
Pagi menjelang di saat Demian dan Tamara menuruni anak tangga. Dengan ramput pasangaan suami istri itu yang terlihat sama-sama basah membuat Liana yang kebetulan sudah ada di ruang makan langsung saja merasa terbakar.
"Mas Demian, kapan Mas pulang?" Liana bertanya dengan raut wajah yang tidak enak di panang.
"Tadi malam," jawab Demian singkat sambil terlihat semakin erat memegang telapak tangan Tamara. Seolah-olah laki-laki itu ingin memberitahu pada wanita hamil itu kalau Tamara adalah wanita satu-satunya yang ada di hatinya.
"Kenapa Mas tidak masuk ke dalam kamarku?" tanya Liana lagi. Hanya untuk sekedar memastikan apakah Demian akan menjawab singkat atau tidak.
Namun, seribu kali sayang pertanyaan Liana itu malah di abaikan oleh Demian. Karena sekarang laki-laki itu terlihat sedang melempar senyum pada Tamara yang sedang menahan rasa sakit di bawah sana. Dengan kaki yang menuruni anak tangga satu per satu.
"Mas ...," panggil Liana yang merasa di abaikan oleh Demian. Di tambah wanita itu tidak sengaja melihat tanda merah pada le her Tamara. Membuat Liana merasa hatinya semkin panas terbakar api cemburu. "Mas Demian!" seru Liana.
"Ada apa lagi, Liana? Kalau kau mau sarapan sarapan saja jangan banyak bicara. Dan jangan panggil-panggil aku terus!" ketus Demian yang tiba-tiba saja merasa risih dengan wanita hamil itu.
__ADS_1
Liana yang kesal langsung saja mendobrak meja. "Kapan kamu akan adil denganku, Mas? Kapan?!" Sorot mata Liana sangat tajam saat menatap Demian dan Tamara. "Bisa-bisanya kamu melakukan itu dengan kak Ara, sedangkan aku ...." Liana menunjuk dirinya sendiri. "Malah Mas abaikan, padahal aku juga rindu belaian Mas Demian. Aku juga rindu setiap sentuhan yang Mas lakukan seperti waktu itu," sambung Liana yang kali ini bermaksud ingin mengingatkan Tamara dan juga Demian tentang malam itu.
"Jika kau masih ingin tinggal disini, tetaplah tutup mata dan telingamu. Jangan pernah membuat aku kesal, Liana. Karena aku bisa menceraikanmu kapan saja jika aku mau. Jadi, jangan macam-macam." Demian kali ini tidak mau mengalah pada Liana. Meskipun dulu ia dan wanita hamil itu sempat membuat janji. "Duduk dan sarapan dengan tenang, jangan malah buang-buang waktu untuk mengucapkan kata-kata yang tidak penting seperti itu."
"Apa kamu lupa Mas, bahwa rahasiamu ada padaku?" Tiba-tiba saja Liana malah bertanya seperti itu pada Demian. Dan pasti maksud wanita itu juga hanya mau membuat Demian merasa takut.
"Rahasia apa?" tanya Tamara yang dari tadi hanya diam saja. Sambil menatap Demian dan Liana secara bergantian. "Mas, rahasia apa?" Tamara terdengar bertanya sekali lagi pada Demian.
"Tidak ada rahasia Sayang, Liana mungkin saja sedang bercanda saat ini," jawab Demian sambil tersenyum menatap Tamara. "Sekarang ayo, kamu duduk saja dan kita sarapan, Sayang," kata Demian menarik satu kursi untuk wanita yang tidak bisa tergantikan di dalam hatinya itu. "Mau sarapan pakai ap–" Kalimat Demian menggantung di udara hanya karena Liana tiba-tiba saja membuka suara.
"Bisa-bisanya, kak Ara mau dengan laki-laki yang tidak akan mungkin bisa membuat kak Ara hamil!" Liana pada akhirnya ingin membocorkan rahasia Demian. Berharap setelah ia memeritahu ini semua Tamara akan meninggalkan Demian.
"Apa maksudmu, Liana?" Tamara menatap madunya itu dengan penuh rasa ingin tahu jawaban apa yang akan di berikan oleh Liana.
__ADS_1
"Kakak tidak tahu kalau Mas Demian man–"
Plaakk!
Suara tamparan pada pipi mulus Liana sangat terdengar nyaring, membuat kalimat wanita hamil itu terputus.
"Tutup mulutmu, Liana! Jangan membuat kesabaranku habis!" Demian yang sangat marah tidak bisa lagi menggontrol dirinya supaya tidak emosi. Membuat laki-laki itu menampar Liana.
...****************...
Jangan lupa mampir juga ke karya temanku, pokoknya Rekomendasi banget😍
__ADS_1