Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Mulai Mengagumi


__ADS_3

Di saat Ais sedang memejamkan matanya untuk berdoa. Bagas malah tak fokus untuk berdoa dia malah menatap Ais yang sedang memejamkan matanya untuk berdoa.


"Ternyata jika di lihat lebih seksama, Ais cantik sekali. Apa lagi tanpa polesan sama sekali, cantiknya begitu alami," batinnya tak sadar memuji paras wajah Ais.


Selagi Bagas terus saja menatap ke arah Ais, tiba-tiba Ais membuka matanya dan mereka tak sengaja saling tatap. Keduanya saling mengalihkan pandangannya, sama-sama salah tingkah.


"Mari Den, kita makan," ajak Lukman mengagetkan lamunan Bagas.


"Eh iya, pak." Bagas salah tingkah menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Ais pun ingin terkekeh tapi di tahan, dia mengambilkan makanan untuk Bagas, Lukman, dan si kembar.


Pada saat makan, Bagas hampir tak percaya. Karena rasa masakan yang dia lahap begitu lezatnya.


"Aku baru pernah makan masakan selezat ini, ini mah seperti masakan yang ada di restoran-restoran ternama," batin Bagas hingga tak sadar dia makan dengan lahapnya.


"Den, bagaimana masakan putri bapak ini?" tanya Lukman hampir saja membuat Bagas tersedak karena dia benar-benar terlena dengan masakan Ais.


"Amazing, wenak sekali pak," ucap Bagas tak sadar memuji masakan Ais.


"Alhamdulillah, jika Aden suka nambah lagi saja nggak apa-apa," ujar Lukman.


"Nggak usah, pak. Nanti makanan di rumah utuh dech nggak aku makan," tolak Bagas secara halus.


Setelah acara makan malam selesai, Bagas langsung berpamitan pulang. Padahal niat hatinya ingin menanyakan kondisi Ais, tetapi semua terlupakan pada saat Lukman menawari dirinya untuk bergabung dalam acara makan malam.


Seperginya Bagas, Lukman meraih amplop gajinya yang sedari tadi masih di letakkan di meja ruang tamu.


"Loh, ini kok banyak sekali? ini kok dua kali lipat dari gajiku ya?" batin Lukman dia pun langsung mencari ponselnya untuk menelpon Bagas menanyakan tentang gaji tersebut.


"Ayah, sedang mencari apa celingukan seperti itu?" tanya Ais yang sedang membereskan meja makan. Karena ayahnya kembali lagi ke meja makan untuk mencari ponselnya.

__ADS_1


"Kamu lihat ponsel ayah nggak?" tanyanya seraya terus mencari celingukan ponselnya kesana kemari.


"Bukannya terakhir ayah duduk di ruang tamu, coba ayah tengok di bawah rak televisi. Biasa ayah suka meletakkan di bawah rak televisi," ucap Ais.


Mendengar apa yang di katakan oleh Ais, ayahnya baru teringat dan ia melangkah ke ruang tamu tepatnya menuju rak bawah televisi.


"Astaghfirullah aldazim, kenapa aku jadi pelupa seperti ini ya?" gumamnya seraya meraih ponselnya.


Lantas ia menelpon Bagas saat itu juga. Kebetulan Bagas baru saja sampai di rumahnya karena jarak dari rumah Bagas ke rumah Ais tak begitu jauh. Bagas menyambangi rumah Lukman juga tak mengenakan mobil melainkan sepeda motor.


"Hallo Pak Lukman, ada apa ya?"


"Den, Bagas. Maaf ya bapak ganggu. Ini kok kasih gajinya kelebihan banyak, masa dua kali lipatnya?"


"Oh iya, pak. Tadi niatnya saya akan memberitahu bapak tapi tiba-tiba lupa begitu saja. Saya sengaja, yang separuh itu untuk menggantikan hasil angkot Ais. Saya niatnya meminta supaya Ais untuk sementara waktu jangan narik angkot. Biar saya yang mengganti hasil dari narik angkot tersebut."


"Terima kasih ya, Den. Nanti saya katakan pada Ais lagi supaya besok tak usah narik angkot dulu. Kalau begitu susah dulu ya, Den."


"Iya, pak.


