
Tak terasa sudah satu bulan terlewati dan Ais merasa senang karena akhirnya dia sudah bisa narik angkot lagi.
"Ayah, ini kan sudah sebulan lewat beberapa hari. Berarti aku sudah boleh narik angkot lagi kan?" tanya Ais untuk memastikannya.
"Lantas bagaimana dengan tawaran dari Den Bagas yang mau kamu menggantikan posisi ayah, bahkan ia berani membayar dua kali lipat. Ayah nggak enak juga jika menolak kemauannya," ucap Lukman bingung.
"Ayah, katakan saja padanya aku lebih nyaman bekerja menjadi sopir angkot dari pada menggantikan ayah. Lagi pula aku tiap sore juga bekerja memasak di rumahnya, itu bukannya sudah cukup untuk menambah biaya hidup kita kan , yah?" ucap Ais.
"Begini saja, kamu bicara sendiri saja pada Den Bagas ya. Ayah nggak enak ngomongnya," pinta ayahnya.
"Baiklah, ayah."
Saat itu juga pada saat Ais selesai memasak, ia pun memberanikan diri berbicara pada Bagas.
"Aden, nanti setelah selesai makan saya ingin bicara sebentar sama Aden ya," ucap Ais.
"Hem," jawabnya singkat membuat Ais sedikit geram.
Beberapa menit kemudian, Bagas menghampiri Ais yang sedang menunggunya duduk di kursi teras halaman.
"Memangnya kamu ingin mengatakan apa, heh?" tanya Bagas ketus.
"Kata ayah, Aden meminta saya untuk menggantikan posisi ayah ya?" tanya Ais untuk memastikan.
"Iya, tapi kenapa kamu lama sekali belum menjawabnya?" ucap Bagas ketus.
"Kan waktu itu saya belum di izinkan kerja kalau belum sebulan. Kata ayah, saya harus berada di rumah selama sebulan," ucap Ais.
"Lantas sekarang sudah satu bulan kan, berarti kamu akan menyanggupinya kan?" tanya Bagas.
"Den, saya minta maaf ya. Saya nggak bisa menerima tawaran dari Aden. Saya akan tetap kerja menarik angkot saja, den. Karena saya sadar diri suka buat ulah dan ceroboh. Saya nggak mau jika saya kerja dengan Aden yang ada nanti buat masalah terus seperti waktu itu." Ais menangkupkan kedua tangannya di dada.
__ADS_1
"Hem, baiklah jika begitu. Berarti kamu siap saja melihat ayahmu saya rumahkan," ucap Bagas ketus.
"Loh kok Aden begitu, ini namanya Aden memaksa dong?" ucap Ais mulai kesal.
"Memang saya memaksa, kamu nggak terima? ya sudah sana kamu terus saja jadi sopir angkot panas-panasan!" bentak Bagas hingga terdengar oleh Eti dan Broto.
Mereka pun kemudian keluar menghampiri Bagas dan Ais.
"Ada apa sih, Bagas? kok suaramu nyaring terdengar hingga ke dalam rumah?" tanya Eti heran.
"Ini, mah. Ais di buat enak nggak mau!" ucap Bagas kesal.
"Maksudnya?" tanya Broto semakin nggak mengerti.
Lantas Bagas menceritakan pada orang tuanya perihal dirinya meminta Ais menggantikan posisi Lukman dan dia mau memberikan gaji dua kali lipat.
"Niatku kan baik, mah-pah. Supaya Ais itu tak lagi kerja di jalanan kan bahaya dan juga kepanasan kehujanan, berkumpulnya dengan para sopir sedangkan dia kan seorang gadis."
"Mah-pah, kenapa malah kalian senyam senyum sih? apa ada yang lucu dengan yang aku katakan tadi?" tanya Bagas menautkan alisnya.
"Hehehe nggak kok Bagas, kami senang saja dengan niat baik kamu," ucap Broto tak ingin membuat anaknya malu di depan Ais. Walaupun ia tahu jika sebenarnya anaknya diam-diam itu suka pada Ais.
