Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Positip Hamil


__ADS_3

Ketika Tamara bangun, wanita itu begitu kaget saat melihat dirinya sedang berbaring di tempat tidur yang sangat asing bagi wanita itu


"Ada dimana aku sekarang ini?" Tamara mencoba melihat sekelilingnya. Berharap supaya ia mengenali tempat itu. Dan benar saja, pada detik berikutnya wanita itu sudah tahu kalau saat ini ia sedang berada di rumah sakit. "Astaga, ini 'kan, rumah sakit. Siapa yang sudah membawaku kesini?" Ketika Tamara masih saja merasa bingung dan bertanya pada dirinya sendiri.


Bara dan dokter yang tadi memeriksa Tamara tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan tempat wanita itu masih saja berbaring. Bara dan dokter itu juga terdengar berbicara dengan sangat serius. Sehingga mengusik wanita yang saat ini berbaring pada bed rumah sakit itu.


Dan pada saat itu juga Tamara langsung saja menoleh, ketika mendengar suara orang yang tidak asing pada indra pendengarannya. Mulai semakin sangat jelas.


"Bara." Tamara langsung saja memanggil laki-laki itu. "Apa kau yang membawaku ke sini?"


Bara dengan langkah terburu-buru mendekat ke arah bed wanita itu. Sebab laki-laki itu merasa sangat bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan pada wanita yang selama ini ia idam-idamkan itu, tepat pada satu bulan yang lalu.


"Ara, syukurlah kamu sudah sadar. Sekarang bagian mana yang masih terasa sakit?" tanya Bara sambil meraba kening Tamara.


Namun, Tamara yang merasa kalau Bara tidak pantas menyentuhnya dengan cepat menepis tangan laki-laki itu. Meskipun Bara hanya meraba keningnya saja, tapi bagi wanita itu bahwa Bara tidak pantas dan cocok melakukan itu semua pada dirinya di saat ia sudah memiliki suami bukan berstatus lajang lagi.


"Maaf Ara, aku hanya mau memastikan kalau suhu badan kamu tidak panas," ucap Bara dengan cepat.


Karena memang laki-laki itu sangat tahu betul bagaimana sifat serta karakter yang di miliki oleh Tamara. Oleh sebab itu, Bara langsung saja meminta maaf. Karena ia takut jika saja Tamara akan merasa tidak nyaman dan akan memilih menjauh darinya hanya gara-gara masalah sepele seperti ini.


Membuat Bara harus bisa menempatkan diri sebagai teman sekaligus pengagum rahasia Tamara. Yang selama ini selalu saja bersembunyi hanya untuk mengetahui bagaimana kabar wanita itu.


"Jadi, apa benar kalau kamu yang membawaku kesini?" Tamara tidak suka berbasa basi oleh sebab itu ia langsung saja bertanya.


"Iya, aku yang membawamu. Karena kebetulan ketika aku akan berbelanja di tokomu, aku malah mendengar suara Susi yang minta tolong. Dan aku yang merasa penasaran langsung saja masuk begitu saja serta mencari arah sumber suara, setelah itu aku menemukanmu yang sudah pingsan di dekat toilet. Aku yang takut terjadi apa-apa denganmu kemudian langsung saja membawamu ke rumah sakit ini," jawab Bara panjang lebar. Supaya Tamara tidak curiga padanya.

__ADS_1


Setelah mendengar itu Tamara mengangguk-ngangguk tanda mengerti. "Ya sudah, kalau begitu sekarang antar aku kembali ke toko saja. Karena aku merasa kalau aku ini hanya sedang kecapakan dan mungkin juga masuk angin," balas Tamara menimpali. Dan kini ia terlihat bangun dari tidurnya. "Dan untuk Dokter terima kasih karena Dokter sudah memeriksa saya," sambung Tamara yang sekarang beralih menatap dokter itu yang ada di belakang tubuh Bara.


"Ini sudah menjadi kewajiban saya Nyonya, jadi Anda tidak usah merasa sungkan dengan saya," timpal Tasya. Sang dokter.


"Hm, kalau boleh tahu, apa saya memiliki penyakit, Dok?"


Detik itu juga Tasya diam membisu karena ia tidak tahu harus menjawab apa sebab tadi Bara sudah memperingati dokter itu supaya tidak memberitahu Tamara yang sejujurnya.


"Dok, kenapa Anda malah diam?"


"Begini Nyonya, untuk memastikan apakah dugaan saya ini benar atau tidak. Maukah Anda mengeceknya melalui air urin Anda?" tanya Tasya dengan sedikit ragu. Karena ia juga tidak berani berbicara asal ceplas-ceplos saja, bisa-bisa Tamara akan langsung mengamuk karena dokter itu sudah mendengar penjelasan Bara tadi sebelum dokter itu masuk menemui Tamara.


