Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Asam Jawa


__ADS_3

Sungguh Bara sangat merasa tersiksa sejak laki-laki itu tau kalau Tamara sedang mengandung darah dagingnya. Karena disini yang ngidam itu dirinya, dimana laki-laki itu sering kali meminta makanan yang aneh-aneh pada sang asistennya.


"Bagaimana Tuan, apa bisa kita tukar saja asam jawa dengan buah mangga?" tanya Hero yang hari ini sudah sangat pusing sekali mencari asam jawa. Namun, laki-laki itu tidak bisa menemukan apa yang tuannya itu inginkan. Membuat Hero terlihat sangat putus asa sebab Bara sama sekali tidak mau bicara seharian ini dengannya. "Tuan, saya ganti sa–"


"Aku mau asam jawa Her, bukan buah mangga. Apa kau tidak mengerti maksudku ini?" Akhirnya setelah mogok bicara Bara mau membuka suara.


"Tapi Tuan, saya benar-benar tidak bisa menemukan asam jawa." Hero menunduk ketika Bara menatapnya dengan sangat sinis.


"Aku tidak mau tahu, pokoknya kau harus mencari asam jawa untukku, Her. Dan ingat jika kau belum mendapatkannya, jangan pernah tunjukkan wajah menyebalkanmu di hadapanku!" ketus Bara yang kini malah kembali fokus menatap layar di depannya saat ini.


Hero terlihat langsung saja menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sambil menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar. Karena jika begini maka pekerjaannya di kantor tidak mungkin akan bisa selesai. Sebab ia harus mencari asam jawa sampai dapat dan entah laki-laki itu tidak tahu apakah dirinya akan mendapatkannya atau tidak.


"Sana pergi, Her! Jangan malah diam disini," ucap Bara tanpa mau melihat wajah tangan kanannya itu. "Aku bilang pergi!"


"Ba-baik Tuan, saya akan pergi sekarang. Tapi bagaimana jika saya masih saja tidak berhasil menemukan as–"

__ADS_1


"Cari sampai dapat Hero! Dan seperti kataku yang tadi jangan kembali jika kau belum berhasil menemukannya," potong Bara cepat. "Cepatlah, Her, jangan sampai kau membuat air liurku ini menetas," sambung laki-laki yang belakangan ini sering kali membuat Hero merasa sangat kesal.


Hero yang sangat takut jika Bara akan mengamuk lalu melemparnya dari lantai 15 itu, memilih untuk segera keluar dari dalam ruangan tuannya. Karena Hero memilih untuk mencari aman saja.


"Astaga, lama-lama Tuan Bara lebih parah dari wanita yang sedang pms," gumam Hero sambil melangkahkan kakinya dengan sangat lebar. Sebab laki-laki itu harus berusaha supaya bisa menemukan asam jawa seperti yang tuannya itu in


***


Bara yang rupanya sudah merasa sangat bosan menunggu Hero yang tidak kunjung datang, pada akhirnya memilih untuk pergi ke toko baju milik wanita yang saat ini sedang mengandung bayinya itu.


Namun, saat Bara sampai di sana laki-laki itu malah tidak melihat keberadaan Tamara. Padahal ia sangat hafal betul hari apa saja Tamara yang menjadi kasir menggantikan Susi.


Dan kebetulan Susi yang melihat Bara celingak celinguk saja dari tadi segera menghampiri laki-laki itu.


"Maaf Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" Susi dengan sangat sopan sekali bertanya pada Bara, laki-laki yang sudah Susi kenal itu.

__ADS_1


"Susi, kau membuatku kaget saja." Bara terlihat mengelus dadanya karena ia merasa kaget. Dengan kedatangan Susi secara tiba-tiba.


Susi hanya nyengir kuda sambil berkata, "Tuan Bara cari apa? Dari tadi saya lihat Anda hanya celingak celinguk saja."


Bara menunjuk ruangan tempat Tamara beristirahat, ketika wanita itu merasa sangat penat ketika berada di toko itu.


"Ara mana? Kenapa dia tidak pernah datang ke toko?"


"Oh, Mbak Ara katanya sudah dua hari ini merasa tidak enak badan. Makanya tidak pernah datang ke toko," jawab Susi jujur. Tanpa ada yang wanita itu tutup-tutupi dari Bara.


"Benarkah?" Bara sangat merasa khawatir ketika mendengar itu dari mulut Susi. "Dan kalau boleh tahu Ara sakit apa?"


"Kata Tuan Demian sih, kalau Mbak Ara cuma kecapean saja. Dan juga Mbak Ara sangat sering kali masuk angin. Dapat dilihat ketika Mbak Ara disini, dia sering kali muntah-muntah."


Bara semakin merasa bersalah karena Tamara hamil hingga muntah-muntah gara-gara dirinya. Dan tidak mungkin Bara mengatakan itu semua pada Susi. Bisa-bisa angin yang tenang malah akan menjadi angin ribut.

__ADS_1


"Jangan bimbang dan ragu Tuan, mari saya akan membantu Anda mencari baju untuk keponakan Anda," kata Susi yang malah mengira kalau Bara mencari Ara hanya untuk menemani laki-laki itu mencari pakaian untuk keponakan, yang sering kali Bara belikan di toko itu. "Mari Tuan."


"Tidak Susi, aku hanya mau bertemu dengan Ara. Bukan malah mau berbelanja," timpal Bara.


__ADS_2