
3 hari kemudian...
3 hari telah berlalu para pahlawan dan prajurit kerajaan sudah tiba di death forest tanpa hambatan sama sekali karena apabila ada bandit para prajurit yang mengurus nya.
Saat ini diluar death forest
"haaa lama sekali sih mereka padahal naik kereta kuda" ucap Juli kesal sambil duduk di batu dan raphael yang sedang tertidur di pangkuannya karena kelelahan.
setalah Juli menunggu 1 jam akhirnya para rombongan pahlawan datang dan beristirahat di dekat death forest. Juli yang melihat mereka sedikit iri karena level mereka sudah sangat tinggi rata-rata para pahlawan berlevel 2.000 dan untuk 3 pahlawan utama berlevel 2.800.
Juli yang melihat Alice , Natasha, dan Rin turun dari kereta ingin memanggilnya tapi diurungkan karena mereka terlihat asyik mengobrol dengan pahlawan yang lainnya.
Jadi Juli hanya duduk diam sambil mengelus kepala raphael.
setalah para pahlawan beristirahat mereka telah bersiap-siap memasuki death forest dan Juli hanya di diami oleh mereka semua dan tidak di tegur seperti tidak pernah menganggap Juli ada kecuali Jenderal Tom yang menegurnya " apa kabar nak Juli? seperti nya kau tambah kuat saja meski level mu kecil dan juga siapa anak kecil itu?" tanya Jenderal Tom yang didengar oleh semua orang yang ada disitu dan melihat Juli kecuali 3 orang yang berpura-pura mencueki Juli. dan Juli yang melihat itu ada sedikit sakit di hatinya tapi dia memilih diam.
"xixixixi.... Jenderal kau bisa saja bercanda aku tidak lah kuat aku hanya memperkuat ilmu ku saja dan anak kecil ini namanya Raphael aku menemukan nya di hutan mati dan dia tidak memiliki orang tua" ucap Juli menjelaskan yang di dengar semua orang.
"kok bisa ada kecil di hutan mati? bukannya itu daerah Monster yaa nak Juli?"tanya Jenderal.
"ntahlah jenderal aku juga bingung tapi aku hanya ingin menolongnya dan dia sudah ku anggap anakku sendiri selama 3 bulan di hutan mati" ucap Juli tersenyum ke arah Jendral dan mengelus kepala raphael yang membuat Ia terbangun dan langsung memeluk Juli karena takut melihat banyak orang.
" tidak apa-apa Raphael mereka tidak jahat kok" ucap Juli sambil mengelus kepala nya.
"yooo gadis kecil nama paman Tom salam kenal gadis kecil" ucap Jenderal menyapa raphael. dan raphael hanya diam dan mengangguk kepala.
"owhh aku hampir lupa... Jenderal. Raphael sebenarnya tidak bisa bicara atau bisa dibilang bisu" ucap Juli yang membuat semua orang di sana kaget dan kembali biasa.
"owhh pantas aja dari tadi diam...okeh kalo gitu mari kita memasuki death forest dan kau sama raphael bisa di barisan belakang" ucap Jenderal Tom lalu pergi.
ketika Juli jalan kebelakang ia berselisih dengan Alice, Natasha, dan Rin ketika Juli ingin menyapa mereka, mereka hanya diam dan tidak menjawab yang membuat Juli terdiam dan jalan kebelakang bersama Raphael di sebelahnya sambil bergandengan tangan.
setelah mereka memasuki death forest mereka diperlihatkan pemandangan death forest yang menyeramkan yang dimana disekelilingnya hanya pohon mati membuat sebagian orang takut kecuali Juli dan raphael karena mereka sudah biasa dengan ini Bahkan bagi mereka ini kaya mainan rumah hantu
"bukankah ini terlalu menyeramkan" ucap seorang gadis dari para pahlawan yang dimana itu teman sekelas Juli.
"kalian tenang lah tidak perlu takut" ucap Akira sombong.
"yaa kalian tidak perlu takut ada kami disini yang melindungi kalian dari bahaya" ucap ketua kelas yang cari perhatian.
