Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Sama-Sama Lega


__ADS_3

Ais pun menutupi rasa malunya dengan pura-pura bertanya pada bibi.


"Bi, sudah selesai makannya? yang kenyang sekalian loh ya, di rumah ini nggak boleh malu-malu kalau untuk soal makanan," ucap Ais menutupi rasa malunya.


"Sudah non, malah bibi makannya nambah. Masakannya seperti masakan restoran enak banget," puji bibi.


"Memang itu masakan restoran, bi. Kan calon istri saya ini punya restoran," ucap Bagas.


"Hhee iya, Den..Maaf ya saya lupa," ucap si bibi.


Tak berapa lama, Ayah Lukman nongol dari balik pintu ruang tamu. Ia langsung duduk dan pandangan tertuju pada si bibi yang tersenyum ke arahnya. Ia pun ikut tersenyum.


"Ayah, minumlah teh ini. Ayah kan nggak suka teh panas dan nggak suka es teh. Ini sengaja aku buat tadi supaya lekas dingin. Ayah tinggal meminumnya saja."


Ais hapal dengan apa yang disukai dan tak di sukai oleh ayahnya. Begitu pula dengan ayahnya juga seperti itu. Tahu apa saja yang menjadi kesukaan Ais dan apa saja yang tak di sukai oleh Ais.


Sejenak Ayah Lukman meminum satu gelas porsi besar teh manis dingin tapi yang bukan dari air kulkas. Setelah itu Ais baru bisa menceritakan perihal bibi pada Ayah Lukman.


Dengan seksama Ayah Lukman mendengar cerita dari Ais. Dan ia sama sekali tak menolak keinginan Ais untuk mempekerjakan bibi di rumah mereka.


"Selamat datang di rumah kami ya, bi. Mohon maaf kondisi rumah seperti ini, sempit. Ais, apa kamu juga sudah kenalwn dengan bibi?" tanya Ayah Lukman.


"Astaghfirullah aladzim, belum ayah." Ais menepuk jidatnya sendiri.


"Maaf ya, bi. Dari tadi aku malah nggak memperkenalkan diri. Namaku Ais, di sebelahku ini si ganteng Mas Bagas. Dan yang terganteng itu Ayah saya namanya Ayah Lukman. Dan yang tadi dia bocil kembar adik-adikku namanya Ade dan Ando. Kalau boleh tahu, nama bibi siapa?" tanya Ais.


"Nama saya, Asih."


"Hem, baiklah kalau begitu saya panggilnya Bi Asih ya. Oh ya, bibi sebaiknya istirahat saja ya. Yuk aku antar ke kamar bibi, pasti bibi lelah kan? bibi mulai kerja besok pagi saja ya."

__ADS_1


Saat itu juga Ais mengajak bibi ke kemar yang kebetulan dekat dengan dapur ada satu kamar kosong.


"Ini kamar bibi, maaf ya bi jika sempit dan kotor. Karena aku belum sempat membersihkannya," ucap Ais.


"Ini mah bersih, non. Bahkan kamar ini besar di banding kamar saya yang ada di tempat majikan saya yang dulu," ucap Bibi.


"Ya sudah, istirahat ya bi. Biar besuk energi bibi full untuk membantu saya mengurus rumah ini," ucap Ais tersenyum ramah.


Ais meninggalkan si bibi, ia pun kembali ke ruang tamu menemui Ayah Lukman dan Bagas.


"Ayah, katanya Ais ingin bicara penting sama kita," ucap Bagas sudah tak sabar ingin mendengar apa yang akan Ais katakan.


"Hem, belum juga aku duduk sudah tak sabar." Ais melirik ke arah Bagas seraya menjatuhkan pantatnya di sofa.


"Cie.. cie...ngambek nech ye..." gida Bagas terkekeh.


"Susah belum ngeledeknya, kalau belum sebaiknya di lanjut saja. Biar aku nggak nggak usah ngomong saja."


Ayah Lukman hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan calon menantunya.