Kalau Tamara adalah wanita yang moodnya kadang-kadang bisa berubah secepat kilat. Dan bo dohnya Tasya langsung saja percaya dengan kalimat dusta yang keluar dari bibir Bara.


"Air urin?


Tamara tidak langsung mengambil benda mungil dan tipis itu, karena ia merasa bahwa dirinya tidak perlu menggunakan itu.


"Untuk apa? Dan bukankah itu hanya untuk wanita yang tidak tahu dirinya kalau sedang hamil?" Tamara menyerngit tanda kalau wanita itu heran. "Sedangkan saya cuma mual dan merasa pusing. Jadi, saya pikir Dokter simpan saja kembali testpack itu."


"Nyonya coba saja dulu, karena jawabannya ada di benda ini," jawab Tasya tanpa mau memeberitahu Tamara. "Sekarang Anda boleh masuk ke kamar mandi Nyonya dan langsung saja lakukan apa yang tadi saya katakan."


"Saya tidak sedang hamil, Dok, jadi saya rasa ini tidak perlu," tolak Tamara sekali lagi. Karena meskipun wanita itu tidak pernah menggunkan alat itu. Tapi Tamara tahu testpack itu hanya digunakan untuk wanita yang ingin mengecek kehamilan saja.


"Anda coba saja Nyonya, jawabannya ada di sini," kata Tasya yang juga tidak mau kalah sehingga dokter itu mengulangi kalimatnya. Oleh sebab itu, dokter itu terus saja menyuruh Tamara untuk mengecek air urin.

__ADS_1


Lama terdiam, Tamara sepertinya terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dan pada akhirnya wanita itu terlihat turun dari atas bed serta mengambil testpack itu. Tamara juga tanpa berbicara lagi langsung saja berjalan ke arah kamar mandi. Karena Tamara hanya ingin membuktikan kalau dirinya tidak sedang hamil.


Sebab, Demian tidak pernah menanam benih pada rahimnya. Membuat Tamara mengikuti saja apa yang dokter Tasya itu perintahkan untuknya. Dimana ia hanya di suruh untuk mengecek air urinnya saja.


Hening ….


Sehingga suara Bara terdengar memecah keheningan itu.


"Kenapa malah jadi memberitahu, Ara?" tanya Bara tiba-tiba pada dokter itu saat melihat Tamara sudah benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.


"Maaf Tuan, saya sudah di sumpah sebelum menjadi dokter. Saya harap semoga Anda mengerti." Tasya terlihat membungkuk. "Maafkan saya sekali lagi Tuan," sambung dokter itu yang malah meminta maaf kepada Bara.


***


Dengan tangan yang gemetran, Tamara menyerahkan testpack itu pada dokter Tasya. Rupanya hasilnya positif itu menandakan kalau saat ini wanita itu sedang hamil.


"A-apa ma-maksud semua ini?" tanya Tamara dengan suara yang terbata-bata. Karena wanita itu tidak menyangka kalau saat ini di dalam rahimnya ada nyawa baru yang wanita itu tidak tahu siapa ayahnya.


"Sekarang sudah jelas Nyonya, kalau Anda memang benar-benar sedang hamil. Dan saya ucapkan selamat untuk Anda," jawab Tasya langsung, dan dokter itu juga tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang bahagia saat ia menyampaikan kabar bahagia itu kepada Tamara. "Ini vitamin serta pembah darah Anda Nyonya, jangan lupa di minum setiap hari." Bibir Tasya terus saja tersenyum saat memberikan Tamara vitaman dan penambah darah itu. "Saya ingatkan juga kalau Anda harus banyak-banyak beristirahat, dan usahakan datang kesini setiap satu bulan kali untuk memeriksa kandungan Anda Nyonya," sambung Tasya mengingatkan Tamara.


Sedangkan Tamara hanya melongo dengan tubuh yang semakin gemetaran. Sebab Demian tidak pernah menyentunya tapi malah wanita itu sekarang di nyatakan hamil. Membuat Tamara merasa kalau Sang pencipta sedang mempermainkan dirinya.


"Kalau begitu saya permisi dulu Nyonya, dan Tuan Bara katanya menunggu ada di luar," ucap Tasya yang kemudian pergi dari ruangan itu.


Tanpa mengucapkan sepatah kata Tamara membiarkan dokter itu pergi begitu saja. Karena wanita itu masih sangat shock mendengar dirinya yang di nyatakan tengah mengandung.

__ADS_1


"*Apa yang harus aku katakan pada Mas Demian? Kenapa ini semua juga harus terjadi kepadaku Tuhan? Aku memang ingin malaikat kecil tumbuh di dalam rahimku. Tapi bukan malah dengan cara seper*ti ini," gumam Tamara membatin.


__ADS_2