"terima kasih Akira dan Rey" ucap Alice sambil tersenyum.
yang dimana itu membuat Juli sedikit bingung dan sakit hati di dadanya tapi Juli gak tau itu apa. "kenapa dadaku sakit? apa aku disantet?" batin Juli
ketika berapa meter mereka berjalan mereka di hadang oleh sekelompok serigala hitam yang berjumlah 50 ekor dan 1 pemimpin.
...STATUS MOSNTER...
...NAME : BLACK WOLF...
...LEVEL ; 800...
...HP : 400.000...
...MP : 150.000...
...STATUS MONSTER...
...NAME : KING BLACK WOLF...
...LEVEL :1.000...
...HP ; 600.000...
...MP : 300.000...
"SEMUA BERSIAP DIPOSISI MASING-MASING" Ucap Jenderal Tom mengintruksikan.
"PARA PENYIHIR SERANG DANGAN SIHIR ELEMEN" Ucap Jenderal Tom memberikan perintah.
ketika jenderal tom mengintruksikan semua penyihir mulai menyiapkan serangan sihir masing-masing.
FIRE BALL.....
WIND SLASH....
WATER SLASH....
FIRE ARROW....
Ucap para penyihir menyebutkan mantra-mantra mereka dan itu membuat sebagian serigala hitam mati.
"PARA KNIGHT, LANCER, SWORDMAN, DAN TANK MAJU SECARA BERSAMAAN KITA SERANG MEREKA" Ucap Jenderal Tom dan mereka mulai menyerang para serigala.
setelah 10 menit bertarung melawan serigala banyak yang kelelahan dan sebagian terluka.
"AREA HEALING....."Ucap Alice dengan suara tinggi.
ketika semua kembali pulih mereka melanjutkan perjalanan, dan disini Juli hanya diam dibelakang dan tidak membantu dan itu membuat dia dihina.
"lihat lah pahlawan super kita yang tidak membantu apa-apa" ucap Akira yang mengejek Juli dan itu membuat yang lainnya tertawa kecuali Jenderal Tom dan tuan Mage Burton yang dari tadi waspada karena memiliki perasaan buruk.
"sudahlah Akira jangan kau ejek dia nanti dia menangis dan anaknya yang bisu itu akan dijadikan tumbal buat dia lari" ucap ketua kelas dan itu semakin membuat yang lainnya tertawa lebih keras.
Juli yang hanya ditertawakan hanya diam dan menutupi kuping raphael karena ia tidak ingin raphael mendengar hinaan karena dia masih kecil dan Juli melihat ke arah ke 3 orang gadis yang biasa membelanya kini cuma diam memperhatikan. dan itu membuat Juli kecewa.
"hahahaha kukira aku bisa menemukan orang yang bisa membagi kesedihan ku, ternyata tidak semua orang sama saja hanya tau menghina dan membully orang yang tidak sempurna" gumam Juli pelan dan ingin menangis karena hinaan begitu parah untuk menghina seorang anak kecil yaitu raphael. ketika Juli bergumam seperti itu ia didengar oleh Jenderal dan tuan Mage Berton dan mereka merasakan yang Juli rasakan ketika melihat Juli menahan tangisnya untuk tidak membuat raphael sedih.
pemburuan terus berlanjut hingga malam dan semua orang beristirahat dengan mendirikan tenda masing-masing ketika Juli mencari tenda kosong untuk Raphael istirahat tidak ada 1 pun orang yang mau menerima nya dan mengusirnya. jadi Juli hanya mengambil kain lalu di beristirahat bersama Raphael di bawah pohon mati yang berjarak cukup jauh dari tenda para pahlawan dan prajurit.
ketika waktu jam makan malam semua orang asyik berpesta dan memakan daging yang mereka bawa dan itu membuat raphael ingin juga. dan mau tidak mau Juli pun pergi ke sana untuk meminta sedikit daging mereka.
__ADS_1
"Anooo... tuan-tuan boleh kah saya meminta daging anda sedikit untuk anak saya yang ingin makan?" tanya Juli meminta sedikit daging mereka. dan jawaban mereka membuat Juli sedikit emosi dan dia menahan amarahnya karena tidak ingin ribut. apa bila Juli melawan sudah pasti Juli kalah dengan levelnya yang paling rendah dan jumlah pahlawan dan prajurit lebih banyak yang berjumlah kurang lebih 500 orang.
