
"Papa harap kamu bisa memaklumi keadaan adik kamu yang sekarang, Ara. Dan Papa juga minta sama kamu untuk selalu mengalah padanya, karena Papa tidak mau gara-gara ini hubungan Papa dan ibu kamu akan menjadi renggang. Apa sampai di sini kamu sudah paham Ara, dengan kalimat yang Papa sampaikan ini?"
"Apa Papa tidak memikirkan kalau aku ini hampir saja menjadi korban juga?" Tamara malah bertanya balik pada sang ayah. "Apa Papa melupakan itu?" Tamara menatap Herdi, laki-laki yang rambutnya sudah mulai memutih itu.
Tamara merasa jika sang ayah selalu saja lebih peduli dengan Liana, dan lihatlah sekarang memang benar Herdi lebih memperdulikan perasaan anak tiri dan wanita yang sudah menggantikan posisi ibu kandung Tamara itu. Yaitu Kinanti sang ibu tiri yang sikapnya belakangan ini sudah mulai berubah pada wanita yang saat ini masih betah menatap sang ayah.
"Hampir saja Ara, itu artinya tidak terjadi 'kan? Dan sekarang kamu baik-baik saja. Sedangkan adik kamu Liana, dia sekarang pasti sangat trauma dan kamu sudah tahu seseorang yang mengalami trauma sangat sulit sekali untuk disembuhkan, supaya mentalnya kembali seperti sedia kala," ucap Herdi panjang lebar. Karena saat ini pria itu memang benar-benar membela Liana secara terang-terangan dibandingkan berusaha menenangkan putri kandungnya sendiri.
Membuat Tamara tidak menanggapi, ia lebih memilih untuk diam dan tidak mau mengatakan apapun lagi. Karena bagi wanita itu percuma ia menjelaskan semuanya pada ayahnya sendiri. Jika ujung-ujungnya wanita itu disuruh mengalah dan tentu saja ia yang selalu disalahkan atas kejadian ini.
"Kamu anak Papa Ara, begitupun dengan Liana dia anak Papa juga. Selama ini Papa tidak pernah membanding-bandingkan kalian. Jadi, Papa mohon untuk kali ini saja jangan pernah datang ke sini lagi untuk menemui adik kamu sebelum pikirannya dan keadaannya kembali pulih seperti sedia kala," kata Herdi yang rupanya benar-benar lebih membela anak tirinya. "Pulang ya, Papa antar. Dan seperti kata Papa yang tadi jangan pernah datang lagi ke sini," sambung Herdi mengulangi kalimatnya.
Tamara langsung saja tersenyum getir, karena wanita itu tidak pernah menyangka kalau laki-laki yang menjadi cinta pertamanya yaitu sang ayah malah membuat dirinya merasa kalau kehadirannya memang tidak diinginkan lagi.
Semejak kejadin Liana bercerai dengan Demain bahkan sampai kejadian ini Herdi malah dengan teganya mengatakan itu semua pada putri kandungnya sendiri. Seolah-olah Herdi sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan seorang Tamara.
"Aku datang kesini dengan niat baik, tapi Papa ...." Tamara menjeda kalimatnya. "Papa malah sama saja seperti ibu dan Liana yang mengusirku dari rumah sakit ini secara terang-terangan. Di saat niatku datang kesini untuk sekedar melihat keadaan Liana. Tapi ... ya sudahlah, percuma saja aku juga berbicara panjang lebar jika respon Papa terlihat biasa saja."
"Jangan cari masalah Ara, Papa menyuruhmu pulang biar keadaan adik kamu cepat pulih bukan karena apa-apa. Tapi kamu malah beranggapan lain," timpal Herdi sambil terdengar mendesis beberapa kali. "Jangan pernah tiru sikap egois, keras kepala Mama kamu Ara, cukup kamu dengarkan Papa. Dengan cara begitu maka hubungan keluarga kita akan baik-baik saja. Kamu percayalah sama Papa."
__ADS_1
Tamara berdiri karena wanita itu merasa bahwa datang ke rumah sakit hanya akan membuat keadaan suasana hatinya akan menjadi kacau balau seperti ini.
