Duri Di Ranjang Pengantin

Duri Di Ranjang Pengantin
Kebenaran yang Terungkap.


__ADS_3

"Sayang, kamu sudah bangun, syukurlah," kata Demian yang langsung saja bisa bernafas dengan lega, saat melihat sang istri sudah membuka mata sesaat setelah laki-laki itu menunggu selama beberapa menit.


"Mas Demian." Lirih Tamara memanggil nama Demian. Karena ia tidak pernah menyangka kalau laki-laki yang menikahinya ini adalah laki-laki yang mandul.


"Apa Sayang, mau minum dulu?" Demian terlihat membantu Tamara untuk bangun. "Biar Mas ambilkan air dulu," sambung Demian yang mau pergi mengambil air minum untuk sang istri.


Akan tetapi, Tamara yang sudah duduk dan bersandar di kepala ranjang, langsung saja menggeleng dengan sangat kuat.


"Tidak usah Mas, aku tidak haus." Tamara kini menatap Demian dengan mata yang lagi dan lagi harus berkaca-kaca. Sebab wanita itu merasa Demian sangat tega pada dirinya karena telah merahasiakan hal seperti ini. Membuat hati kecil Tamara menjadi sedikit terluka setelah mengetahui semua ini. "A-aku, ha-hanya ingin ... mendengar penjelasan tentang yang Liana ucapkan. Dan apa semua itu be-benar?" Dengan suara yang terbata-bata. Tamara berusaha untuk terlihat tegar dalam menghadapi situasi yang seperti ini.


Sedangkan Demian yang duduk di pinggir ranjang meraih telapak tangan Tamara, dan kini laki-laki itu terlihat menciu mnya beberapa kali sambil berkata, "Maafkan Mas, karena sudah membuatmu merasa kecewa dengan apa yang kamu dengar dari mulut orang lain, bukan dari mulut Mas sendiri." Jujur saja Demian tahu bahwa dirinya bersalah karena ia tidak berani jujur dari awal. "Maafkan Mas, Ara ... karena hanya dengan cara begini kamu tidak akan pernah meninggalkan laki-laki mandul ini."


"Apa ini alasan Mas yang selama ini tidak pernah mau menyentuhku?" tanya Tamara yang berusaha untuk menerima kekurangan laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu. Meskipun saat ini dirinya sedang mengandung benih dari laki-laki lain.


Demian mengangguk dengan suasana hati yang tak karuan. Sebab ia sekarang merasa takut jika Tamara akan meminta cerai jika wanita itu sudah tahu tentang dirinya yang tidak sempurna.


"Kenapa Mas tidak bilang padaku dari awal? Kenapa Mas malah merahasiakan ini semua dariku?" Tamara mendongak berharap supaya air matanya tidak kembali menetes saat menanyakan tentang itu semua pada Demian.


Namun, laki-laki yang di tanya sama sekali tak bergeming. Karena Demian sepertinya tahu bahwa disini yang bersalah adalah dirinya yang tidak jujur pada sang istri, tentang kondisi kesehatannya. Yang tidak


seberuntung laki-laki lain.


"Mungkin saja jika Mas menceritakan ini semua lebih awal mungkin hatiku ini tidak merasa kecewa seperti saat ini. Dan mungkin saja aku ini bi–"


"Bisa menolak untuk menikah dengan laki-laki mandul seperti Mas, begitu maksud kamu, Ara?" potong Demian cepat. "Laki-laki yang tidak akan pernah bisa memberikanmu keturunan ini. Apa begitu, Ara?"

__ADS_1


"Pikiranmu, terlalu sempit Mas, mana mungkin aku berpikiran seperti itu. Di saat jiwa dan raga ini sangat menginginkanmu menjadi suamiku. Mana mungkin juga aku akan tega meninggalkanmu meskipun aku tahu, kalau Mas Demian mandul. Dan aku rasa itu semua tidak pernah menjadi tolak ukur bagi setiap pasangan untuk tidak bahagia." Meski kecewa Tamara akan berusaha untuk tidak melukai hati laki-laki yang sangat ia cintai itu.


"Lantas bagaimana dengan keinginanmu yang ingin memiliki anak dariku, Ara? Apa jangan-jangan kamu lupa pernah mengatakan itu semua padaku?"


"Kita bisa mengadopsi anak, semudah itu. Tapi Mas malah membuat semua ini menjadi rumit. Karena Mas Demian yang menyembunyikan kenyataan dan kebenaran ini dariku," timpal Tamara.


"Sekarang terserah padamu saja Ara, aku akan berusaha menerima setiap keputusanmu. Karena aku juga sadar diri bahwa aku laki-laki yang tidak sempurna."


"Cukup Mas, jangan bahas tentang kesempurnaan di depanku. Sebab kesempurnaan hanya milik Sang pencipta," kata Tamara dan bersamaan dengan itu air matanya kembali jatuh. "Pertanyaanku sekarang, jika Mas mandul. Lalu siapa yang sudah tega menghamili Liana?"