"kau siapa haa? apa kau pengemis?"ucap kasar seorang prajurit yang memiliki otot lumayan tegas.
"pergi kau jauh-jauh dari kami, kau hanya mengganggu kami pesta" ucap prajurit lainnya yang kurus kerempeng.
"tapi tuan saya minta sedikit saja dagingnya buat anak saya makan" ucap Juli sekali lagi memohon.
"KALO KU BILANG PERGI YAA PERGI APA KAU INGIN KU BUNUH HAA?" Ucap pria yang berotot. lalu Juli pun pergi dengan kecewa dan menghampiri Raphael.
"hahahah...maafin ayah yaa ayah gak dapat dagingnya soalnya habis"ucap Juli berbohong dan melihat Raphael yang sedih yang dimana itu membuat Juli sakit di dada nya. dia merasa kecewa sama dirinya sendiri kenapa begitu lemah sehingga orang yang disayanginya juga ikut terkena imbasnya.
"ahhhh... Raphael gimana kalo kamu ikut ayah cari hewan untuk dimakan? nanti ayah yang masak seperti biasanya dan itu lebih enak daripada daging mereka" ucap Juli tersenyum semangat untuk menutupi kesedihannya.
Raphael yang awalnya sedih menjadi semangat dan melompat-lompat bahagia, karena menurutnya masakan Juli adalah yang terenak.
"yoshhhhhh.....mari anak ayah kita mencari hewan untuk dimakan" ucap Juli mengendong Raphael berlari ke dalam hutan mencari hewan. dan Juli tidak menyadari bahwa dia dari tadi di awasi oleh Jenderal Tom "sungguh nak Juli kau sangat kasian selalu dihina kau diam padahal kau adalah harapan dunia ini tapi kau yang selalu disakiti, maaf aku tidak bisa membantu karena aku juga tidak di terima di pasukan ini" ucap Jenderal juga sedih. yang dikatakan Jenderal benar bahwa dia tidak diterima dipasukan ini karena yang mengambil alih komando ini adalah Akira dan ketua kelas.
lalu Jenderal pun tetap mengikuti Juli dan raphael karena dia merasa bersalah juga tidak membantu. saat ini Juli sudah berkeliling sangat lama dan tidak menemukan hewan yang bisa dimakan dan ia juga sudah melihat Raphael yang menahan laparnya.
Juli yang melihat itu pun sedih dan tidak tahan lagi lalu dia memeluk raphael sambil menangis "Maafkan ayah raphael yang sudah gagal merawat mu, maafkan ayah yang tidak bisa di andalkan andai saja ayah kuat maka kau tidak akan seperti ini" ucap Juli menangis sambil memeluk raphael.
Raphael yang melihat ayahnya menangis dan berkata seperti itu pun ingin ikut nangis tapi dia tahan dan menghapus air mata Juli lalu ia menggerakkan tangannya seolah berkata "ayah tidak perlu bersedih , ayah sudah melakukan yang terbaik, dan raphael juga tidak menyalahkan ayah. ini juga salah Raphael karena lapar jadi ayah gak perlu merasa bersalah karena ayah kuat dan raphael selalu bersama ayah apa pun yang terjadi, karna ayah adalah yang terbaik" dan itu membuat Juli terdiam dan berkata "makasih Raphael makasih sudah ada di hidup ayah, ayah akan menjaga Raphael dengan nyawa ayah sendiri" ucap Juli lalu menghapus air matanya.
"xixixixi...maafin ayah mu yaa sudah melihat kan sisi lemah ayah" ucap Juli tersenyum dan Raphael hanya menggelengkan kepala seolah berkata "tidak apa-apa ayah" lalu Raphael memeluk Juli.
ketika mereka berpelukan Juli dan raphael melihat ada seekor anak rusa yang lewat dan Juli pun cepat² menangkap nya karna iya takut rusa itu lari dan raphael harus puasa malam ini.
dan Juli pun berhasil menangkap nya lalu mereka berdua berjalan agak jauh dari sana supaya tidak ketahuan yang lainnya. lalu mereka pun membakar daging itu dan memakannya.
