
Hembusan angin yang bertiup sepoi-sepoi membuat Tamara yang sedang menatap pemandangan dari dalam kamar villa itu merasa hatinya yang belakangan ini selalu terasa sakit dan sesak kini merasa menjadi lebih mendingan dari sebelumnya. Meskipun wanita itu harus meminum obat penenang setiap kali bayangan orang-orang yang menyakitinya malah terngiang-ngiang di dalam ingatannya. Sehingga membuat Tamara tidak bisa jauh-jauh dari obat penenang itu.
Tamara juga sudah mulai bisa mengingat semuanya, membuat dirinya sekarang merasa bahwa dirinya ternyata masih punya tempat untuk berlindung meskipun wanita itu belum sepenuhnya percaya dan yakin pada sang ibu juga Bara, laki-laki yang belakangan ini terus saja mencoba untuk menghibur dirinya.
Namun, Tamara yang dihibur oleh Bara malah merespon laki-laki itu biasa saja, sebab wanita itu tidak mau sepenuhnya percaya pada siapapun karena ia merasa Demian dan Kinanti yang begitu sangat baik saja padanya bisa mengkhianatinya di belakang tanpa ada rasa kasihan sedikitpun pada dirinya.
"Mau jalan-jalan di sekitaran villa ini?" tanya Bara yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar Tamara, wanita yang masih saja terlihat menatap ke arah luar jendela. "Ara, apa kamu mau jalan-jalan di sekitar–"
"Tidak!" potong Tamara cepat. Karena entah mengapa wanita itu sekarang merasa kasihan pada Bara, karena laki-laki itu selama ini tidak pernah bosan dalam hal memberikannya motivasi untuk tetap bertahan hidup.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau. Aku temenin saja disini berhubung Tante Tami pergi dan Om Burhan untuk membeli stok di kulkas yang kebetulan sudah habis," ucap Bara memberitahu Tamara.
"Pergi, aku lebih suka sendiri seperti ini daripada harus berdua denganmu." Tanpa menoleh Tamara malah terdengar mengusir Bara. "Pergi Bara, jangan malah diam saja disana." Tamara rupanya tahu kalau laki-laki itu saat ini masih saja berdiri di ambang pintu, sambil menatap dirinya karena Tamara melihatnya dari pantulan kaca yang ada di depannya saat ini.
"Aku akan tetap menemanimu disini, tidak peduli seberapa banyak kali kamu mengusirku Ara, karena aku ini adalah laki-laki yang teguh dengan pendirian dan tidak akan pernah mundur di tengah jalan." Bara tersenyum simpul saat laki-laki itu mengatakan itu semua.
Tamara berbalik demi melihat Bara sambil berkata, "Jangan bicara apapun Bara, karena laki-laki di dunia ini sama saja." Sepertinya Tamara tahu maksud dari kalimat yang tadi Bara ucapkan. Oleh sebab itu ia malah mengatakan itu pada Bara.
__ADS_1
"Jika kau pikir semua laki-laki itu sama, mungkin Tante Tami tidak akan pernah menikah dengan Om Burhan." Bara malah mengambil contoh pada ibu kandung dari Tamara itu. "Bukan cuma Tante Tami, masih banyak lagi wanita diluaran sana yang malah menikah sebanyak dua kali bahkan lebih. Tapi mereka sama sekali tidak berpikiran tentang pemikiran kamu itu, Ara."
"Mereka ya mereka dan aku ya aku, jangan pernah samakan aku ini dengan mereka. Sebab apa yang mereka alami tidak aku alami dan begitu juga sebaliknya," kata Tamara yang sekarang memang tidak pernah meninggikan suaranya. Namun, wanita itu sekarang lebih banyak diam karena melamun jika tidak ada yang mengajaknya berbicara seperti ini.
Oleh sebab itu, Bara laki-laki itu sengaja untuk terus memancing Tamara supaya wanita itu mau berbicara hingga berkomunikasi dengannya seperti saat ini. Meskipun Tamara terkesan lebih cuek tidak seperti yang sebelumnya.
"Begitu juga denganku, Ara, mereka ya mereka. Aku ya begini apa adanya tulus dalam hal apapun itu, jika menyangkut dengan dirimu."
"Modal motivasi saja kau sudah berani mau menjadi suamiku," ucap Tamara tiba-tiba yang tahu kalau ternyata Bara ingin menjadikannya istri. "Sadar Bara, aku ini hanya seorang janda yang mentalnya saja kadang kumat kadang begini."
