Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Mulai Di Respon


__ADS_3

Sore menjelang, sudah waktunya Bagas pulang. Selama dalam perjalanan pulang, Ais hanya diam saja tanpa ada sepatah katapun. Hingga Bagas yang membuka kata terlebih dahulu.


"Ais, jangan melamun . Kamu kan sedang menyetir," tegurnya memecahkan suasana hening di dalam mobil.


"Aku sedang fokus, den. Bukan sedang melamun," ucap Ais sekenanya tanpa menoleh ke arah Bagas sama sekali.


"Ais, biasanya kamu suka mengajak aku main tebak-tebakan atau cerita lucu. Coba gih, kamu lakukan itu biar suasana di dalam mobil tidak sepi seperti kuburan," ucap Bagas.


"Maaf, den. Aku sedang tidak punya sesuatu yang bisa untuk di tebak, Coba Aden saja yang melakukannya biar aku yang menebaknya," ucap Ais.


"Ais, kamu kan sudah tahu jika aku sama sekali tak bisa. Yang jago dalam hal ini kan kamu, ayolah Ais," bujuk Bagas.


"Aden, aku kan sudah katakan tadi. Di otakku ini sedang tidak ada materi untuk hal itu," ucapnya lagi.


Hingga pada akhirnya Bagas diam, ia malah melamunkan Ais pada saat awal bekerja dengannya, dan Ais selalu mengulas senyuman tidak seperti sekarang ini.


#Beberapa waktu yang lalu#


"Selamat pagi den, selamat berjuang. Jangan lupa untuk tetap baik-baik saja. Selalu bahagia, jaga kesehatan, dan jangan lupa waktu makan," kata Ais waktu itu panjang lebar terdengar renyah di telinga.


Entah bagaimana yang pas cara menggambarkan wajahnya, expresinya, sering membuatnya gugup dan salah tingkah. Seolah membuat denyut nadinya terhenti.


Dia mengulas senyum gambar sebagai jawaban atas rasa bahagia yang di alirkannya untukku. Lidah ini terasa kelu, hanya mampu menatap wajahnya yang sendu.


"Den, kenapa murung? senyumlah untuk semua orang, senyum itu ibadah supaya kita awet muda," ucap Ais waktu dulu.


Bagas diam, sedih, karena memang baru kali ini ada yang memperhatikan dirinya. Apa lagi dia sadar selama ini sikapnya terlalu angkuh dan dingin pada semua wanita.


Inilah awal mula Bagas jatuh cinta pada, Ais. Di mana ia sering berkata-kata kasar padanya, tetapi Ais justru selalu membuatnya tersenyum walaupun kadang kala dengan sikap cerobohnya.


Seketika lamunan Bagas terhenti, tat kala Ais menghentikan laju mobilnya tepat di depan pelataran rumahnya.


"Den, maaf sudah sampai."


Deg... barulah Bagas terkesiap kaget dan lamunan tentang Ais hilang sirna begitu saja berlalu bersama datangnya suara Ais menegur dirinya.

__ADS_1


"Lah kok cepat sekali sampai, Is?" ucap Bagas heran.


"Karena dari tadi Den Bagas melamun saja makanya tak terasa sudah sampai." Ais membukakan pintu mobil untuk Bagas dan hampir saja mereka saling bertabrakan.


Seketika Bagas telat berada di depan wajah Ais, mereka bertatapan begitu lamanya. Hingga suara seseorang mengagetkan mereka.


"Ehemmmm.....so sweet...asexxx....serrr....."


Suara Broto terkekeh melihat pemandangan itu, keduanya langsung terkesiap salah tingkah dan sama-sama malu. Ais segera masuk ke dalam mobil dan membawa mobil itu ke garasi.


Sementara Bagas melangkah seraya terus menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan ia tertunduk.


"Bagas, sepertinya Ais sudah mulai klepek-klepek sama kamu tuh. Asik nech, sebentar lagi bakal ada janur kuning melengkung," goda Broto terkekeh.


"Papah ngomong apa sih?" Bagas semakin saleh tingkah.


