
Semakin Demian mengerjapkan matanya beberapa kali. Maka semakin terlihat jelas kalau Liana laki-laki itu lihat seperti Tamara. Membuat Demian tanpa pikir panjang langsung saja terburu-buru manghampiri wanita yang sedang hamil sangat seksi itu.
"Tamara, Sayang, kenapa ada di sini?" Suara Demian terdengar mendayu-dayu dengan suara yang sangat lembut. "Ayo kita masuk ke kamarmu, Sayang." Kini Demian berjongkok sambil menelan salivanya di saat Liana sengaja semakin menaikkan dreassnya pada pa hanya.
"Yes, rupanya obat pera ngsang itu memang benar memiliki efek halusinasi juga. Pokoknya kesempatan ini tidak boleh aku sia-siakan. Mas Demian malam ini akan bermalam bersama-ku. Dan itu artinya bayiku akan dijenguk oleh calon papanya." Liana membatin sambil tertawa puas.
Rupanya obat yang ditaburi oleh Axel tadi adalah obat pera ngsang. Dan juga obat itu dapat membuat orang yang mengkonsumsinya akan menjadi berhalusinasi. Seperti yang dialami oleh Demian saat ini.
__ADS_1
"Sayang, boleh aku gendong?" bisik Demian lembut sambil menyingkirkan beberapa anak rambut Liana.
"Hm, Mas, aku bisa sendiri," timpal Liana sambil meraba dada bidang sang suami. Sebab wanita itu tahu tongkat sakti milik Demian saat ini pasti sedang meronta-ronta ingin keluar dari sarangnya. "Aku bisa sendiri, Mas," ucap Liana mengulangi kalimatnya dan sekarang tangan nakal wanita itu malah meraba sampai ke bawah pusar Demian. "Bawa aku ke dalam kamar Mas saja, karena di sana sepertinya sangat nyaman untuk kita ...." Liana sengaja menjeda kalimatnya.
Tiba-tiba saja Demian malah berkata, "Sayang, biar Mas gendong." Ia yang juga sudah merasa panas di sekujur tubuhnya dengan segera menggendong Liana. Dan laki-laki itu juga terlihat membawa Liana ke arah kamarnya. Sesuai yang tadi wanita hamil itu katakan.
"Mas juga sangat-sangat mencintaimu, Sayang. Tidak ada wanita lain di dunia ini yang akan bisa menggantikan kamu di dalam hati ini." Demian dengan penuh rasa sayang langsung saja menautkan bibir mereka supaya pertukaran jigong itu berjalan dengan lancar. Bukan cuma itu Demian terlihat berhenti sejenak di ambang pintu kamarnya sebelum ia masuk ke dalam dengan posisi yang masih sama yaitu me lu mat bibir Liana dengan rakus.
__ADS_1
"Sesuai dengan apa yang aku inginkan. Yes! Cemburu dan sakit hati dua kata itu akan menjadi sebagai temanmu, Ara. Aku pastikan itu," gumam Liana di dalam benaknya yang sekarang sudah masuk ke dalam kamar Demian. Laki-laki yang selama ini ia incar-incar burungnya. Dan tepat malam ini burung itu akan muntah semuntah-muntahnya karena obat pera ngsang itu. Sehingga akan membuat rahim Liana akan hangat.
Sedangkan di balik tembok, Tamara menutup mulutnya sendiri dengan air mata yang sudah menetes sendari tadi. Membasahi pipi mulusnya.
Kecewa, sedih, dan marah kini lagi-lagi harus bercampur aduk menjadi satu. Tamara tidak percaya bahwa Demian akan mengungkapkan perasaannya pada Liana.
"Jahat dan tega kamu Mas," ucap Tamara lirih. Sambil membayangkan apa yang telah terjadi dengan Demian dan Liana di dalam kamar yang warna pintunya coklat bercorak putih itu. "Beberapa jam yang lalu, Mas bilang sedang pusing. Lalu kenapa sekarang, Mas malah melakukan itu semua dengan Liana? Apa aku ini kurang menarik di mata Mas?" Tamara lalu terlihat menuruni anak tangga dengan cara terburu-buru. Karena entah kemana tujuannya saat ini.
__ADS_1