Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Liana Datang


__ADS_3

Terik matahari mulai hilang, saat Tamara keluar dari tokonya. Dan tiba-tiba saja wanita itu malah melihat mobil yang sangat tidak asing di indra pengelihatannya. Membuatnya langsung saja menghela nafas sambil berbaik, sebab ia berniat mau menghindari sang pemilik mobil itu.


Namun, saat Tamara akan melangkahkan kakinya Bara sudah terlebih dahulu mencengkaram pergelangan tangan wanita itu.


"Ara, ayo kita bicarakan masalah ini biar semuanya menjadi lebih jelas lagi," kata Bara yang berharap Tamara mau mendengarnya untuk kali ini saja.


"Lepaskan! Kau mulai sekarang adalah musuhku, Bara. Itu artinya kita bukan teman lagi seperti dulu." Tamara tidak mau menatap wajah laki-laki itu. Karena melihat wajah Bara hanya akan membuat matanya berair. "Lepaskan tanganku, Bara!" bentak Tamara.


"Ara ayolah, kita bicara baik-baik. Jangan sampai persahabatan kita yang dulu malah akan berantakan, hanya karena kesalah pahaman ini."


"Cukup! Aku sudah katakan bahwa kita ini sekarang hanya orang lain atau lebih tepatnya kau orang asing bagiku dan itu artinya kita tidak pernah saling kenal, apa kau paham b*rengsek?"


Bara bukannya melepaskan cengkraman tangannya dari tangan Tamara, kini laki-laki itu malah terlihat semakin erat dalam mencengkram pergelangan tangan wanita itu.


"Beri aku kesempatan Ara, aku akan menjelaskannya sekali lagi. Sampai kamu benar-benar tahu bagimana posisiku waktu itu. Aku mohon untuk kali ini saja, Ara." Bara seorang laki-laki yang tidak pernah melakukan ini pada wanita manapun kecuali Tamara merasa bahwa dirinya sangat berbeda. "Kali ini saja Ara, biarkan aku menjelas–"


"Aku tidak sudi berbicara ataupun melihat wajah laki-laki ba ji ngan sepertimu, Bara! Kau enyahlah dari hadapanku sebelum aku berteriak dan orang-orang akan datang sehingga kau akan di gebuki dengan tuduhan mau mele cehkanku," ancam Tamara supaya Bara mau melepaskannya.


"Sepertinya waktunya tidak tepat Ara, lain kali aku akan datang lagi ke sini dan menemuimu, bila perlu aku juga akan datang ke rumah suamimu," ucap Bara sambil melepaskan cengkramannya. "Jaga calon anak kita Ara, karena aku akan mengambilnya jika bayi itu sudah lahir nanti." Sesaat setelah mengatakan itu Bara langsung saja pergi. Karena bagi Bara sepertinya ia harus mencari waktu yang tepat untuk membahas masalah ini lagi dengan Tamara.


"Kau! Dasar laki-laki gila!" seru Tamara meneriaki Bara karena ia tidak habis pikir dengan kalimat Bara yang terakhir tadi.

__ADS_1


***


Malam menjelang saat Tamara sedang menunggu Demian pulang kerja, wanita itu malah di kejutkan dengan kedatangan Liana dengan penampilan wanita yang berperut buncit itu sangat acak-acakan.


"Astaga, Liana. Kamu kenapa malam-malam begini datang ke sini?" tanya Tamara sambil mendekat ke arah adik tirinya itu.


"Kak Ara, aku mau menginap di sini satu malam saja, maka dari itu aku datang kesini." Dengan kaki yang gemetaran Liana meraih tangan Tamara. "Apa boleh?"


Tamara terdiam ia tidak menjawab pertanyaan adiknya itu karena ia merasa bahwa Liana memiliki niat lain lagi seperti waktu itu. Karena banyak sekali manusia-manusia yang tidak tahu diri seperti Liana sudah di kasih hati malah minta jantung.


"Kak Ara bolehkan aku menginap?" Liana mengulangi kalimatnya lagi.


