Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Bab 102


__ADS_3

Tepat ketika Demian dan Liana akan keluar dari rumah itu, tiba-tiba saja beberapa petugas yang bersedia menyinta semua harta milik Kinanti hasil rampasan wanita paruh baya itu. Sekarang sudah terlihat berdiri di teras depan rumah itu.


"Permisi, apa Nyonya Kinan ada di dalam?" tanya laki-laki yang menggunakan setelan jas yang sangat rapi itu, yang sepertinya adalah ketua petugas yang akan mengambil harta Kinanti.


"Maaf Bapak siapa?" Liana malah balik bertanya karena wanita itu saat ini sangat penasaran dengan petugas itu.


"Kami dari pihak bank, sudah siap akan menyinta rumah ini karena prusahan Nyonya Kinanti sudah berhutang banyak pada kami, dan kami rasa beliau tidak akan sanggup melunasi hutangnya oleh sebab itu, kami datang kesini mau mengambil tempat tinggalnya ini sebagai jaminan." Ronal dengan sangat tegas menjawab pertanyaan Liana. "Jadi, apa barang-barang di dalam sudah di kosongkan? Kalau belum biar kami bantu."


Liana dan Demian yang mendengar itu lansung saja diam membisu sambil saling pandang, karena pasangan suami istri itu tidak percaya dengan apa yang saat ini mereka dengar. Sehingga membuat mereka tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.


"Nona, apa sudah boleh kami masuk?" tanya Ronal yang melihat dua pasangan suami dan istri itu hanya diam saja.


"Hei, kutang ajar kalian!" Kinanti yang baru saja keluar karena wanita paruh baya itu sudah mendapat telepon dari anak buahnya, yang mengatakan kalau perusahaannya juga sudah bangkrut. "Ini rumahku, jangan coba-coba kalian malah mau mengambilnya!" Kinanti berkecak pinggang. "Pergi kalian!" Sekarang Kinanti malah terdengar mengusir orang-orang yang jumlahnya sekitar ada 6 orang.

__ADS_1


"Kami harus menyinta rumah ini Nyonya, dan ini suratnya." Ronal tetlihat memberikan Kinanti selembar kertas.


Namun, wanita paruh baya itu terlihat malah menyobek serta menginjak-nginjaknya. Saking kesalnya seorang Kinanti.


"Jangan ambil rumahku! Jangan ambil!" Kinanti membentangkan tangannya, karena ia ingin menghalangi orang-orang itu untuk jangan masuk kedalam rumahitu. "Kalian semua jangan pernah masuk!" Saat Kinanti terus saja berteriak tiba-tiba saja dada wanita paruh baya itu terasa sangat sakit. Sehingga membuatnya langsung saja terdiam dan hampir saja tersungkur ke lantai jika saja Liana tidak segera menahan tubuh sang ibu.


"Mas, tolong aku sepertinya saat ini ibu sedang sakit," kata Liana yang terlihat sangat panik. "Mas tolong aku!" seru wanita itu saat melihat Demian hanya diam saja, ditambah Kinanti yang saat ini terlihat hampir saja memejamkan mata.


Sedangkan Demian, langsung saja berjongkok membantu Liana karena laki-laki itu masih sedikit memiliki rasa kasihan pada wanita paruh baya alias ibu mertuanya, yang sangat sering sering kali memarahinya itu.


"Sudah berapa lama Nyonya Kinanti merasakan sakit di bagian da danya?" tanya Dokter yang saat ini sudah memeriksa Kinanti.


"Saya tidak tahu Dok," jawab Liana jujur.

__ADS_1


"Apa Anda benar-benar tidak tahu?"


"Iya, saya tidak tahu. Dokter tinggal kasih tahu saya saja penyakit apa yang Ibu saya derita, janhan malah buat saya penasaran begini!" ketus Liana yang kali ini menjawab dokter itu.


Dokter itu langsung saja mengangguk tanda mengerti. "Begini Nona, Nyonya Kinan mengidap penyakit jantung," kata dokter itu dengan berat hati memberitahu Liana. "Saya sangat berharap setelah saya memberitahu Anda tentang ini, tolong jangan buat Nyonya Kinan mendengar berita yang tidak mengenakkan di hati karena jika itu terus-terusan terjadi maka dapat di pastikan kalau penyakit jantungnya akan terus kambuh, dan bisa saja membahayakan nyawanya," sambung dokter itu.


"Dokter jangan bercanda, mana mungkin Ibu saya memiliki penyakit jantung." Liana rupaya belum percaya, meskipun dokter itu tadi sudah menjelaskannya sangat panjang lebar. "Pokoknya saya tidak percaya, karena selama ini yang saya tahu bahwa Ibu saya tidak memiliki penyakit." Liana mengulagi kalimatnya hanya untuk memperjelas apa yang tadi wanita itu katakan.


"Silahkan Nona baca saja kalau tidak percaya." Dokter itu terlihat menyerahkan selembar kertas hasil pemeriksaannya yang tadi pada Kinanti. "Ayo Nona bisa baca dan lihat sendiri."


Liana bukannya melihat kertas itu, ia rupanya lebih memilih untuk berdiri. "Tidak usah Dok, saya percaya dan terima masih sudah bersedia menolong Ibu saya tadi."


Dokter itu mengangguk sambil tersenyum dengan sangat manis. "Sama-sama Nona, Anda jangan lupa untuk menebus obat Nyonya Kinan karena beliau sangat membutuhkan obat itu."

__ADS_1


"Iya, saya akan segera menebus obat itu," timpal Liana yang kemudian keluar dari ruangan dokter itu dengan perasaan yang tidak karuan. "Bisa-bisanya Ibu sakit disaat sudah bangrut begini," gumam Liana pelan sambil terus saja melangkahkan kakinya.


__ADS_2