Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Penyatuan yang Berakhir tak Sesuai Keinginan


__ADS_3

Dengan sangat erat Tamara mencengram seprai yang berwarna pink dengan gambar bunga tulip di saat Demian melakukan tugasnya menjadi suami, dan sungguh wanita itu baru kali ini merasa sansasi yang sangat luar biasa. Meskipun ia juga sudah merasakan pada malam yang sangat kelam itu.


Namun, detik berikutnya bayang-bayang pada malam itu membuat Tamara tiba-tiba saja menjerit. Sebab ia merasa kalau dirinya tidak pantas memdapatkan kepuasan dari sang suami di saat mahkotanya sudah di renggut terlebih dahulu oleh laki-laki, yang Tamara sama sekali tidak tahu identitasnya sehingga ia sampai bisa berbadan dua seperti saat ini.


"Hentikan Mas! Jangan lakukan ini! Aku mohon ...." Suara Tamara memang terdengar melengking. Akan tetapi di sisi lain, suara wanita itu juga sangat terdengar lirih.

__ADS_1


Demian yang sebentar lagi akan mengeluarkan cairan oli yang berwarna putih dengan gerakan cepat ia segera turun dari atas tubuh wanita itu.


"Ada apa Sayang, apa sakit sekali? Apa Mas juga bermain terlalu kasar?" Demian yang panik melontarkan beberapa pertanyaan pada sang istri. "Sayang, jangan menangis, maafkan Mas jika tadi terlalu kasar karena Mas sangat bersemangat sekali." Meskipun tongkat sakti Demian masih berdiri tengak. Laki-laki itu tetap memilih untuk menenangkan Tamara dan menyingkirkan gejolak hasrat yang kini sudah sampai di ujung kepala tongkat saktinya.


"A-aku ...." Tamara terbata-bata di saat ia akan menjelaskan kepada Demian. "A-aku mi-minta Mas."

__ADS_1


"Sayang, Mas yang seharusnya minta maaf padamu. Karena Mas sudah membuatmu merasakan sakit. Dan lain kali Mas berjanji tidak akan melakukan ini dengan kasar." Demian merasa sangat bersalah. Karena ia tidak tahu saja kenapa Tamara bisa seperti itu. "Sekarang mau tidur apa Mas buatkan teh hangat atau susu?" Demian terdengar malah menawarkan teh dan susu pada sang istri di tengah larut malam seperti ini. Karena saking takutnya kalau Tamara akan kapok untuk memberikannya jatah lagi nanti. Meskipun yang tadi tidak berhasil mun crat.


Tamara hanya bisa menahan air matanya sambil menggeleng kuat. "Mas, maafkan aku karena tiba-tiba saja di bawah sana terasa sangat sakit. Sehingga aku tidak bisa menahannya lagi untuk tidak menjerit," ucap Tamara berbohong. Supaya Demian tidak curiga padanya. "Mas mau 'kan, memaafkan aku?" Rasa sesak di da da Tamara kian menjadi-jadi di saat sang suami hanya bisa mengangguk sambil tersenyum.


"Tidak apa-apa Sayang, dan kamu tidak usah mengucapkan kata maaf berulang kali. Karena kamu tidak salah, sebab yang bersalah disini adalah Mas." Demian rupanya lebih memilih untuk menyakahkan dirinya sendiri di bandingkan harus menyalahkan wanita yang sangat laki-laki itu cintai. "Sekarang istirahat saja, dan mulai malam ini juga kamu jangan anggap Mas ini tidak mau menyentuhmu. Karena yang tadi itu cukup menjadi pembuktian saja supaya kamu tidak terus-terusan merasa tidak mau di sentuh oleh Mas."

__ADS_1


"Mas, harus dengan cara apa aku memberitahumu, kalau aku ini bekas orang dan tidak perawan lagi. Aku juga saat ini tengah berbadan dua?" Tamara membatin karena rasa bersalahnya kini kian menjadi-jadi. "Mas Demian, maafkan aku ... aku tidak bermaksud untuk membohongi Mas," sambung wanita itu membatin.


__ADS_2