"selamat makan" ucap Juli yang hanya di angguki oleh Raphael.
seusai makan mereka pun kembali ke pohon mati yang sebelumnya mereka pake buat istirahat sebelum mencari makan.
Raphael pun tertidur di dengan paha Juli sebagai bantal nya. Juli yang melihat Raphael tertidur pulas hanya tersenyum dan menyelimuti Raphael dengan kain dan berkata dengan pelan "makasih banyak yaa anakku, kau adalah cahaya ayah yang paling terang" ucap Juli dan tertidur sambil duduk.
Jenderal Tom yang dari tadi mengikuti mereka sudah menangis ketika melihat mereka didalam hutan tadi. dan Jendral tau selain dia ada juga orang yang mengikuti untuk mengawasi Mereka.
"tuan putri Natasha kau bisa keluar, bukannya tidak baik sembunyi terus di saat calon tunangan mu bersedih?" tanya Jenderal ke arah pohon yang ada di sampingnya dan ketika itu juga ada seorang wanita keluar dari balik pohon dan matanya sudah merah karena menangis.
"tuan putri kenapa kau tidak membantu mereka berdua? kau tau kan sesulit apa Juli selama dihutan mati untuk menghidupi makan Raphael?" tanya Jenderal ke arah Natasha yang masih menangis.
"aku tau aku salah Jendral karena sudah mendiaminya hikssss.... hiksss tapi aku tidak tau kalo darling perjuangan nya sangat berat di Hutan mati" ucap Natasha yang masih menangis.
"karna tuan putri sudah tau kenapa tidak kesana menemani dia tidur? lihat wajahnya? betapa sakitnya dia menahan diri selama ini dan selalu tersenyum ke arah kita semua, seolah semua baik-baik saja" ucap Jenderal. yang dimana dia melihat wajah Juli yang selama ini menyembunyikan kesedihannya untuk tidak menyusahkan orang lain.
"iyaa aku melihatnya Jenderal, aku akan menemani dia dulu Jenderal. saya pamit" ucap Natasha yang masih menahan tangisnya sambil mendatangi Juli yang tertidur dengan wajah penuh kesedihan.
"darling kau sungguh bodoh kenapa kau tidak bilang kalo kau menahan sakit selama ini. kau sungguh bodoh" ucap Natasha lalu iya tertidur di sebelahnya Juli dengan paha Juli sebagai bantal. dan Jendral yang melihat itu tersenyum dan kembali ke tendanya.
KEESOKAN PAGINYA...
"Hoammmmm..... kenapa kedua paha ku kesemutan? padahal kan cuman raphael yang tidur dipaha ku?" kata Juli pelan yang belum sadar dan masih mengumpulkan nyawanya.
ketika ia sudah sadar Juli melihat Raphael dan Natasha yang tertidur di pahanya dengan mata Natasha yang masih bengkak dan lembab karena nangis semalaman. "kenapa matanya bengkak dan basah? apa dia abis nangis? "batin Juli lalu membangun kan Raphael dan Natasha.
"Anooo....tuan putri Natasha bangun ini sudah pagi" ucap Juli hati-hati membangunkan Natasha dan ia menjadi dingin ke orang lain karena sejak kemarin dia sudah berjanji untuk tidak terlalu mempercayai orang lain kecuali itu orang terdekatnya.
lalu Natasha bangun dan melihat Juli yang meminta maaf dengan nada dingin " ahhh...maafkan saya tuan putri membangun kan Anda secara paksa tapi saya sengaja melakukannya karena ini sudah pagi dan waktunya anak saya sarapan" ucap Juli dingin yang membuat Natasha kaget dan sakit hati di dadanya karena Juli gak pernah kaya gini. dia selalu tersenyum ke orang lain dan Juli yang sekarang dia malah menjadi dingin dan tidak tersenyum.
"darling kenapa kau memanggilku dengan nama tuan putri? aku ini tunangan mu" ucap Natasha kesal untuk menyembunyikan rasa sakitnya karena dia juga sadar ini salahnya.
