Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Ancaman Setyo & Rindi


__ADS_3

Mendengar apa yang di katakan oleh Setyo tidak main-main, Marlina semakin gelisah. Ia tak mau anaknya terjerat hukum, karena ia tahu di dunia ini uang berkuasa. Setyo bisa melakukan segala hal untuk mewujudkan keinginannya.


"Aku tidak akan membiarkan Ais masuk dalam penjara, aku akan menemui Bagas untuk mengatakan hal ini karena hanya dia yang mampu melawan kekuasaan Mas Setyo karena Bagas lebih kaya dari pada Mas Setyo," batin Marlina.


Rindi sangat senang mendapatkan pembelaan dari papahnya, ia pun tersenyum sinis membayangkan Ais akan dipenjara.


"Mampus kamu gadis barbar, aku akan bertepuk tangan sorak-sorai pada saat nantinya kamu masuk ke dalam penjara. Dan pada saat itu aku akan dengan bebas mendekati Bagas kembali. Lihat saja tanggal mainnya, pasti papahku akan langsung mengurus hal ini," batin Rindi tersenyum sinis.


"Pah, apa papah benar-benar akan melaporkan gadis bar-bar itu ke aparat polisi?" tanya Rindi untuk memastikannya.


"Masa iya kamu belum paham dengan sifat papahmu ini, sekali papah berucap pasti akan papah langsung bergerak cepat menindaklanjuti kasus kekerasan yang kamu alami. Betapa bodohnya kamu kenapa pada saat pertama kali mendapatkan kekerasan darinya kamu tidak mengatakan hal ini pada papah? jika waktu itu papah tahu pasti sudah papah laporkan saat itu juga gadis itu ke kantor polisi," ucap Setyo.


"Walaupun kamu itu kerap kali membuat papah emosi dan kesal karena keras kepalanya dirimu, tapi bagaimanapun papah tidak akan rela jika anak semata wayang papah disakiti oleh orang lain, apalagi oleh seorang gadis desa yang tak punya apa-apa itu," ucap Setyo.


Mendengar perkataan yang dilontarkan oleh suaminya, Marlina begitu kesal dan emosi. Tetapi dia tidak akan meluapkan rasa emosi ini, dia mencoba menahan rasa kekesalannya dia hanya bisa menggerutu di dalam hatinya atas perbuatan Rindi dan suaminya itu.


"Aku benar-benar menyesal telah menikah dengan Mas Setyo,dan aku menyesal telah merawat Rindi. Ternyata mereka berdua benar-benar orang yang tidak punya hati nurani sama sekali. Lihat saja Mas Setyo, aku tidak akan membiarkan anak kandungku sampai masuk ke dalam penjara," gerutu Marlina di dalam hati.


Tak berapa lama akhirnya mereka pun pulang dari makan malam. Bagas langsung mengantarkan Ais ke rumahnya dengan tak lupa memesan beberapa menu makanan untuk ayah dan si kembar.


Begitu pula dengan Marlina dan Setyo serta Rindi, mereka juga langsung pulang ke rumah tetapi Rindi merasakan pinggangnya masih terasa sakit.

__ADS_1


"Pah, pinggangku masih terasa sakit sekali juga tanganku ini terasa sakit. Apakah sebaiknya aku ke dokter mungkin saja bisa dilakukan visum untuk bukti yang lebih kuat, untuk menjerat gadis barbar itu masuk ke dalam jeruji besi?" tanya Rindi meminta saran pada Setyo.


"Bagus sekali Rindi saran kamu itu, sekarang juga kita ke rumah sakit untuk menemui kenalan papah yang ada di laboratorium nanti kita untuk visum dengan segera," ucap Setyo.


"Pah, tapi kepala mamah pening boleh nggak mamah langsung pulang ke rumah, nggak ikut ke rumah sakit?" tanya Marlina.


"Ya sudah jika mamah nggak ikut ke rumah sakit, pulangnya naik taksi saja nggak papa kan?" ucap Setyo.


