan Mas jatah lebih setiap malam, itu sudah lebih dari kata cukup," jawab Demian santai tanpa ada rasa malu dan gugup sama sekali.


Tamara lagi-lagi melempar sang suami dengan bantal. "Mas ini lama-lama kok me sum ya, apa jangan-jangan titisan kakek sugi–"


"Tidak ada titis-titisan, karena laki-laki normal memang begini. Seperti Mas ini," potong Demian cepat. "Meskipun Mas ini tidak bisa memberikanmu keturunan," sambung Demian dan kini suasana yang tadi sempat berwarna di kamar itu, kini malah menjadi seperti mencengkram hanya karena kalimat Demian.


"Stop Mas, dan jangan pikirkan itu lagi karena aku ini sudah menerima Mas Demian apa adanya bukan karena ada apanya," kata Tamara yang tidak suka jika sang suami terus saja mengulangi kalimat yang itu-itu saja setiap kali mereka dalam mode serius maupun bercanda. Di saat dirinya benar-benar sudah bisa menerima Demian. "Aku minta dan mohon dengan sangat, jangan ulangi kata-kata itu lagi. Karena aku tidak suka mendengarnya Mas, yang terpenting bagiku Mas dan aku bisa saling melengkapi kekurangan itu satu sama lain."


Demian yang mendengar itu langsung saja memeluk tubuh Tamara, sebab laki-laki itu merasa bahwa dirinya tidak pernah salah dalam memilih pendamping hidup. Lihatlah sekarang wanita yang telah berhasil ia nikahi itu begitu sangat menyayangi serta mencintai dirinya. Sehingga kekurangan pada dirinya tidak menjadi tolak ukur Tamara ingin meninggalkan dirinya.

__ADS_1


Sehingga membuat Demian tidak pernah berhenti mengucapkan kata syukur karena Tuhan yang telah mengirimkannya istri seperti Tamara, wanita yang berhati mulia karena dapat menerima dirinya.


Namun, Demian tidak tahu saja kalau satu masalah selesai. Belum tentu masalah yang lain ikut selesai juga. Karena di depan saja masih banyak sekali ujian yang akan pasangan suami istri itu lewati.


"Mas, aku sangat tulus mencintaimu. Itu artinya aku harus siap menerima setiap kekurangan bahkan kelebihan pada diri Mas." Meskipun Tamara tidak tahu bahwa Demian akan menerima kenyataan atau tidak, bahwa tentang dirinya yang saat ini sedang hamil. Dan tentu saja benih itu adalah anak orang lain.


"Terima kasih, terima kasih Sayang, karena kamu sudah menerima Mas dengan tangan yang terbuka sangat lebar," ucap Demian bersungguh-sungguh.


"Seharusnya memang begitu Mas, bukan karena kekurangan pada pasangan lalu kita memilih untuk meninggalkan, itu sama sekali tidak dibenarkan." Dengan bibir yang terukir senyum indah. Tamara membalas pelukan sang suami.


"Mas Demian, maafkan aku karena aku tidak berani mengatakan yang sebenarnya dimana aku ini sedang hamil. Tapi Mas tenang saja aku akan menggugurkan kandungan ini sebelum perutku ini membesar," batin Tamara, yang rupanya masih saja terus berniat ingin mele nyapkan bayi yang tidak berdosa itu. "Bukan maksudku menyembunyikan hal besar seperti ini dari Mas, andai saja aku tidak mau Mas beranggapan kalau aku ini wanita yang tidak benar," sambung wanita ity membatin.


***


Saat sudah bersiap-siap dan tinggal berangkat ke toko. Namun, tiba-tiba saja saat akan menuruni anak tangga Tamara terlihat memegang kepalanya karena mungkin saja kepala wanita itu terasa pusing.


"Mas, kepalaku kok tiba-tiba saja berdenyut nyeri," kata Tamara yang berpegangan pada lengan sang suami.


"Sayang, apa kamu sakit?" Demian meraba kening Tamara. "Astaga, sangat panas sekali, ayo Sayang lebih baik kita kembali saja lagi ke kamar. Biar kamu bisa beristirahat. Dan biarkan saja Susi yang mengurus barang baru yang datang hari ini di toko," ucap Demian yang sekarang terlihat menuntun istrinya untuk kembali lagi masuk ke dalam kamar mereka. "Kenapa bisa begini? Padahal tadi kamu baik-baik saja Sayang, tapi sekarang kenapa suhu badan kamu sangat cepat sekali berubah?" Sambil terus saja menuntun Tamara masuk ke dalam kamar. Raut wajah Demian nampak terlihat sangat panik sekali.


"Mas panggilkan Dokter Ikram ya, biar bisa tahu kalau kamu sakit apa sayang," kata Demian lembut.