"Tapi Aisnya malah menolak kebaikan aku, bagaimana sih?" napas Bagas kembang kempis.
"Tuan-Nyonya, bukan saya menolak kebaikan Aden. Tapi sudah saya jelaskan tadi jika saya itu tak ingin membuat ulah dengan, Den Bagas. Dulu pada saat saya menggantikan ayah, Den Bagas sering mengadu pada ayah katanya saya ini setiap hari membuat ulah. Dan bahkan Aden yang terus mengatakan supaya ayah saya cepat lekas sembuh karena sudah tak ingin saya yang menyopiri," ucap polos Ais.
"Saya sadar diri kok, makanya saya menolak karena saya tak ingin setiap hari membuat Aden marah-marah terus," ucap Ais.
"Tuh dengar, Bagas. Nanti kamu nya tiap hari laporan ke Pak Lukman?" ucap Eti terkekeh.
"Aaahh mamah mah begitu, bukannya membela anaknya malah membela Ais," Bagas langsung naik darah.
__ADS_1
"Lihatlah, sikapmu ini Bagas. Kamu gampang sekali marah seperti ini. Seharusnya kamu ini mengurangi sikap burukmu yang gampang sekali marah," ucap Broto
Bagas hanya diam saja, dia pun menyadari akan sikap buruknya yang mudah sekali marah.
"Ais, aku tidak akan marah-marah lagi padamu. Dan tak akan mengadu apa pun pada ayahmu jika nanti kamu berulah. Tapi tolong di pikirkan lagi tawaranku, karena itu juga demi kebaikanmu juga ayahmu," ucap Bagas.
"Tumben nech anak tiba-tiba selow begitu," batin Broto.
Sejenak Ais pun terdiam, seolah sedang berpikir dengan tawaran dari Bagas tersebut.
"Aden itu sama saja memaksa, jika saya tak mau akan pecat ayah saya kan? lah jika saya mau berarti kan sama saja ayah saya juga sudah tak bekerja kan?" Ucap Ais.
"Tapi kan berbeda, Ais. Jika ayahmu di pecat berarti kan pendapatan kalian berkurang, dan aku tahu kok pendapatan angkot itu tidak setiap hari sama kan? kadang sepi kadang rame."
"Jika kamu kerja sama aku, dapat gaji tetap dan itupun dua kali lipat dari gaji ayahmu. Kamu tidak rugi walaupun ayahmu sudah tak bekerja."
"Jika ayahmu aku pecat dan kamu tetap bertahan jadi sopir angkot, aku yakin penghasilanmu belum tentu mencukupi untuk kebutuhan keluargamu." ucap Bagas.
"Ya sudahlah, dengan sangat terpaksa saya terima menggantikan posisi ayah. Dari pada ayah saya di pecat, ini saya lakukan hanya demi ayah dan juga kedua adik saya," ucap Ais.
Mendengar akan apa yang di katakan oleh Ais, hati Bagas entah kenapa berbunga-bunga senang sekali.
"Nah begitu dari tadi kek, pake acara drama tolak menolak saja," ucap Bagas yang membuat orang tuanya kembali terkekeh.
"Nanti kalau Ais sudah menjadi sopirmu lagi, kamu jangan galak-galak lagi. Jangan marah-marah lagi, nanti yang ada Ais malas kerja sama kamu," ucap Eti menasehati.
"Mah, marahnya aku kan karena Ais yang terlebih dahulu membuat masalah karena kecerobohannya itu," Bagas tak terima hingga dia pun membela dirinya.
"Sudah tak usah di perdebatkan lagi. Kan sudah clear dan deal jika Ais bersedia menggantikan posisi ayahnya," lerai Broto.
"Den-nyonya-tuan, kalau begitu saya pamit pulang ya?" ucap Ais.
__ADS_1
Dia pun langsung pulang dengan berjalan kaki, walaupun sebenarnya Bagas ingin mengantarkan tapi Ais tak mau. Dia tak ingin bermasalah selama dalam perjalanan pulang. Lagi pula menurut dia jarak rumah kan dekat, lebih nyaman saja dengan berjalan kaki.