"Apakah kamu mengira itu semua penting bagiku, Ara? Kamu sangat salah besar, karena aku ini tulus lebih tulus dari laki-laki yang tidak punya malu itu. Sehingga aku tidak mempermasalahkan semuanya termasuk statusmu itu."
"Carilah wanita lain, jangan pernah mengharapkan wanita sepertiku," kata Tamara yang sekarang terlihat malah membiarkan Bara sendiri di kamar itu, sedangkan dirinya entah kemana ia akan pergi membawa kakinya untuk melangkah, karena ia merasa sudah mulai bosan jika dirinya terus-terusan ada di dalam kamar itu.
Bara terlihat bergegas langsung saja menyusul Tamara, karena laki-laki itu takut jika wanita itu malah akan nekat lagi. Mengingat kalau Tamara sampai sekarang masih saja sering ingin mengakhiri hidupnya sendiri.
"Ara, mau kemana?" tanya Bara yang mengikuti Tamara dari belakang.
__ADS_1
Tamara yang ditanya malah diam saja, karena wanita itu tidak berniat menjawab pertanyaan Bara. Sebab untuk kali ini wanita itu hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh hati kecilnya.
"Ara, menikahlah denganku. Sehingga kamu bisa merasakan bagaimana aku ini akan meratukan dirimu." Kalimat Bara malah mampu menghentikan langkah kaki Tamara. "Menikah denganku, biar aku ini bisa membuktikan setiap kalimat yang selama ini keluar dari mulutku, Ara." Bara tidak peduli meskipun wanita itu sudah sering kali menolaknya secara terang-terangan, karena Bara yakin jika hati wanita itu pasti akan bisa luluh lambat laun. Membuat Bara harus tetap berusaha keras untuk mendapatkan hati wanita itu.
"Pembual, pendusta, apalagi? Apa kau mau menambahkan kalimat untuk dirimu sendiri?" Tamara tersenyum getir saat ia bertanya begitu kepada Bara.
"Jika kamu mau bukti, maka bukti apa yang kamu mau?" Bara malah balik bertanya pada Tamara.
"Aku tidak pernah butuh bukti Bara, karena bagiku laki-laki sepertimu ini ujung-ujungnya malah akan menjadi seperti Demian, dimana dia membuangku seperti permen karet. Padahal kau sudah tahu sendiri aku dengannya sudah saling kenal sejak lama. Tapi apa itu semua tidak menjamin kesetiaannya padaku." Meski Tamara membenci Demian. Namun, di dalam hati kecilnya wanita itu merasa bahwa Demian melakukan itu semua pada dirinya pasti karena suatu hal.
"Jangan ingat tentang dia, karena itu hanya akan membuatmu merasa sakit Ara." Bara ingin meraih tangan Tamara. Namun, laki-laki itu mengurungkan niatnya sebab ia merasa takut jika saja Tamara malah akan menepis tangannya.
"Jika aku tidak ingat, maka dapat aku pastikan kalau diriku ini pasti akan mudah masuk ke dalam setiap kalimat rayuanmu itu Bara, sehingga membuatku wanita yang lemah ini sangat mudah juga di tipu oleh orang lain lagi. Termasuk dirimu Bara yang akan mau mempermainkanku."
"Jangan ulangi kalimat itu-itu saja Ara, karena aku sangat tidak suka mendengarnya. Cukup hanya Demian laki-laki mandul serta brengsek itu yang menyia-nyiakanmu, untuk diriku aku malah ingin menjadikanmu satu-satunya wanita yang ada di dalam hidupku ini." Bara sosok laki-laki yang tampan nan rupawan saja sama sekali tidak membuat rahim wanita itu bergetar. "Lagi pula Tante Tami juga sudah setuju kalau aku ini akan menjadi menantunya, tapi kamu malah tidak kunjung setuju dengan diriku ini yang mungkin saja di matamu aku hanya laki-laki yang ba ji ngan juga"
Tamara tidak tahu entah dari apa hati Bara terbuat, sehingga laki-laki itu malah tidak pernah menyerah. Meskipun respon Tamara selalu saja seperti itu, dimana wanita itu terkesan bodo amat.
__ADS_1
"Jangan usik ataupun ganggu relung hatiku yang sudah tenang ini." Tamara membuka suara setelah tadi sempat terdiam.
"Tidak akan pernah merasa tenang, jika hatimu masih saja mengukir indah nama laki-laki itu di dalam hatimu," timpal Bara.