Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Rindi Berulah Lagi


__ADS_3

Mendengar permintaan Rindi, waiters tersebut tidak langsung mengiyakan.


"Maaf nona, jika anda ingin berbicara penting sebaiknya ke ruangan saja. Karena ia orang sibuk jadi tak bisa keluar masuk begitu saja," ucap waiters tersebut.


"Baiklah, antarkan saya ke ruangannya."


Dan pada saat itu juga waiters tersebut mengantarkan Rindi ke ruang kerja Ais.


"Tok tok tok tok"


waiters mengetuk pintu ruang kerja Ais.


"Masuk saja tidak dikunci," ucap Ais yang sedang Ais duduk di kursi kerjanya.


Ais duduk menghadap ke arah balkon ruangan itu. Hingga tak terlihat wajahnya tapi yang terlihat punggung kursi.


"Nona, ada yang ingin bertemu dengan anda. Ini orangnya sudah ada di sini," ucap waiters.


"Baiklah, kalau begitu kamu lanjutkan lagi kerjamu ya," pinta Ais.


"Baik, nona."


Waiters tersebut berlalu pergi dari ruang kerja Ais.


"Silahkan duduk, ada yang perlu saya bantu?" tanya Ais kemudian ia membik kursi tempat duduknya hingga kini berhadapan langsung dengan Rindi.


Keduanya sama-sama terhenyak kaget pada saat saling bertatapan.


"Hey, kamu gadis barbar! kenapa kamu ada disini, lancang sekali ya? apa kamu sudah nggak waras ya, sehingga kamu duduk di singgasana orang lain?" ejek Rindi.


"Astaga aku pikir kamu ini sudah mati, ternyata masih hidup dan ada di hadapanku pula. Aku yang punya restoran ini, jadi ya wajar kalau aku duduk di singgasana ini?" ucap Ais lantang.


"Hah, mimpi kamu? mana ada wanita miskin dan rendahan serta barbar seperti kamu pemilik restoran mewah ini," ucap Rindi tidak percaya.


"Hem, ya sudah jika tak percaya. Pergilah dari hadapanku, karena aku tak ingin membuang waktuku untuk hal yang tidak penting," usir Ais.

__ADS_1


"Seenaknya saja kamu mengusir aku? kamu pikir bisa semudah itu, awas saja ya akan aku adukan pada pemilik restoran ini," ancam Rindi.


"Hhhaaa panggil sama pemilik restoran ini, supaya mengusir aku sekarang juga," ucap Ais tak bisa lagi menahan tawanya.


"Hem, baiklah. Tunggu saja ya!"


Saat itu juga Rindi keluar dari ruang kerja Ais. Ia mencari salah satu pelayan yang sedang melintas. Dan ia mencekal paksa pelayan itu untuk ikut dirinya.


"Mba, maaf ini apa-apaan seperti ini? tangan saya sakit," ucap pelayan itu tapi Rindi tak menghiraukan rintihan sakit si pelayan.


Ia membawa paksa pelayan itu masuk ke ruang kerja Ais.


"Mba, aku ingin minta tolong pada Mba untuk mengusir wanita yang ada di kursi itu!" pinta Rindi seraya menatap ke arah Ais.


"Astaga...aku pikir ada apa. Aku sedang kerja di cekal paksa. Non Ais, maaf ya bukan maksud saya menghentikan aktifitas kerja."


"Tapi wanita ini yang telah dengan sengaja membawa paksa saya ke ruangan nona."


Pelayan ini tertunduk takut, tetapi Ais hanya tersenyum saja.


"Baiklah, nona. Kalau begitu saya permisi dulu."


Namun pada saat pelayan ini akan pergi, Rindi menghadang jalannya.


"Ada apa lagi sih, nona? maaf saja saya tidak mau membantu anda," ucapnya seraya beralih begitu saja tetapi Rindi justru mencekal lengannya.


"Heh, kamu lancang tak mau bantu saya ya? nanti saya adukan pada atasanmu untuk memecatmu! mau kamu?" bentak Rindi.


