Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Bab 91


__ADS_3

Setelah berhasil membuat Tamara terlelap karena tadi Bara sudah memanggil dokter untuk memeriksa wanita itu, dan tidak lupa juga tadi Bara memberikan Tamara obat penenang yang sudah diresepkan langsung oleh dokter yang menangani wanita itu tadi. Sehingga membuat Tamara bisa tidur dengan sangat pulas dapat dilihat dari raut wajah tenang serta suara dengkuran halus yang kaluar dari bibir wanita itu, dan kini Bara juga terlihat ikut keluar bersama Zein, seorang dokter kepercayaan laki-laki itu selama ini hanya untuk menayakan kenapa Tamara bisa lupa dengan dirinya padahal mereka berdua hanya tidak bertemu selama dua bulan saja.


"Dok, bagaimana menurut Anda?" tanya Bara sambil terlihat menutup pintu kamar wanita itu dengan sangat hati-hati sekali, karena laki-laki itu takut jika saja Tamara akan bangun ketika mendengar suara yang agak sedikit keras.


"Saya cek dulu sempel darahnya Tuan Bara, baru saya bisa menyimpulkan dan untuk saat ini saya belum berani mengatakan apapun itu, karena saya juga harus punya sejumlah bukti baru saya bisa menjelaskan sedetail mungkin pada Anda," jawab Zein yang memang dokter itu sangat jujur sehingga membuatnya harus menyertakan bukti, baru ia akan berani mengambil kesimpulan sendiri.


"Apa Anda tidak bisa menebak-nebaknya saja, Dok?" Bara yang penasaran malah menanyakan itu pada Zein.


"Untuk masalah ini, sepertinya saya benar-benar tidak bisa menebaknya, Tuan." Zein terlihat menggeleng saat dokter itu menjawab. "Besok pagi saya akan datang ke sini, dan akan memberitahu Anda semunya tentang apa yang sebenarnya telah terjadi pada Nyonya Ara, saya harap Anda sabar menunggu sampai besok pagi, Tuan," sambung Zein.


"Baiklah kalau itu yang Dokter katakan, maka saya akan menunggu sampai besok pagi. Semoga kabar yang akan Anda bawakan untuk saya tidak membuat kami di rumah ini merasa cemas dan panik." Bara sangat berharap jika Tamara tidak memiliki penyakit yang serius untuk saat ini.


"Kalau begitu saya pamit pulang dulu Tuan, jangan lupa kasih obat yang tadi saya berikan pada Nyonya Ara. Usahakan dia meminumnya secara teratur supaya keadaanya menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya." Zein juga merasa kasihan dengan Tamara oleh sebab itu Zein mengatakan itu."


"Mari saya antar Anda sampai ke depan, Dok." Bara lalu terlihat berjalan beriringan bersama dokter itu."


"Oh ya, saya sampai lupa, bahwa Nyonya Tami sudah tidak perlu lagi meminum obat karena matanya sudah sembuh seratus persen. Tidak akan ada lagi dramanya kambuh-kambuh," kata Zein memberitahu Bara.

__ADS_1


"Terima kasih Dok, karena Anda Tante Tami menajdi sembuh." Bara merasa senang mendengar kabar itu. Namun, di sini lain laki-laki itu merasa sangat sedih dengan apa yang telah menimpa Tamara saat ini.


"Berkat Anda juga Tuan, karena jika bukan berkat Anda maka saya tidak akan menjadi seperti saat inu dan yang seharusnya berterima kasih itu saya bukan Anda," timpal dokter itu yang merasa sangat berhutang budi pada Bara.


Bara yang mendengar itu malah menepuk pundak dokter itu sambil berkata, "Anda jangan merendah Dok, ini semua adalah hasil kerja keras Dokter selama ini. Jadi, sekarang Anda hanya perlu menikmati hasil jeri payah Dokter selama ini." Bara lalu terlihat menepuk pundak dokter itu pelan, dan tidak terasa mereka sudah sampai di pintu utama.


***


"Tente, aku akan menikahi Ara," kata Bara tiba-tiba saat laki-laki itu sedang duduk berdua dengan Tami.