"Aneh, padahal terlihat jelas penampilan barbar urakan dan cerobohnya minta ampun. Tetapi bagaimana bisa dia memasak ya? apa tadi pak Lukman bohong ya, pasti masakan itu pesan. Hem, nggak lah. Nggak mungkin pula, Pak Lukman menyia-nyiakan uang hanya untuk membeli makanan di luaran," batinnya terus saja tak percaya jika Ais bisa memasak.


Selagi melamun, orang tuanya datang mengagetkan Bagas dengan tepukan tangan mereka di bahunya.


"Bagas, kok malam-malam bengong di sini. Makan sana, kamu kan belum makan malam," pinta Eti.


"Aku sudah makan, mah," ucapnya singkat.


"Memangnya kamu habis makan di mana, banyak bukannya barusan kamu berpamitan untuk ke rumah, Pak Lukman?" tanya Broto mengerutkam dahinya.


"Iya, pah. Aku tadi makan di rumah, Pak Lukman."

__ADS_1


Mendengar apa yang di katakan oleh Bagas, orang tuanya saling berpandangan masih saja tak percaya dengan apa yang barusan di katakan oleh Bagas.


"Yang benar saja, Bagas? tumben kamu mau makan di rumah orang, apa lagi di rumah, Pak Lukman?" Broto masih belum percaya.


"Pah-mah, aku juga nggak tahu.Pada saar baru sampai di rumah, Pak Lukman.Aku langsung saja di ajak makan. Dan yang aku heran, masakan yang aku makan itu masakan Ais. Herannya lagi kok masakannya lezat se lezat masakan restoran," ucap Bagas.


"Loh, dia kan seorang wanita jadi y ma harus bisa masaklah. Kenapa kamu seperti tak percaya begitu?" tanya Eti heran.


"Mah, jelas aku heranlah. Lihat saja penampilannya seperti apa. Gaya berpakaian urakan, barbar, dan juga ceroboh sekali. Masa iya wanitanya seperti itu bisa urus kerjaaan rumah? yang ada dia itu pintar buat onar tahu," ucap Bagas.


"Bagas, kamu itu jangan menilai orang dari luarannya saja. Belum tentu luarnya urakan dalamnya juga urakan. Dan juga belum tentu luarnya bagus dalamnya bagus juga. Jadi kamu hati-hati saja dalam bergaul baik dengan wanita ataupun pria," ucap Broto.


"Eh bagaimana kalau sesekali kita pinta Ais untuk masak di rumah kita," saran Eti.


"Ih, mamah? apa-apaan sih, aku nggak mau ngomong sama, Pak Lukman," ucap Bagas ketus.


"Biar, mamah. Besok yang bicara pada, Pak Lukman," ucap Eti antusias.


"Nggak usah, mah! nanti yang ada malah di sini buat ulah, dia kan sangat ceroboh dan tak bisa berhati-hati," larang Bagas.


"Bagas, kami kan juga penasaran dengan masakan Ais yang barusan kamu bilang lezat bagai masakan restoran," ucap Broto.


Mendengar apa yang di katakan oleh orang tuanya, Bagas sudah tak bisa berkata lagi. Dia pun beranjak bangkit dari duduknya dan berlalu pergi masuk ke dalam rumahnya menuju ke kamarnya.


Sementara saat ini Lukman sedang mengajak bicara, Ais.


"Ais, mulai besok kamu harus nurut ya sama ayah. Besok jangan narik angkot dulu. Sampai kamu sembuh total luka jahitannya," ucap Lukman.


"Ayah, jangan larang aku. Lagi pula ayah lihat kan, aku tak apa-apa baik-baik saja kan?" ucap Ais tak suka dengan larangan ayahnya.


"Ais, Den Bagas itu sudah memberi gaji ayah dua kali lipat. Dia mengatakan supaya kamu untuk sementara jangan narik angkot," ucap Lukman.

__ADS_1


"Mana uangnya, ayah. Biar besok aku yang kembalikan. Bukannya ayah sendiri yang selalu mengajarkan jangan menerima belas kasihan orang selama kira masih bisa berdiei tegak untuk mencari nafkah sendiri."


Ais menengadahkan tangan kanannya meminta sebagian gaji ayahnya.


__ADS_2