Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Bab 103


__ADS_3

Lima bulan kemudian kini hubungan Tamara dan Bara berangsur-angsur membaik, karena rupanya laki-laki itu telah berhasil mengembalikan toko milik sang istri yang telah di jual dulu oleh Kinanti, wanita paruh baya yang kini mungkin saja sedang sakit-sakitan.


"Mas berangkat ke kantor dulu," kata Bara yang sekarang ingin mengajarkan Tamara memanggil dirinya dengan sebutan mas.


Tamara yang sedang merias diri di depan cermin riasnya, menoleh ke arah Bara karena wanita itu kagat saat mendengar laki-laki itu berkata seperti itu. "Mas, sejak kapan namamu berubah menjadi Mas?" tanya Tamara dengan kening yang mengkerut.


"Kamu mulai sekarang harus memanggilku Mas, tidak enak jika kamu terus saja memanggilku dengan nama." Bara membenarkan dasinya sendiri saat laki-laki itu menjawab Tamara. "Kemarin Mama Tami menegurku, Mama bilang kalau harus mengajarkanmu memanggilku dengan sebutan Mas, di tambah kita sudah menikah lima bulan. Namun, nama panggilanmu masih dengan namaku saja," sambung Bara memberitahu sang istri.


Tamara hanya bisa ber oh ria saja, karena wanita itu juga membenarkan apa yang Bara katakan.


"Bagimana, apa kamu setuju?" tanya Bara.


"Aku setuju saja, tapi maafkan aku jika lidahku ini masih sering keseleo," jawab Tamara yang merasa bahwa dirinya sekarang harus bisa menerima Bara, karena bagi wanita itu sepertinya laki-laki yang telah menjadikannya istri itu benar-benar baik.


Buktinya sampai detik ini Bara sama sekali tidak pernah meminta haknya, meskipun mereka berdua sudah tidur bersama di atas ranjang yang sama sudah hampir tiga bulan lamanya.


Bara juga benar-benar memperlakukan Tamara seperti ratu, sampai-sampai pekerjaan wanita itu di rumah kalau tidak pergi ke toko hanya rebahan saja, dan Bara juga lebih sering mengajak Tamara untuk makan di luar, selian itu Bara juga lebih banyak meluangkan waktu segangnya untuk sang istri daripada pekerjaannya, karena bagi Bara kebahagiaan Tamara adalah pioritasnya.

__ADS_1


"Ah tidak masalah, aku percaya lama-lama kamu akan terbiasa." Bara tersenyum dan sempat melirik jam di pergelangan tangannya. "Oh ya, berhubung meeting di kantor masih tinggal satu setengah jam, bagimana kalau kita sarapan di luar?"


Tamara mengangguk pelan, karena wanita itu rupanya tidak mau kalau sang suami menyewa ART. Sebab Tamara tidak ingin ada orang lain yang bebas keluar masuk ke dalam apartement itu. Sehingga membuat Bara memutuskan untuk menyuruh cleaning service saja yang datang ke apartemen itu tiga kali dalam satu minggu. Untungnya Tamara juga langsung saja menyetujui itu semua tanpa ada embel-embel penolakan.


"Baiklah, kalau kamu setuju. Aku tunggu disini saja." Bara tersenyum, karena menunggu wanita yang sangat laki-laki itu cintai selesai bermake up tidak begitu masalah baginya.


"Di mobil saja, lagipula aku sudah selesai," kata Tamara yang merasa tidak enak jika saja Bara terus saja menunggunya hampir setiap hari seperti itu.


"Tidak apa-apa kamu dandan saja, aku akan tetap menunggumu disini." Bara menolak untuk pergi ke mobil terlebih dahulu.


"Dasar keras kepala," gerutu Tamara pelan. Sejujurnya kali ini wanita itu merasa malu jika terus di tatap seperti itu oleh sang suami.


"Ish, gombal sudah basi," sahut Tamara yang sekarang pipinya semakin memerah seperti buah tomat. "Rayuan serta gombalan itu cocok untuk ABG, bukan kita yang sudah tua begini," celetuk Tamara sambil mengulum senyum.


"Bagiku di mata ini kamu tetap anak ABG," ucap Bara yang sekarang terkekeh-kekeh.


"Makin ngaur saja kamu ini Mas, ayo kita lebih baik berangkat sekarang saja. Daripada harus membahas masalah yang tidak penting ini." Tamara mengoles sedikit lipstik yang berwarna kalem pada bibir tipisnya. Sebelum wanita itu berjanjak dari duduknya.

__ADS_1


***


Di dalam mobil, Bara terlihat terus saja menatap Tamara saat di saat didepan sana sedang macet.


"Wah, bisa telat kamu meeting Mas, kalau begini ceritanya," kata Tamara membuka percakapan sambil terus saja menatap ke depan.


"Hero sudah aku suruh untuk mengundur jam meetingnya. Jadi, aku rasa tidak apa-apa."


"Sangat tidak proporsional sekali Anda Tuan Bara," seloroh Tamara.


"Bukan begitu, tapi kamu bisa lihat sendiri saat ini keadaan di depan sana macet. Membuat Mas merasa lebih baik mengundur jam meeting saja daripada dibatalkan," timpal Bara.


"Kamu benar Ma–" Kalimat Tamara terputus saat melihat sosok ibu tirinya yang sedang mengemis di depan mobil yang kira-kira berjarak dua mobil dari mobilnya. "Mas, itu bukannya ibu Kinan?" Tamara menunjuk ke arah Kinanti.


Bara yang penasaran juga ikut melihat ke arah telunjuk Tamara. "Iya, itu memang benar mantan ibu tiri kamu," jawab Bara tanpa menunjukkan eksperesi terjut sedikitpun seperti Tamara saat ini.


"Aku harus turun, karena aku ingin melihatnya." Sesaat setelah mengatakan itu Tamara langsung saja membuka pintu mobil itu, dan segera turun meskipun Bara sempat melarangnya.

__ADS_1


"Ara, jangan pergi!" seru Bara.


__ADS_2