"Maaf, apa anda masih tak tahu juga jika Non Ais itu yang punya restoran ini? maaf ya, saya sedang banyak kerjaan."


Pelayan tersebut langsung menepiskan cekalan tangan Rindi. Sementara Rindi bingung harus minta tolong pad siapa untuk mengusir Ais dari ruangan yang menurutnya itu bukan ruang kerja Ais.


"Hheee masih kurang percaya juga jika gadis barbar dan miskin ini yang punya restoran mewah dan viral ini? sana kamu panggil semua pelayan yang ada di restoran ini untuk mengusir aku," tantang Ais sinis.


"Awas saja ya kamu, aku akan datang lagi bersama dengan orang-orang yang akan mengusir kamu dari ruangan ini. Dan aku juga akan membawa orang yang benar-benar pemilik restoran ini!"

__ADS_1


Rindi melangkah pergi dari ruang kerja Ais untuk mencari sebuah pembuktian bahwa Ais bukanlah pemilik restoran super mewah dan viral itu.


Sementara Ais melangkah keluar dari ruang kerjanya dan ia melangkah mengikuti langkah kaki Rindi, membuat Rindi sejenak menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Ais.


"Hem, kamu takut juga ya? menyerah juga kan, sekarang kamu mengaku kan, jika kamu ini bukanlah pemilik restoran ini?" ejek Rindi.


"Aku sama sekali tidak ada urusannya denganmu. Aku keluar dari ruang kerjaku karena akan menemui pelanggan baruku."


Ais mendahului Rindi yang sedari tadi terpaku menatap dirinya. Ia memang sengaja keluar dari ruang kerjanya karena ingin menemui sakdj satu pelanggan barunya yang akan memakai jasa restoran untuk suatu acara besar di sebuah hotel berbintang lima, yakni vavars pernikahan anak seorang pejabat.


Hingga yang akan Ais temui ini adalah seorang pejabat tinggi kenegaraan setara dengan anggota dewan.


"Selamat pagi, Nona Ais."


"Selamat pagi, Pak Bowo. Sungguh suatu kehormatan bagi kami, karena bapak mau datang singgah di restoran kami ini."


"Saya juga sangat senang bisa meluangkan waktu untuk datang kemari. Karena saya juga ingin membicarakan tentang rencana saya waktu itu."


"Baiklah, Pak Bowo. Mari silahkan duduk."


Ais dan Pak Bowo duduk berhadapan. Rindi yang baru saja sampai, sudah berburuk sangka pada Ais dan Pak Bowo.


"Oooh...jadi seperti ini perbuatanmu ya gadis miskin dan barbar. Nanti aku adukan pada Bagas supaya ia memutuskan hubungannya denganmu!" ancam Rindi.


"Maaf, Non Ais. Dia itu siapa ya, kok perkataannya tidak sopan seperti itu?" tanya Pak Bowo menatap sinis ke arah Rindi.


"Entahlah, pak. Saya juga tidak tahu, dari tadi ia ada di restoran ini marah-marah tak jelas pada saya. Mungkin saja pikirannya agak sedikit terganggu. Mohon maaf atas ketidak nyamanannya ya, pak. Saya akan memanggil security segera."


Sejenak Ais melambaikan tangan pada security untuk segera mendekat.


"Ada apa ya, Non Ais?" tanya security tersebut.


"Tolong usir dia, dan pastikan lain waktu jangan sampai dia masuk ke restoran ini Karena dia hanya bikin onar, dan satu hal lagi pak. Jika wanita ini masih saja nekad masuk ke restoran ini, telpon saja ke rumah sakit jiwa untuk membawanya," pinta Ais.


Hingga saat itu juga Rindi di seret paksaole security di bawa pergi dari restoran Ais cabang kedua.

__ADS_1


"Sialan kamu ya! dasar gadis miskin dan barbar! aku tidak akan tinggal diam atas apa yang kamu lakukan padaku! akan aku balas kamu!" bentaknya pada saat ia di seret paksa oleh security.


__ADS_2