"Jika kamu sudah merasa baikan, kita ke ruang keluarga sekarang. Karena di sana semua orang sedang menunggu kedatangan kita," jawab Demian. "Biar semua ini menjadi jelas, dan tidak akan ada lagi kesalah pahaman antara kita berdua. Disana juga kamu akan tahu siapa ayah dari anak yang dikandung oleh Liana."


Tamara mengangguk sambil mengusap lelehan air matanya, karena ia tidak mau kalau Herdi dan Kinanti nanti melihat dirinya sudah menangis. Sebab ia akan berusaha terlihat tegar di hadapan ayah serta ibu tirinya itu. Meskipun ia sudah tahu kalau Demian mandul.


"Siapa kira-kira laki-laki bejat itu?" Sambil turun dari atas ranjang. Tamara terdengar menanyakan itu pada Demian.


"Maksud Mas. Jadi, keduanya bersalah. Apa begitu?"


"Iya bisa dibilang begitu, yang terpenting sekarang kita lebih baik cepat kesana."


***


Brakk! Liana yang marah melempar vas bunga ke sembarang arah, hanya karena wanita hamil itu mendengar serta melihat sebuah rekaman video yang di putar oleh Demian di hadapan semua orang. Membuat Liana langsung saja meradang karena ia tidak pernah menganyangka kalau Demian akan dengan sangat mudah menemukan barang bukti berupa rekaman.


"Tidak mungkin! Ini semua pasti ada yang salah!" pekik Liana yang terlihat sangat marah. "Ini anak Mas Demian, bukan anak Axel!" Meski sudah ada bukti Liana masih saja bisa mengelak. "Video ini hanya editan, mana mungkin aku setega dan sejahat itu sehingga merencanakan semua ini. Pokoknya ini semua tidak benar."

__ADS_1


"Buktikan kalau video ini adalah editan Liana, maka aku bersedia untuk tidak menceraikanmu meskipun anak yang kau kandung bukan darah dagingku," kata Demian yang tahu kalau Liana tidak akan mungkin bisa membuktikan itu semua. Karena video itu benar-benar asli tanpa ada kata editan dan sebagainya. "Disana juga sudah terdengar dengan sangat jelas, kalau kau yang telah menyuruh Axel untuk menghamilimu dengan memberikannya sejumlah uang. Apa itu juga belum cukup menjadi bukti, Liana?"


"Mas Demian memang tidak pernah menyukaiku. Tapi aku mohon jangan malah melakukan ini semua padaku. Apa salahku padamu Mas?"


Demian tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Liana. Oleh karena itu, laki-laki itu memilih untuk tetap diam saja sambil memutar kembali beberapa rekaman antara percakapan Liana dan Axel. Dimana kedua manusia itu ingin memisahkan Demian dari Tamara.


"Hentikan Mas! Jangan di putar lagi. Karena itu bukan suaraku." Meski Liana berkata seperti itu.


Namun, Demian sama sekali tidak peduli akan hal itu. Yang terpenting bagi laki-laki itu bahwa dirinya bisa mengungkapkan kebenaran. Meskipun kedua orang tuanya serta mertuanya tahu kalau dirinya mandul. Akan tetapi, Demian sama sekali tidak memperdulikan itu semua.


Sedangkan keluarga dari dua belah pihak hanya bisa menyaksikan semua itu, tanpa ada yang mau membuka suara. Karena mereka ingin memberikan ruang untuk anak-anak mereka menyelesaikan masalah ini tanpa campur tangan dari mereka.


"Mengaku saja Liana, jangan malah kebanyakan drama. Karena lama-lama aku melihatmu seperti wanita yang sangat merendahkan martabatmu sendiri. Dimana kau rela melakukan serta menghalalkan segala cara, supaya bisa mendapatkan apa yang kau mau. Termasuk rela menjadi duri di ranjang pengantin kakak tirimu sendiri."


Axel juga terlihat menunduk, karena kali ini si brengsek Axel bisa merasakan yang namanya di permalukan di hadapan banyak orang seperti ini. Dan ia juga tidak pernah menyangka kalau Demian akan tahu secepat ini. Membuatnya hanya bisa diam saja tanpa berani mengucapkan sepatah kata.


"Mas Demian, jangan begini karena aku tahu kalau Mas sangat mencintaiku juga. Seperti aku yang mencintai Mas Demian."


"Aku akan menceraikanmu, Liana. Dan aku harap kau akan bisa hidup bahagia bersama Axel, ayah dari bayi yang kamu kandung saat ini." Tidak ada raut penyesalan ataupun rasa bersalah pada wajah Demian. Justru laki-laki itu terlihat sangat bahagia karena telah berhasil membongkar kebusukan Liana dan juga Axel.


"Mas sudah, jangan teruskan lagi. Kasihan Liana," ucap Tamara berbisik setelah wanita itu juga mengetahui seperti apa busuknya adik tirinya itu. "Sudah ya, Mas. Biarkan semua ini menjadi pelajaran buat kita," sambung Tamara.


"Tidak bisa Sayang, biar semua ini menjadi lebih jelas lagi," timpal Demian. "Karena Mas rasa sudah cukup Liana selama ini membohongi kita semua."


...****************...

__ADS_1



__ADS_2