"ahh maaf tuan putri tapi ini waktunya makan anak saya dan saya tidak ingin anak saya telat makan nanti dia malah sakit , dan maaf tuan putri saya bukan tunangan anda putri kan tau sendiri saya ini lemah dan tidak pantas bahkan untuk makan anak saya dan saya sendiri saja susah. tuan putri, jadi tidak mungkin saya jadi tunangan anda" ucap Juli sedikit membungkuk dan dingin yang dimana itu membuat Natasha kaget dan menahan tangisnya.
"aku tau salah tapi kenapa kamu malah berubah? aku salah jadi hukum aku dan kembali lah seperti Juli sebelumnya" ucap Natasha yang masih menahan tangisnya yang ingin pecah.
"Maaf tuan putri Juli yang anda kenal dulu sudah tidak ada , sekarang yang ada hanya Juli yang ingin melindungi orang terdekatnya bahkan jika itu disuruh membunuh kaisar" kata Juli dingin dan yang dikatakan Juli benar YUUZAKI JULI yang baik dan murah senyum sudah tidak ada.
putri Natasha yang mendengar itu pun menangis dan berkata "baiklah jika itu mau hiksss....hiksss maka mulai sekarang juga tidak ada yang namanya Natasha yang bertunangan dengan Juli, yang ada sekarang Natasha yang ingin menjadi keluarga Juli dan melindungi Juli" ucap Natasha yang awalnya nangis menjadi serius dan penuh tekad yang dimana Juli melihat itu kaget dan kembali dingin.
"terserah kau saja tapi jangan pernah kau menyakiti keluarga ku" ucap Juli dingin dan mengajak Raphael sarapan daging sisa yang didapatnya tadi malam dan disitu Natasha masih mengikuti Juli.
"kenapa kau mengikuti kami?"tanya Juli dingin ke arah Natasha.
"kenapa aku tidak bisa ikut? aku juga mau makan bersama kalian. lagian aku juga termasuk Keluarga YUUZAKI JULI YANG INGIN MENGHANCURKAN KAISAR APA BILA MENGGANGGU KELUARGA KU" Ucap Natasha dengan membusungkan dadanya.
"haaa... terserah kau saja" ucap Juli dingin dan mengendong Raphael.
"Darling kalo boleh tau kau ingin memasak apa buat makan?" tanya Natasha disamping Juli.
"ntahlah aku tidak tau, itu bisa di pikirkan nanti dan berhenti memanggilku darling" ucap Juli dingin.
"ohhh okeh darling" ucap Natasha.
"kau masih memanggil ku darling" ucap Juli dingin sambil mendekati ke arah pohon.
"tidak darling" ucap Natasha semangat.
"terserah kau saja" ucap Juli lalu bergumam "tidak berubah selalu merepotkan" yang dimana itu dengar Natasha dan berkata "apanya yang merepotkan darling?" kata Natasha.
"kau yang merepotkan, bisa diam tidak? aku mau masak ini buat Raphael"ucap Juli dingin.
lalu Juli pun memasak daging dan memakannya bersama-sama. setalah makan mereka semua berkumpul untuk melanjutkan pelatihan.
DI KEDALAM DEATH FOREST BAGIAN LUAR
"Khiii.. khiii... khiii sepertinya akan ada pesta darah setelah ini " ucap sosok yang menyerupai iblis itu.
"siapkan pasukan kita akan membantai manusia itu" ucap iblis itu memerintah bawahannya.
disisi lain Juli dari tadi merasakan firasat buruk terhadap nya dan Raphael nanti.
"baiklah semuanya mari kita melanjutkan pelatihan ini dan membantai semua monster supaya kita menjadi yang terkuat m" ucap Akira yang sekarang mengambil alih komando.
"WOOOO.... HIDUP TUAN AKIRA.... HIDUP" Ucap semangat para prajurit.
__ADS_1
"iyalah hidup kalo gak hidup apain dia berdiri disitu" gumam Juli pelan yang didengar oleh Natasha.