"Baiklah, aku akan pulang dan tidak akan pernah datang ke rumah sakit bahkan ke rumah Papa. Jika diriku ini bagi kalian hanya benalu dan pembawa s*al," ucap Tamara dengan suara yang penuh penekanan. "Aku pamit Pa, kalau ada apa-apa kasih tau saja Mas Demian saja. Karena nanti kalau Papa kasih tahu aku, takutnya aku ini malah akan membawa kata s*al lagi bagi kalian." Tamara merasa dadanya sangat sesak ketika ia mengatakan itu pada sang ayah.
"Ara, bukan begitu maksud Papa. Kamu jangan salah paham dulu," ucap Herdi yang tiba-tiba saja merasa kalau seharusnya dirinya tidak menyakiti hati putrinya. "Papa cuma menyuruh kamu un–"
"Aku sudah paham, Pa. Oleh sebab itu, jangan khawatirkan tentang hal apapun lagi, termasuk tentang putri Papa ini," potong Tamara cepat.
"Ara, jangan katakan apapun lagi. Ini demi kebaikan kamu dan juga Liana." Herdi tidak tahu saja apa yang ia katakan saat ini malah semakin membuat putrinya merasa kalau Herdi benar-benar lebih sayang pada Liana.
Tamara hanya bisa menghela nafas, dan memilih untuk segera pergi dari rumah sakit itu. Karena ia tidak bisa terus-terusan berada di sana maka dapat dipastikan dirinya akan hilang kendali dan mengeluarkan semua unek-uneknya seperti yang waktu itu.
***
"Nyonya Ara ...."
Tamara yang di panggil terus saja berjalan karena wanita itu pikir bahwa indra pendengarannya saat ini sedang bermasalah. Sebab tidak mungkin ada yang mengenal dirinya di rumah sakit itu. Apalagi suara wanita yang memanggilnya itu sangat asing sekali di telinganya.
"Nyonya Ara, apa kabar?"
__ADS_1
Tepat ketika suara seorang wanita itu semakin terdengar sangat jelas, Tamara memilih untuk menghentikan langkah kakinya dan segera menoleh ke arah belakang.
"Dokter Tasya, sedang apa Anda di sini?" Tamara langsung saja berbicara ketika ia malah melihat dokter yang waktu itu memeriksa dirinya.
"Anda sendiri sedang apa Nyonya Ara?" Tasya bertanya balik pada wanita itu. "Apa janin Anda baik-baik saja 'kan?" Raut wajah Tasya tampak panik ketika dokter itu sekarang malah terdengar menanyakan tentang kecebong yang ada di dalam perut Tamara.
Tamara yang ditanya mengangguk dengan cepat. "Bayiku baik-baik saja Dok, dan saya kesini hanya menjenguk salah satu kerabat saya yang di rawat di sini," jawab Tamara sambil wanita itu terlihat tersenyum dengan sangat ramah.
"Syukurlah kalau bayi Anda baik-baik saja Nyonya. Tadi saya pikir Anda datang kesini karena Anda mau memeriksa keadaan janin Anda."
"Dokter tenang saja dia baik-baik kok di dalam perut saya," timpal Tamara supaya Tasya semakin percaya pada dirinya.
Dokter kandungan itu terlihat mengangguk-ngangguk sambil bertanya, "Oh ya, apa Nyonya Ara tidak merasa mual lagi?"
"Sudah tidak, Dok," jawab Tamara yang tidak tahu kalau dari tadi Demian sudah berdiri dari tadi di belakangnya.
"Nyonya Tamara harus ingat kalau setiap bulan harus datang ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan Anda, supaya nanti kalau bayi Anda lahir dia sehat-sehat tanpa kekurangan satu apapun."
"Bayi siapa?" Tiba-tiba saja suara Demian terdengar bertanya setelah tadi laki-laki itu merasa sangat penasaran dengan percakapan sang istri dan Tasya, seorang dokter kandungan yang ternyata adalah teman laki-laki itu.
__ADS_1
...****************...