
Di apartemen, saat Tamara baru saja akan memejamkan mata tiba-tiba saja terdengar suara pesan yang masuk ke dalam beda pipihnya.
Namun, Tamara terlihat malah mengabaikannya. Tapi detik berikutnya suara notif pesan masuk berulang-ulang kali membuat wanita itu dengan sangat terpaksa mengambil gawainya sambil melihat jam pada dinding tembok apartemen itu yang menunjukkan sudah pu kul 23.30.
"Sepertinya aku harus mengganti nomor ponselku, biar b*debah itu tidak terus terusan menggangguku seperti ini," gumam Tamara pelan. Sambil membuka isi pesan singkat yang ternyata Bara kirimkan untuknya. "Baru kali ini aku merasa ujian kali ini sangat lah berat, dan sepertinya aku tidak akan sanggup melewati semua ini sendirian," kata wanita itu.
Dan kini Tamara terlihat meletakkan kembali ponselnya di atas nakas, sesaat setelah wanita itu sudah menghapus semua pesan singkat Bara dan juga tidak lupa wanita itu memblokir nomor laki-laki yang sangat menyebalkan bagi dirinya itu.
"Semoga Mas Demian cepat kembali ke apartemen, karena jujur saja aku merasa sangat takut jika sendiri di sini," ucap Tamara yang rupanya di tinggal sendirian di apartemen oleh sang suami.
Karena Demian pergi ke kantor lagi untuk mengambil beberapa berkas dokumen yang laki-laki itu belum selesai di kerjakan.
"Aku merasa sangat ngantuk sekali, tapi kenapa mata ini malah enggan untuk terpejam?"
Ketika Tamara bertanya pada dirinya sendiri tiba-tiba saja ponselnya malah berdering. Namun, di karenakan tidak ada nama sang pemanggil di layar ponselnya itu, sehingga membuat wanita itu malah mengabaikannya seperti pesan singkat yang di kirim oleh Bara tadi.
"Hanya orang asing, dan mungkin saja salah sambung," ucap Tamara sambil membenarkan posisi tubuhnya. "Aku harus tidur, karena jam sudah menunjukkan hampir pu kul 12 malam."
__ADS_1
Akan tepapi, ketika mata Tamara tertutup, kini giliran bel pada apartemen itu yang terdengar berbunyi beberapa kali. Membuat Tamara langsung saja kembali membuka mata dan pada saat itu juga ia segera bagun serta turun dari atas ranjang. Ia juga terlihat bergegas menuju pintu apartemen itu, karena ia merasa bahwa yang datang memencet bel itu adalah sang suami.
"Mas Demian sudah kembali, aku harus membuka pintu untuknya," ucap Tamara dengan bibir yang terukir senyum indah.
*
"Mas Demian sudah pu–" Kalimat Tamara langsung saja menggantung di udara di saat melihat laki-laki yang saat ini berdiri di depan pintu apartemen itu bukanlah Demian melaikan laki-laki yang tadi ia abaikan pesan serta wanita itu blokir nomor ponselnya.
Senyum manis pada bibir Tamara juga langsung saja memudar. Tatkala wajah menyebalkan Bara malah tersenyum padanya.
"Kau!" Tamara menunjuk wajah Bara. "Mau apa kesisni? Dan dari mana kau tahu kalau aku ada di apartemen ini?" Tamara langsung saja melontarkan dua pertanyaan sekaligus pada Bara.
Tamara melipat tangannya di atas perutnya yang masih terlihat datar sambil menatap Bara dengan tatapan mata yang sinis.
"Pesan serta teleponanmu itu tidak penting bagiku, Bara. Dan justru malah membuatku merasa semakin muak padamu!" ketus Tamara menjawab laki-laki itu. "Aku juga sepertinya tidak punya banyak waktu untuk meladeni laki-laki seperimu," sambung Tamara yang ingin memencet tombol untuk menutup pintu apartemen itu.
Namun, dengan gerakan yang sangat cepat Bara terlihat malah menahan tangan wanita itu.
__ADS_1
"Ara, aku datang kesini hanya untuk menanyakan kabarmu dan calon bayi kita saja tidak lebih," ucap Bara yang terdengar membuka suara.
Tamara langsung saja menepis tangan Bara dengan sangat kasar. Di saat laki-laki itu terlihat malah memegang tangan wanita yang saat ini merasa dongkol itu.
"Lepas! Dan kau tidak perlu menanyakan bayi harammu ini, karena aku rasa itu tidak perlu!"
"Ara, ayolah kamu boleh saja membenciku asal kamu jangan pernah membenci bayi itu. Kasihanilah dia, karena bayi yang tidak bersalah itu tidak tahu apa-apa." Meski Tamara terkesan selalu saja berkata ketus dan sering kali membentaknya Bara masih saja terus berusaha bebicara lemah lembut pada wanita yang sekarang sedang mengandung darah dagingnya itu.
"Hentikan omong kosongmu, Bara!" teriak Tamara sambil celingak celinguk melihat kiri dan kanan. Hanya untuk sekedar memastikan bahwa tidak ada orang yang akan melihat serta mendengar suaranya saat ini. "Lebih baik kau pergi dari sini, sebelum Mas Demian kembali. Karena jika dia melihatmu ada di sini, dapat aku pastikan bahwa kau akan mendapat masalah besar."
"Aku hanya ingin memberikanku ini, Ara. Tolong di minum biar bayi kita sehat sebelum dia lahir nanti." Bara memberikan Tamara kresek yang berwarna putih dan terlihat isinya ada beberapa kotak susu ibu hamil serta vitamin lengkap dengan penambah darah. Seperti yang waktu itu Tasya berikan di rumah sakit pada Tamara.
"Apa-apaan ini, kau semakin gila!" bentak Tamara yang kemudian malah membuang kresek itu sehingga membut semua isinya tumbah dan berserakan di lantai. "Dasar laki-laki yang tidak waras! Kau pikir aku ini wanita yang seperti apa, Bara? Di saat aku ini istri orang, tapi kau malah mau menyuruhku membiarkan bayi haramu ini tetap hidup di dalam rahimku. Kau jangan pernah bermimpi!" Tamara kemudian tanpa ada rasa kasihan sedikitpun pada laki-laki itu, ia malah terlihat mengangkat tangannya dan langsung saja menampar Bara dengan sangat keras.
Plaakk!
...****************...
__ADS_1