Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Bab 101


__ADS_3

Kinanti kali ini benar-benar sangat marah pada menantunya karena di pagi ini wanita paruh baya itu malah dikejutkan oleh kabar yang hampir saja membuat jantungnya berhenti berdetak.


"Sekarang apa yang Ibu takutkan pada akhirnya terjadi juga!" teriak Kinanti yang sekarang malah terlihat menatap Demian dan Liana secara bergantian, ketika pasangan suami dan istri itu sedang sarapan bersama seperti saat ini.


"Bu, aku sama Mas Demian lagi sarapan. Bisa tidak sehari saja jangan teriak-teriak mulu, lama-lama nih telinga bisa saja menjadi budek." Liana melepas sendoknya, karena tiba-tiba saja nafsu makannya di pagi yang sangat cerah ini malah mendadak menjadi hilang. "Pekerjaan Ibu setiap hari marah-marah terus, ngomel-ngomel terus lama-lama malah aku menjadi bosan tinggal seatap begini terus bersama Ibu." Liana terlihat akan berdiri tapi Demian malah menarik tangan wanita itu. "Lapas Mas, aku selama ini sudah sangat muak mendengar ocehan Ibu. Jadi, hari ini jika mulutku ini lancang maka itu sendiri atas perbuatan Ibu."


"Jaga mulutmu Liana, Ibu teriak-teriak tidak jelas itu karena suami kamu yang bo doh ini!" Kinanti menunjuk Demian. "Lihat berita, lihat juga koran supaya kamu tahu kalau perusahaannya benar-benar sudah bangkrut, dan itu artinya sebentar lagi perusahaan kita." Kinanti langsung saja merasa bahwa usahanya selama ini yang ingin menguasai harta warisan Tamara malah menjadi sia-sia. "Kita akan menjadi miskin!" teriak wanita paruh baya itu sambil melempar koran ke arah Demian.


"Bu, kita bisa kan, bicarakan ini baik-baik tanpa harus ada keributan seperti ini, karena apa yang dikatakan oleh Liana tadi ada benarnya juga." Demian pada akhirnya berani membuka suara, meskipun saat ini laki-laki itu yang telah tersangka menjadi penyebab kebangkrutan perusahaannya sendiri.

__ADS_1


"Rupanya kamu sudah berani membuka mulut busukmu, Demian. Dasar menantu yang sangat kurang ajar! Dan tidak tahu diri, bukannya mencari solusi tapi mulutmu malah enteng mengatakan itu semua."


"Sudah Mas, jangan kayani Ibu, lebih baik kita kemasi barang-barang kita dan segera pergi dari sini." Liana menarik tangan Demian supaya laki-laki itu mau berdiri saat ini juga. "Ayo Mas, kita jangan tinggal lagi bersama orang tua yang perhitungannya luar biasa. Sampai-sampai dia lupa bahwa sekarang umurnya sudah tidak muda lagi." Liana terus saja menyuruh Demian untuk berdiri.


"Tidak baik, ibu Kinan tetap adalah ibumu mau sebur–"


"Setelah semuanya menjadi begini, kamu malah mau pergi meninggalkan Ibu, dimana letak otakmu itu, Liana?" Kinanti melihat Liana yang sekarang malah menaiki anak tangga. "Pokoknya Ibu tidak akan membiarkanmu pergi dari rumah ini!" seru Kinanti saat Liana sudah sampai di tengah-tengah anak tangga. "Ibu memberikan apa yang kamu mau, tapi apa beginikah balasanmu pada Ibu? Jawan Ibu Liana!"


Liana terlihat biasa saja, meskipun saat ini sang ibu memang terus-terusan selalu saja menjerit bahkan berteriak..

__ADS_1


Sedangkan Demian terlihat hanya bisa menunduk saja, karena saat ini laki-laki itu tidak tahu harus berkata apalagi di saat semuanya sekarang sudah mulai akan berantakan. Sebab Demian sudah tahu kalau lambat laun pasti harta warisan yang Kinanti rebut dari tangan Tamara dengan cara yang licik pasti tidak akan pernah bertahan lama, lihat buktinya sekarang sudah terlihat dengan sangat jelas. Dimana harta warisan itu sebentar lagi akan ludes.


"Kamu harus tanggung jawab Demian, kembalikan harta yang selama ini sudah susah payah aku jaga. Tapi kenapa, kenapa kamu sama sekali tidak memikirkan semua itu?" Kinanti merasa bahwa ini adalah kesempatan masnya, yang malah akan memarahi sang menantunya itu secara terang-terangan, di saat Liana saat ini masih saja belum turun lagi setelah tadi wanita itu sempat membela Demian.


"Aku tidak pernah merasa bersalah Bu. Jadi, untuk apa aku harus bertanggung jawab seperti yang Ibu minta."


"Tidak tahu malu sekali kamu Demian, disaat perusahaanku akan ikut terkena imbas, padahal yang bersalah itu adalah kamu Demian, kamu laki-laki yang hanya modal tampang!"


"Terserah ibu saja yang mau mengatakan apapun, karena aku juga merasa bahwa sebaiknya Ibu Kinan jatuh miskin saja supaya baik. Bukan malah seperti ini semakin tua malah semakin cerewet dan juga." Demian baru pertama kali malah mengatakan itu semua pada ibu mertuanya itu.

__ADS_1


__ADS_2