"kau jahat sekali darling" ucap Natasha sambil tertawa kecil yang dimana ke dua gadis lainnya bingung dengan Natasha bukannya mereka ingin mendiami Juli?.
"cihh perduli apa aku sama dia" ucap Juli dingin lalu berjalan kebelakang sambil mengandeng tangan raphael yang diikuti Natasha di sebelah Raphael.
lalu mereka pun melanjutkan perjalanan dan selalu membunuh monster yang ada dihadapan mereka. ketika di pertengahan jalan Akira berkata "woii sampah yang dibelakang bisa tidak berguna sedikit?" ejek Akira yang membuat semua orang tertawa kecuali Natasha, Jenderal Tom, tuan Mage Burton dan kedua gadis yang masih mendiami Juli.
lalu Natasha berkata "apa kau pantas berkata seperti itu tuan Akira ?" kata Natasha sambil mengeluarkan aura level 11.000 yang membuat orang disana takut kecuali Jenderal, tuan Mage Burton, dan Juli yang melindungi Raphael dengan aura Pernafasan petir nya.
"ayah dan anak sama aja tidak mikir kalo mengeluarkan aura. sudah tau ada anak kecil pukkk....." kata Juli dingin sambil memukul kepala Natasha.
"auwww sakit darling, bukannya pantas mereka mendapatkan itu lagian aku sudah berjanji bila ada yang menganggu keluarga Yuuzaki Juli maka aku dluan yang maju" ucap Natasha kesal dan sedikit cemberut.
"kau tahan lah aura mu ada anakku disini" ucap Juli cuek dan mengendong Raphael barisan paling belakang.
ketika Juli pergi Natasha kembali menatap Akira sambil mengeluarkan aura nya dan berkata " bajingan lihat kau nanti ku balas" ucap Natasha lalu pergi mendatangi Juli.
yang membuat semua orang disana menjadi takut dengan Natasha.
mereka pun melanjutkan pemburuan Sampai ketika mereka berhenti karena banyak melihat bercak darah disekitar pohon yang dimana itu sangat mengerikan.
Juli yang paham situasi ini langsung berkata "Raphael berlindung dibelakang ayah dan Natasha bantu jaga Raphael" ucap Juli dengan serius yang membuat disana menjadi tegang.
tiba-tiba dibalik pohon banyak sekali orge keluar dari sana yang berjumlah lebih dari 700 dengan rata-rata levelnya 3.500. yang membuat disana menjadi panik dan bersiap-siap menyerang para orge.
{ilustrasi orge}
"Semuanya jangan takut dan bersiap lah" ucap Akira dengan lantang padahal dia sendiri ketakutan.
mereka pun mulai menyerang para orge dengan sihir mereka masing-masing. dan para knight, Lancer maju duluan bersama tank. sedangkan Assassin membunuh secara diam-diam.
penyerangan terus berlanjut hingga 1 jam berlalu dan para prajurit banyak yang tewas sedangkan para orge baru separuh yang terbunuh dan masih banyak lagi yang hidup.
sedangkan Juli dia tidak menyerang karena dia menunggu bahaya yang lebih parah daripada ini dan benar saja ketika para Assassin dari kerajaan mau membunuh orge tiba-tiba mereka mati karena di serang seorang iblis yang memiliki aura sangat mengerikan dan itu membuat Jenderal dan tuan Mage terkejut.
"sial kenapa ada bangsawan iblis di daerah luar death forest" ucap Jenderal sambil menahan kesalnya.
iblis itu membawa tombak dan memiliki badan berwarna merah dan sedikit ke Oren dan diikuti oleh sebuah monster singa berkepala 3 yang disamping kanan kepala naga , samping kiri kepala kambing,dan di tengah kepala singa memiliki sayap kelelawar dan ekor kalajengking.
"khiii... khiii ternyata ada yang tau kalau aku seorang iblis bangsawan khiii... khiii sungguh menarik" ucap iblis itu.
lalu iblis itu melihat ke sekeliling dan dia bertatapan dengan Juli yang dimana membuat iblis itu menggigil.
"anak muda yang paling belakang siapa kau sebenarnya? kenapa ketika aku menatap mu aku merasa terancam?" tanya iblis itu kepada Juli.
