Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Di Nyatakan Buta


__ADS_3

"Bertahanlah Her, semua akan baik-baik saja," kata Tami saat melihat Hero, tangan kanan Bara sedang berjuang antara mati dan hidup. Karena rupanya Hero tertembak tepat di sebelah jantung laki-laki itu. "Bertahan demi Bara, karena saat ini Bara juga sedang berjuang," sambung Tami berbisik di telinga Hero.


Hero hanya bisa mengangguk sambil menahan rasa sakit yang teramat sakit, membuat laki-laki itu tidak banyak merespon di tambah saat ini sepertinya Hero dalam keadaan setengah sadar.


"Her, kamu harus bertahan!" seru Tami saat Hero sudah masuk ke dalam ruangan operasi. "Hero bertahanlah demi Bara!"


"Maaf, Nyonya bisa tunggu di luar ruangan operasi ini. Karena Anda tidak bisa ikut masuk ke dalam," ucap salah satu suster yang menahan Tami supaya tidak ikut masuk.


"Tolong selamatkan dia, Sus, saya mohon selamatkan dia." Lirih Tami yang merasa sangat bersalah karena gara-gara dirinya Hero menjadi begini. Membuat wanita itu terus saja menangis meskipun saat ini lengannya juga sedang terluka karena goresan pisau, yang disebabkan oleh Demian.


"Anda tenang saja Nyonya, biarkan para Dokter di dalam melakukan tugas mereka dan tugas Anda hanya perlu berdoa untuk keselamatan laki-laki yang tadi." Setelah mengatakan itu. Suster itu terlihat menutup pintu ruangan operasi itu.


"Ya Tuhan, selamatkan orang-orang baik yang telah menolongku," gumam Tami pelan sambil berlutut di depan ruangan itu, dan tanpa wanita itu sadari Burhan, sang suami saat ini sedang berlari ke arahnya.


"Ma," panggil Burhan sambil terus saja berlari.


Sedangkan Tami yang mendengar suara Burhan langsung saja menoleh dengan air mata yang semakin deras mengalir.


"Mama, apa kamu baik-baik saja?" tanya Burhan dengan nafas ngos-ngosan.

__ADS_1


"Pa, Hero, dia ada di dalam." Tami tidak bisa membayangkan jika suatu hal buruk akan terjadi pada Hero, yang ternyata Hero itu adalah anak dari Burhan, suami yang sekarang sedang memeluk tubuh wanita itu dengan sangat erat.


"Hero akan baik-baik saja, mama tenang saja. Dia anak yang hebat dan kuat." Burhan berusaha meyakinkan istrinya. Meskipun laki-laki itu tidak yakin kalau putranya itu akan bisa di selamatkan.


"Dia harus selamat Mas, biar Mas bisa memberitahunya kalau Mas itu adalah ayahnya." Di sela-sela isak tangisnya Tami masih saja bisa mengatakan itu pada Burhan.


Burhan tidak menimpali, karena laki-laki itu memilih untuk membawa Tami ke dalam pelukannya, dan tidak lama laki-laki itu sadar kalau istrinya juga sedang terluka.


"Astaga, mama juga terluka." Panik itu yang Burhan rasakan saat ini. "Ayo, luka mama juga harus segera diobati jangan sampai menjadi infeksi itu bahaya." Saat Burhan mengatakan itu tiba-tiba saja penglihatan Tami malah menjadi buram.


"Mas, pengelihataku kok malah jadi buram begini. Apa yang terjadi?" Tami mengucek-ngucek kedua matanya. "Mas, mataku kenapa?" Tami panik bukan main karena tiba-tiba saja penglihatan wanita itu malah menjadi gelap gulita.


"Ma, mama kenapa?" Burhan bertanya pada istrinya.


"Ayo mama harus segera diperiksa," ucap Burhan yang tadi sempat melambai-lambaikan tangannya pada wajah Tami. Namun, wanita iti sema sekali tidak berkedip membuat Burhan malah semakin panik.


"Mas, kamu di mana?" tanya Tami sekali lagi dan pada saat wanita itu masih saja meraba-raba. Burhan malah mengangkat tubuh wanita itu.


"Kita harus segera periksa mata mama, karena aku rasa ini semua ada yang tidak beres," kata Burhan yang merasa bahwa ini pasti adalah perbuatan Kinanti.

__ADS_1


"Aku tidak bisa melihat apa-apa, Mas." Tami lagi-lagi meraba wajah Burhan yang saat ini sedang menggendongnya.


***


"Apa mata istri saya tidak bisa disembuhkan, Dok?" tanya Burhan pada dokter yang tadi menangani Tami.


"Bisa Pak, tapi ...." Dokter itu sengaja menjeda kalimatnya.


"Tapi apa?"


"Membutuhkan waktu yang agak lama," jawab dokter itu sambil memberikan Burhan hasil pemeriksaan Tami pada laki-laki yang saat ini terlihat panik.


"Kira-kira apa Dokter tahu apa penyebab mata istri saya yang tiba-tiba buta?" Burhan bertanya karena ia merasa heran dengan mata sang istri yang dinyatakan buta. Padahal selama ini Tami tidak pernah mengeluh tentang mata wanita itu sakit.


"Sepertinya Nyonya Tami sering mengonsumsi pil yang dapat menyebabkan kebutaan, karena itu yang saya lihat dari hasil tes darahnya di laboratorium beberapa jam yang tadi." Dokter itu berkata jujur, ia sama sekali tidak menutupi apapun itu dari Burhan.


"Pil?" Burhan menyerngit heran.


"Iya Pak, apa Anda sudah pernah melihat Nyonya Tami meminum pil yang saya maksud?" Dokter itu malah bertanya balik pada Burhan.

__ADS_1


Burhan yang di tanya mencoba untuk mengingat-ngingat, pil apa yang pernah di konsumsi oleh Tami.


"Kalau Pak Burhan tidak keberatan, tolong pil itu bisa Bapak bawa ke sini untuk saya lihat," kata dokter itu saat melihat Burhan malah diam saja.


__ADS_2