"Papah senang kok, jika cintamu sudah mendapat balasan dari Ais," ucap Broto mengacung ibu jarinya.


"Balasan apa, pah? Ais belum jawab sampai sekarang, katanya butuh Waktu. Malah ia sempat nggak percaya kalau aku serius suka dirinya, pah," ucap Bagas manyun.


"Iya, pah." Bagas menjatuhkan pantatnya di kursi dekat papahnya saat ini duduk.


"Bagas, papah bahagia dan bangga padamu. Karena ternyata kamu bisa mengalahkan sikap burukmu, meredam emosimu. Papah lihat akhir-akhir ini banyak sekali perubahan positif dalam dirimu." Puji Broto seraya menepuk bahu anaknya.


"Aku juga heran denganku sendiri, pah. Entah ada angin apa, aku benar-benar tertantang pada perkataan papah waktu itu. Yang menasehatiku supaya sedikit demi sedikit merubah kelakuan burukku," ucap Bagas.


"Itu semua karena dorongan rasa cinta dan ingin memiliki. Kamu begitu cinta pada Ais dan ingin memiliki dirinya hingga kamu ingin benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik, supaya kamu bisa mendapatkan cinta Ais. Jangan patah semangat, papah yakin tidak akan lama lagi gayung bersambut. Dari cara Ais menatapmu itu sudah pertanda loh," ucap Broto.


"Masa sih, pah?" Bagas tak percaya.


"Iya, masa papah bohong."


Selagi keduanya asik bercengkrama, Ais datang.


"Maaf Den-Tuan Besar, mengganggu obrolannya sebentar. Ini kunci mobilnya dan aku pamit pulang ya," ucap Ais menyerahkan kunci mobil itu pada Bagas.

__ADS_1


"Oh iya, Tuan. Mohon maaf hari ini aku tidak bisa memasak dulu ya, karena ingin langsung istirahat. Rada kurang enak badan. Tolong sampaikan ke Nyonya Eti, Ya Tuan." Ais menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Oh ya, Is. Kalau lagi nggak enak badan sebaiknya kamu pulangnya di antar Bagas saja," Broto melirik ke arah Bagas.


"Nggak usah, Tuan. Lagi pula rumahku kan dekat," tolak Ais secara halus.


"Ais, tidak ada penolakan. Kamu tunggu di sini sebentar, aku ambil motor dulu ya?" Bagas meletakkan tas kerjanya serta melepas jasnya lantas ia melangkah cepat ke garasi untuk mengambil motor gedenya.


"Asik nech, papah memang top markotop," batin Bagas sumringah.


Tak berapa lama, Bagas sudah ada di hadapan Ais. Dengan rasa sungkan Ais naik ke boncengan motor Bagas.


"Pegangan, Is. Nanti jatuh loh," goda Broto seraya menahan tawanya.


Sementara Bagas tak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia meraih kedua tangan Ais dan melingkarkan di pinggangnya sendiri. Ais hanya diam saja tanpa penolakan.


Bagas melajukan motornya akan tetapi ia tak langsung mengantarkan Ais. Justru mengajak Ais memutar sebentar.


"Den, kok kita nggak langsung pulang? nanti ayahku menunggu karena aku juga harus masak di rumah untuk ayah dan kedua adikku," ucap Ais.


"Justru kita ini akan mencari makanan untuk keluargaku dan juga untuk keluargamu," ucap Bagas.


"Nggak usah, Den. Selama ini aku sudah banyak merepotkan, Aden," ucap Ais menolak.


"Tapi aku suka di repotkan olehmu. Sudah kamu diam saja tak usah protes, kalau tak ingin...


"Ah Aden mah biasa ancam melulu sukanya," Ais memotong perkataan dari Bagas.


"Hem, memangnya kamu tahu apa yang akan aku katakan?"


"Tahulah, ujung-ujung Aden itu ingin pecat aku jika aku tak menurut kan?"


'Hhhaaaa kamu salah, sayang. Aku ingin...cium kamu."


Ais tersipu malu, wajahnya bak kepiting rebus. Bagas bisa melihat hal itu dari melirik kaca spion.

__ADS_1


__ADS_2