"cihhhh.... perkenalkan dirimu sebelum menanyakan nama orang lain" ucap Juli dingin yang membuat iblis itu terkejut dan tersenyum menyeringai.
" sombong sekali kau manusia tapi aku suka sifat mu itu....baiklah perkenalkan nama ku Louise seorang demon bangsawan tingkat lesser demon" ucap iblis itu
"bisa kau memperlihatkan level mu soalnya aku ingin mengecek kekuatan musuh ku" ucap Juli santai seakan ini bukan bahaya tapi sebenarnya dia ketakutan saat ini.
"apa yang kau lakukan sampah haa? apa kau ingin mati" ucap ketua kelas dengan kasar yang dimana ia tidak peduli lagi dengan image nya dan hanya ingin selamat.
"khiii...khii manusia yang menarik baru ini aku bertemu manusia yang santai saat mendengar kata iblis bangsawan, baiklah aku akan memperlihatkan level ku" ucap iblis itu lalu keluarlah aura level 16.000 dan membuat semua orang disana pucat termasuk Juli.
"bagaimana manusia apa kau takut?" ucap Louise.
"baiklah kau seorang iblis terhormat kan? pasti memiliki aturan bagaimana kalo kita berduel?" ucap Juli dingin dan menyeringai seram.
yang dimana itu membuat semua orang disana terkejut dan "DARLING APA KAU GILA HAA? KENAPA KAU MENGAJAK DIA BERDUEL?" Ucap Natasha marah ke Juli karena dia takut Juli kenapa-napa.
"nak Juli yang di katakan tuan putri benar kau hanya mati bila berduel dengannya" ucap Jenderal yang khawatir. dan Juli yang melihat itu kaget dan tersenyum.
"Jendral tidak perlu khawatir dan ikuti saja rencana ku" ucap Juli pelan.
"khii..khii manusia yang menarik kau mengajak ku berduel apa kau bercanda bahkan level mu hanya 150" ucap Louise yang mengejek Juli.
"heeee...apa para iblis bangsawan takut dengan manusia yang berlevel 150?" kata Juli yang kembali mengejek Louise.
dan itu membuat Louise kesal dan berkata " cihhhh... manusia lemah seperti kau aku takut? baiklah mari kita berduel ku terima tantangan mu" ucap Louise kesal dan tidak tau apa yang direncanakan Juli.
"karena kau kuat dan aku lemah bagaimana kita buat persyaratan? persyaratan nya tidak banyak hanya 3 saja apa kau setuju?" ucap Juli ingin memancing Louise.
"cihhhh..hanya 3 saja apa yang ku takutkan? sebutkan apa syaratnya?"tanya Louise.
"baiklah akan ku sebut kan syaratnya dan kau harus menepati janji mu untuk tidak melanggar:
1.) ketika aku berduel denganmu biarkanlah orang-orang dari kelompok ku pergi dan jangan ada yang dibunuh.
2.) tidak boleh menggunakan sihir hanya diperbolehkan menggunakan teknik beladiri.
3.) ini duel hidup dan mati" ucap Juli yang di akhiri dengan senyum menyeramkan dan membuat disana orang kaget karena syaratnya Juli.
"apa hanya itu aja syaratnya? baiklah kalo gitu ku terima tantangan mu atas nama emperor demon God" ucap iblis itu melukai tangannya dan diarahkan ke langit. aku yang melihat itu tersenyum gentir Karena aku takut tapi aku terpaksa lakuin ini buat lindungi Raphael sama Natasha yang sudah ku anggap keluarga sendiri.
****
***GIMANA CERITANYA MENARIK GAK? JANGAN LUPA KOMEN YAA BUAT KASIH SARAN.
JANGAN LUPA
-LIKE
-VOTE
-SHARE
DAN KASIH BINTANG 5
UNTUK PENJELASAN TINGKAT BANGSAWAN RAS LAIN AKAN DIJELASKAN PADA SAAT BERLATIH DENGAN DEWA KUNO.
__ADS_1
MAKASIH YAA SUDAH BACA CERITA KU DAN BYEEEEEEE BYE***