"Iya Pah, nggak apa-apa. Kalian yang hati-hati ya," ucap Marlina berbasa-basi.


Marlina tidak langsung memesan taksi online, tetapi dia menunggu kondisi yang aman di mana dia benar-benar menyaksikan mobil suaminya itu melaju pergi dari parkiran tersebut.


Setelah dirasa aman, Marlina langsung menyetop taksi yang kebetulan melintas di depannya. Saat itu juga ia berinisiatif untuk menyambangi rumah Bagas. Hanya beberapa menit saja ia telah sampai di pintu gerbang rumah Bagas.


"Tante Marlina, ada apa Tante di sini?" tanya Bagas penasaran seraya dia turun dari motor gedenya menghampiri Marlina.


"Tante ingin bicara banyak hal padamu, Bagas. Dan luangkan waktu barang sejenak untuk kamu mendengarkan apa yang ingin tante katakan karena ini menyangkut keselamatan, Ais," ucapnya dengan mimik gemetaran.


"Baiklah, Tante. Mari kita masuk ke dalam dulu supaya ngobrolnya nyaman," ajak Bagas.


"Nggak usah Bagas, karena tante buru-buru. Tante saja kemari itu dengan sembunyi-sembunyi, dari Rindi dan Om Setyo," ucap Marlina.

__ADS_1


"Ya sudah, katakan saja tante sebenarnya ada apa?" tanya Bagas semakin penasaran.


"Begini Bagas, Rindi mengadu pada papahnya tentang kejadian di toilet tadi, dan juga kejadian pada waktu di lobi kantormu. Rindi mengatakan hal itu karena tindak kekerasan yang dilakukan oleh Ais dan Om Setyo akan melaporkannya ke kantor polisi."


"Padahal tante telah mengatakan bahwa hal itu terjadi karena Rindi yang memulainya terlebih dahulu, tetapi Om Setyo tidak percaya, dia malah percaya pada Rindi.'


"Saat ini Om Setyo tengah mengajak Rindi ke rumah sakit untuk visum atas apa yang barusan dialaminya."


"Tante hanya nggak ingin Ais benar-benar masuk di dalam penjara, hanya kamu yang bisa menolongnya. Tante percayakan hal ini padamu, Bagas."


"Tante yakin saat ini kamu telah tahu siapa itu tante bagi Ais. Untuk saat ini Tante belum bisa bercerita banyak tentang masa lalu tante kepadamu. Tetapi Tante minta dengan sangat tolonglah Ais untuk bisa melewati permasalahan ini. Karena ia tidak akan sanggup melawan kekuasaan Om Setyo, hanya kamu yang sanggup, Bagas."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Marlina, Bagas telah mengerti.


"Iya tante, aku udah tahu siapa itu tante karena Ais telah cerita. Tante tak perlu khawatir pasti aku akan membantu Ais. Tidak semudah itu Om Setyo melaporkan Ais, karena pada dasarnya di lobi kantor ada CCTV dan juga di toilet wanita di cafe tersebut juga ada CCTV. Aku bahkan bisa menuntut balik laporan dari Om Setyo," ucap Bagas.


"Terima kasih ya Tante, atas informasinya yang sangat penting ini. Aku janji tidak akan mengecewakan, pasti aku akan selalu melindungi Ais untuk selamanya."


"Baiklah Bagas, Tante percaya denganmu karena kamu itu pemuda yang sangat baik. Tante titip Ais, jaga dia sepenuh hatimu ya jangan sakiti dia seperti apa yang telah tante lakukan di masa lalu. Kalau begitu tante pamit pulang ya, terima kasih."


"Iya tante, pasti aku akan selalu menjaga Ais segenap jiwa ragaku. Tante hati-hati ya di jalan," pesan Bagas.

__ADS_1


Saat itu juga Marlina memesan taxi on line untuk pulang ke rumahnya karena ia tak ingin keduluan dengan Setyo dan Rindi. Sementara Bagas membalikkan motor gedenya untuk kembali ke cafe dimana tadi dia makan malam bersama Ais.


__ADS_2