"Tidak Tante, aku rasa inilah saatnya aku harus menikah dengan Ara untuk menebus dosa yang pernah aku lakukan padanya, karena selama ini aku selalu saja di hantui rasa takut saat aku mengingat katika aku menodai putri Tente." Bara ingin menikahi Tamara supaya laki-laki itu leluasa bisa menjaga wanita itu jika Tamara sudah menjadi miliknya seutuhnya. "Bagimana apa Tante setuju?"


Tami saat ini bukannya tidak setuju. Namun, wanita itu merasa kalau Bara terlalu cepat dalam hal ini. Disaat kondisi Tamara sedang tidak memungkinkan.


"Tante, aku akan berbicara terlebih dahulu dengan Ara. Kalau dia mau maka aku akan langsung mengadakan acara resepsi yang sederhana, dan jika dia tidak mau maka itu artinya aku harus menunggunya lagi." Bara adalah laki-laki yang memang tidak terlalu mementingkan khendaknya sendiri, karena bagi laki-laki itu pendapat orang lain sangat perlu ia dengarkan juga. Jangan sampai dirinya nanti malah akan berubah menjadi egois. "Tapi, apa Tante setuju, kalau aku ini yang akan menjadi menantu Tante Tami?"


"Bar, Tante sangat setuju kalau soal itu. Namun, Tante takut jika saja Ara akan menolakmu seperti yang sudah-sudah. Itu yang Tante tidak inginkan," jawab Tami.

__ADS_1


"Aku akan berusaha meyakinkan Ara, bahwa tidak semua laki-laki itu sama," kata Bara yang memang sudah lama menginginkan Tamara menjadi wanita satu-satunya di dalam hidupnya.


***


Dini hari saat Tamara terlihat akan mencabut selang infusnya tiba-tiba saja Bara datang dan menghentikan apa yang akan wanita itu lakukan.


"Ara, jangan lakukan apapun pada dirimu. Ini infus biar tubuh kamu kembali vit, jangan malah kamu cabut sembarangan." Bara yang memang sengaja berjaga disana langsung saja menahan tangan wanita itu. "Jangan lakukan ya, karena di vila ini semua orang-orang baik tidak akan ada yang melukai perasaan serta hatimu lagi."


"Lebih baik biarkan aku mati saja karena kebahagiaan hanya untuk orang-orang tertentu, bukan untuk diriku yang pendosa ini." Tamara menatap Bara dengan tatapan sayunya. "Jangan menghalangiku lagi, aku mohon ... biarkan aku pergi saja."


Bara kini terlihat menatap Tamara juga. "Ara, tidak bisakah kamu mendengarkanku untuk kali ini saja. Supaya kamu menjadi lebih baik dari sebelumnya tidak memandang hina dan rendah pada dirimu sendiri."


"Aku menang benar-benar wanita hina dan rendah, sehingga aku ini tidak bisa membedakan mana manusia yang baik dan pura-pura baik padaku." Lirih Tamara yang saat ini belum bisa mengenali Bara. "Jangan biarkan lagi aku hidup di dunia ini, karena bagiku sudah sangat cukup aku menderita selama ini."


Bara malah membawa Tamara masuk ke dalam pelukannya, karena laki-laki itu berharap supaya Tamara tahu dan bisa merasakan bahwa Bara saat ini adalah laki-laki yang sangat tulus dalam memberikan wanita itu motivasi sebagai menyebangt dan jangan mudan putus asa.


"Aku muak, aku benar-benar sudah sangat muak!" Tamara malah memberontak sambil mendorong Bara. Sebab tiba-tiba saja ia malah menjadi mengingat Demian, laki-laki yang telah mengkhianati serta menipu dirinya dengan senyum manis dan rayuan laki-laki biadab itu. "Laki-laki semu sama saja, dasar pengecut! Dasar penjundang!" Tamara berteriak hiseris dan sekarang ia terlihat mencakar lengan Bara dengan kuku-kuku tajam yang ia miliki.

__ADS_1


__ADS_2