Tamara yang takut ketahuan kalau dirinya tengah mengandung dengan sangat cepat menggeleng kuat.


"Tidak usah Mas, mungkin saja aku hanya kecapekan. Dan itu artinya Mas jangan mengkhawatirkan keadaanku," tipal Tamara menolak jika sang suami mau memanggil dokter untuk memeriksa dirinya. "Mungkin aku hanya perlu istirahat dengan cara memejamkan mata ini saja, Mas," sambung Tamara sambil memaksakan bibirnya untuk tetap tersenyum meskipun kepala wanita itu semakin terasa nyeri dan suhu badannya juga sepertinya semakin panas.


"Tidak bisa Sayang, sekarang Mas merasa dahi dan badan kamu semakin panas, pokoknya kamu berbaring saja. Biar Mas yang akan menghubungi Dokter Ikram biar biasa memeriksa kamu." Meski sang istri menolak Demian tidak peduli akan hal itu, yang terpenting bagi laki-laki itu ia harus memanggil dokter kepercayaan keluarganya.


"Mas, tidak usah."


"Sayang, tidak apa-apa. Kamu tunggu Mas sebentar di sini," ucap Demian sambil membantu Tamara untuk berbaring. "Percaya sama Mas, tidak akan ada yang terjadi, meskipun Dokter Ikram memeriksamu, Sayang." Tidak lama setelah Demian mengatakan itu terlihat ia langsung saja keluar dari dalam kamar begitu saja.

__ADS_1


"Bagaimana jika Dokter Ikram tahu kalau aku ini sedang hamil? Ini sangat mengancam ketenangan jiwa dan ragaku. Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Jika hari ini semua akan terbongkar tentang aku yang hamil ini. Pokoknya Mas Demian tidak boleh tahu akan hal itu," gumam Tamara pelan.


Dan kini rasa takut itu mulai merasuki relung hati Tamara. Takut jika Demian tahu tentang rahasia yang ia sembunyikan pada laki-laki itu.


***


Dokter Ikram terlihat mengerutkan dahi, di saat laki-laki itu sedang memeriksa Tamara.


"Sudah telat datang bulan beberapa minggu, Nyonya?" tanya Ikram sesaat setelah tadi ia selesai mengecek suhu tubuh wanita hamil itu.


Tamara menggeleng. "Saya selalu datang bulan Dok, dan itu artinya saya tidak pernah telat," jawab Tamara berbohong. Karena wanita itu pikir kalau Ikram bisa saja dibohongi karena dokter itu bukan dokter kandungan. Membuat Tamara harus berusaha meyakinkan Ikram tentang dirinya yang tidak pernah telat datang bulan.


Namun, tanpa Tamara tahu rupanya istri dokter itu adalah Tasya, dokter obgyn yang memeriksanya pada waktu itu di rumah sakit.


"Nyonya, Anda tidak sedang membohongi saya 'kan?" Ikram, sang dokter itu sepertinya tahu sesuatu oleh sebab itu ia menanyakan hal itu pada Tamara.


"Dokter, buat apa saya harus berbohong pada Anda. Karena saya saat ini benar-benar berkata jujur, bahwa saya sama sekali tidak pernah telat datang bulan." Meski hati Tamara merasa tidak karuan namun, wanita itu sebisa mungkin akan berusaha terlihat tetap tenang. "Sekarang Dokter tuliskan saja resep obat , pereda nyeri pada kepala saya ini biar saya bisa langsung meminumnya saat ini juga."


"Nyonya apa Anda tahu kalau saat ini Nyonya sedang hamil?"


Mendengar itu Tamara mencengkram seprai dengan sangat erat, karena wanita itu tidak pernah menduga dan menyangka kalau dokter itu akan bisa bertanya begitu pada dirinya.


"Ha-hamil, mana bisa saya hamil di saat saya setiap bulan datang bulan." Tamara tidak mungkin mengatakan kalau sang suami juga mandul.


Ikram semakin dibuat heran dengan kalimat Tamara. Karena dokter itu yakin kalau dugaannya tidak mungkin akan salah. "Nyonya, dari hasil pemeriksaan saya, kalau Nyonya Ara ini sedang hamil. Masa iya, dugaan saya kali ini meleset."


"Mungkin saja meleset Dokter," timpal Tamara


"Tidak mungkin, karena dugaan saya selama ini tidak pernah melesat, Nyonya." Ikram terlihat mengeluarkan tastpack dari dalam tasnya. "Coba Nyonya pakai ini saja, demi membuktikan ini semua," sambung Ikram.


Tamara menggeleng dengan sangat kuat, karena wanita itu kali ini benar-benar sangat takut.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2