'Kalian itu tak ubahnya seperti bunglon yang gampang sekali berubah-ubah. Kadang kalian itu romantis seperti Romeo dan Juliet, tapi kadang seperti Tom dan Jerry seperti sekarang ini," ucap Ayah Lukman yang membuat Bagas dan Ais saling berpandangan satu sama lain dan lada akhirnya tertawa bersama.


"Ayah-Mas Bagas, tolong dengarkan ya. Aku ingin bicara serius loh. Tidak ada canda tawa untuk sejenak ya," pinta Ais.


Baik Ayah Lukman ataupun Bagas hanya menganggukkan kepalanya perlahan. Setelah itu Aja mulai berkata-kata dengan sangat serius.


"Mas Bagas, sebenarnya aku sudah sejak lama ingin mengatakan akan hal ini. Tetapi setiap kali aku akan mengatakan hal ini, ada saja kendalanya yang membuatku kadang sampai lupa."


"Mas Bagas, dari beberapa hari yang lalu aku sudah ingin mengatakan jika aku bersedia menikah dengan dirimu."

__ADS_1


"Aku minta maaf kata ini selalu saja tertunda jika ingin aku katakan padamu. Dan pernah juga aku menunggu dirimu terlebih dahulu untuk mengatakan padaku."


"Biasa kan Mas Bagas hampir setiap hari membahas tentang pernikahan. Dan di saat aku menunggu hal itu, Mas Bagas diam saja."


Mendengar apa yang di katakan oleh Ais, hari Bagas sangat berbunga-bunga. Ia tak bisa lagi merangkai suatu kata yang indah Hanya satu kata yang terucap dari bibirnya yakni kata Alhamdulillah.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Ais. Moment ini yang sudah aku tunggu sejak lama. Pada akhirnya aku bisa mendengar nya sekarang. Memang beberapa hari aku sengaja tak membahas pernikahan karena aku pikir kamu bksan mendengarnya. Makanya aku tak berkata tentang pernikahan, dan aku sengaja menunggu kamu mengatakan hal ini tapi tak juga mengatakannya," ucap Bagas.


"Ayah juga turut senang dan bahagia pada akhirnya kamu sudah bisa mengatakan hal ini pada, Nak Bagas."


"Kalian berdua, sama-sama terkendala dengan segala problema hidup yang kebetulan sedang di alami oleh kalian berdua beberapa waktu yang lalu."


"Ais alami restoran di fitnah oleh seseorang, sedangkan Nak Bagas permasalahan kantornya dimana ada seseorang yang ingin mencuri semua dokumen dan berkas penting perusahaan."


"Sekarang pasti kalian sudah sama-sama lega bukan? dan ayah minta jangan tunda lagi jika kalian ingin menikah, menikahlah."


"Apa lagi ayah juga sudah tida sabar lagi ingin punya cucu dan bermain-main dengan cucu-cucu Ayah."


"Ingat ya, Ais. Ayah nggak mau punya cucu cuma satu darimu. Tapi ayah inginkan punya cucu banyak dari pernikahan kalian berdua."


Panjang lebar Ayah Lukman berkata dan kini giliran Bagas dan Ais saling bergantian dalam berkata.


"Tuh, dengar nggak sayang? ayah ingin punya cucu banyak, seperti halnya aku juga pengen punya anak banyak kalau bisa sebelas jadi bisa buat tim kesebelasan Bagas, ucap Bagas.


"Waduh... tanggung amat sebelas kenapa nggak di genepin saja dua belas kan jadi satu losin," ucap Ais menanggapi perkataan Bagas.


"Memang kamu sanggup punya anak banyak, sayang?" tanya Bagas memicing alisnya.


"Untuk masalah anak itu tergantung yang kuasa mau memberita kita berala anak. Jadi aku tidak akan menentukan berapa anak kelak jika kita menikah. Intinya kalau sudah menikah ya yang paling utama aku ingin punya keturunan. Biar bisa aku ajak seru-seruan dech pokoknya."

__ADS_1


Ayah Lukman dan Bagas saling berpandangan mendengar perkataan Ais.


__ADS_2