"Aku akan mengantarmu pulang saja Liana, karena tidak mungkin aku akan membiarkanmu menginap di sini," jawab Tamara yang memilih untuk mengantar Liana pulang. "Aku tidak mau kalau kejadian pada waktu itu akan terulang lagi," sambung Tamara tanpa harus berbasa basi lagi. Sebab ia sudah tahu bagimana sifat Liana.


"Liana, bukan masalah kasihan atau tidak. Aku cuma tidak mau kau menginap di sini. Di saat aku hanya berdua di rumah ini dengan Mas Demian. Dan pasti kau sudah tahu asisten rumah tangga dan sopir Mas Demian sedang pulang kampung." Tamara menjelaskan pada wanita yang kini terlihat malah menangis itu. "Sekarang kau ganti saja bajumu, setelah itu aku akan mengantarmu pulang."


"Jika kak Ara tidak mengizinkanku menginap di sini, maka aku bisa tidur di teras ini saja," ucap Liana sambil menunduk.


Tamara mengerutkan keningnya, sebab adik tirinya baru kali ini berbicara lemah lembut dan terdengar sopan tidak seperti sebelum-belumnya yang terkesan selalu ngengas atau berbicara selalu ketus dengan Tamara.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, sehingga kamu menjadi begini, Liana?"

__ADS_1


"A-aku kabur dari rumah, papa," jawab Liana lirih.


"Kabur?"


Liana mengangguk. "Iya, aku kabur karena Ibu mau menjodohkan aku dengan om-om yang bersedia menikah dengan wanita hamil sepertiku, sehingga aku memilih untuk kabur saja. Dan di tengah perjalanan menuju kesini aku malah di ...." Liana menggantung kalimatnya karena wanita itu tidak sanggup menceritakan semuanya pada Tamara.


"Malah apa?" tanya Tamara dengan hati yang mulai gelisah. Sebeb ia melihat baju Liana juga sedikit sobek di bagian bahu wanita itu. "Liana, jawab kakak jika kamu mau menginap di sini."


"A-aku di pe-per kosa," jawab Liana terbata-bata dan langsung saja memeluk tubuh Tamara. "Aku mohon, jangan katakan ini pada siapapun karena jika Ibu tahu pasti aku akan dalam masalah besar. Aku mohon kak Ara tolong rahasiakan semua ini."


"Siapa yang telah tega melakukan itu padamu, Liana? Dan jangan katakan kalau kau ini sedang berdusata." Tamara rupanya tidak mudah percaya dengan apa yang di katakan oleh Liana. Mengingat wanita yang perutnya sudah buncit itu sudah sering kali membohongi dirinya, sehingga membuat Tamara kali ini tidak akan mudah mempercayai semua kalimat Liana.


"Aku berani bersumpah kak, mereka ada dua orang. Mereka bergilir melakukan itu padaku, dan jika kakak masih tidak percaya lihat tanganku yang memar ini." Liana menunjukkan tangannya pada Tamara yang benar terdapat ada beberapa memar di sana. "Ini bekas mereka menarik hingga menyeretku, untung saja mereka tidak memiliki niat membunuhku."


Setelah melihatnya, Tamara langsung saja melepas pelukan Liana. Karena ia juga mencium bau minuman yang beralkohol begitu sangat menyengat pada baju Liana.


"Kau cepatlah masuk." Tamara sekrang terlihat mulai panik sendiri. Karna ia rasa kali ini Liana tidak sedang membohongi dirinya. "Ayo Liana cepat masuk, karena aku takut mereka mengikutimu sampai di si–" Kalimat Tamara terputus karena sebuah batu melayang hingga membuat kaca jenda pada rumah itu pecah.


"Kak Ara, itu mereka," ucap Liana dengan bibir yang bergetar.


"Liana ayo masuk!" Saking takutnya Tamara sampai berteriak saat melihat dua laki-laki bertopeng dengan tubuh yang di penuhi dengan tato itu semakin terlihat mendekat ke arahnya.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2