
Beberapa bulan kemudian, Setyo dan Rindi sama-sama di bebaskan. Akan tetapi mereka heran karena pada saat kembali ke rumah tidak ada Marlina.
"Bi, sebenarnya kemana Marlina?" tanya Setyo.
"Maaf Tuan, saya juga tidak tahu. Hanya saja beberapa bulan yang lalu Nyonya menitipkan sesuatu pada saya. Supaya diberikan pada Tuan di kala Tuan sudah bebas dari penjara," ucap bibi tertunduk ketakutan.
"Coba berikan pada saya apa yang telah dititipkan Marlina padamu, bi?" pinta Setyo.
"Sebentar ya Tuan saya ambil dulu."
Sejenak bibi melangkah menuju ke paviliun belakang guna mengambil dua benda yang di titipkan oleh Marlina untuk Setyo.
"Pah, sebenarnya mamah ke mana sih? Mamah juga tak pernah jenguk aku pada saat aku masih berada di dalam penjara," ucap Rindi.
"Papah juga tidak tahu, Mamah juga tak pernah menjenguk papah pada saat di dalam penjara. Semua gara-gara kamu yang telah membuat ulang hingga papah harus ikut menanggung getahnya," bentak Setyo.
Pada saat Setyo akan memarahi Rindi kembali, tiba-tiba datanglah si bibi membawa dua benda pemberian dari Marlina, dan ia lekas menyerahkannya pada Setyo.
"Ini Tuan, benda yang dititipkan oleh nyonya Marlina pada saat terakhir ia masih ada di rumah ini."
bibi memberikan dua buah amplop putih yang masih rapat pada Setyo.
"Apa ini, bi?" tanya Setyo seraya membolak balikkan dua amplop yang ada di tangannya.
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Kalau begitu saya permisi ke belakang dulu karena masih banyak pekerjaan."
Bibi melangkah ke dapur untuk membuat masakan bagi majikannya.
"Pah, coba buka. Aku kok ikut penasaran dengan isi amplop itu," pinta Rindi.
Saat itu juga, Setyo membuka amplopnya. Satu amplop ia buka dan mendadak matanya terbelalak saat ia melihat isinya.
__ADS_1
"Hah surat cerai, bagaimana bisa Marlina menggugat cerai aku?" ucapnya seraya meremas surat cerai itu dan melemparkan begitu saja.
Surat cerai yang di lempar oleh Setyo di ambil oleh Rindi. Dan ia juga merasa penasaran dengan isinya, ia ikut terkejut pada saat melihat surat cerai itu.
"Masa iya mamah bersikap seperti ini? aku pikir mamah itu takkan mau berpisah dengan papah," ucapnya seraya memicingkan alisnya.
Sementara Setyo membuka satu amplop lainnya. Dan ternyata isinya sepucuk surat dari Marlina.
[Mas, sebelumnya aku minta maaf jika keputusan yang aku lakukan ini membuatmu marah atau bahkan sakit hati. Tetapi aku sudah memikirkan secara matang. Selama ini aku selalu bertahan dengan sikapmu yang keras dan posesif. Tetapi aku sudah tidak bisa lagi mentolerir apa lagi pada saat kamu di dalam lapas, kamu bukannya senang aku jenguk tetapi kamu malah marah-marah. Sampaikan maafku juga pada Rindi, karena sudah tidak bisa menjadi mamahnya lagi. Selama ini aku merawatnya layaknya anakku sendiri, tapi Rindi sama sekali tak pernah hargai aku. Dan aku rasa kalian ini lebih baik hidup tanpa adanya aku. Karena aku sudah tidak berharga dan tak berguna lagi olehmu.]
Setelah membaca surat dari Marlina, Setyo jatuh terduduk di sofanya. Ia benar-benar tak menyangka jika Marlina akan berbuat nekad seperti itu untuk meninggalkan dirinya dan Rindi.
"Marlina, aku minta maaf. Aku baru sadar jika selama aku menjadi suamimu, aku memang bukan suami yang baik karena aku suka sekali marah-marah padamu. Selama ini kamu selaku bersabar menghadapi aku hingga beberapa kali aku terjatuh, kamu selalu menopang atau menghiburku," batinnya.
Sejenak surat yang masih ada di tangannya, di ambil paksa oleh Rindi. Karena ia juga penasaran dengan isi surat tersebut.
Rindi menitikkan air mata, ia juga baru menyadari jika selama ini selalu kasar pada Marlina. Dan selalu saja memerintah pada Marlina.
"Entahlah, papah juga tak tahu saat ini mamahmu ada di mana? bagaimana bisa papah mencarinya jika tidak tahu kemana perginya. Dan di dalam isi suratnya mamah tak menjelaskan tentang kemana ia pergi," ucap Setyo sedih.
"Lantas kita akan membiarkan mamah meninggalkan kita seperti ini, pah?" tanya Rindi kembali.
"Berisik, tanya terus! ini semua gara-gara ulahmu hingga mamah pergi!" bentak Setyo.
"Loh kok aku yang di salahkan sih? mamah kan pergi sendiri,aku sama sekali tak mengusirnya," protes Rindi.
"Kamu masih bisa berkata seperti itu, setelah apa yang kamu lakukan pada papah, hah? jika kamu tak berulah pasti papah takkan di penjara. Dan mamahmu juga takkan ceraikan papah dan takkkan meniggalkan kita," ucap lantang Setyo seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
Ayah dan anak ini sama sekali tak tahu tentang kepergian Marlina ke luar negeri. Mereka juga kerepotan sejak tidak ada Marlina. Kini mereka benar-benar sadar akan pentingnya peran seorang ibu dan istri.
"Ya Allah, tolong tunjukkan dimana keberadaan Marlina saat ini. Aku ingin minta maaf padanya. Karena tidak ada wanita yang setia padamu selain Marlina."
__ADS_1
"Jika Engkau mempertemukan aku kembali dengannya, aku akan meminta maaf padanya dan tak akan menyakiti hatinya lagi," batin Setyo.
Ia mulai pencarian terhadap Marlina dari ia mencari informasi pada teman-teman Marlina termasuk pada Ika.
"Ika, masa iya kamu nggak tahu kemana Marlina pergi? kamu ini kan sahabat baik dia?" tanya Setyo mengiba.
"Tidak semua permasalahan pribadi dari seseorang sahabatnya harus tahu. Seperti hal nya dengan Marlina. Ia sama sekali tak pernah berkata apa pun," ucap Ika berbohong.
Karena memang dari awal Marlina tak mengizinkan jika Ika menceritakan tentang kepergiannya pada Setyo dan Rindi.
"Ya sudah jika seperti itu aku pamit pulang."
"Kemana lagi aku harus mencari istriku ya Allah."
Gumamnya seraya melangkah pergi dari rumah Ika.
"Pah, apa nggak sebaiknya papah menikah lagi saja. Nggak usah di pusing kan kepergian mamah. Anggaplah saja ia minggat karena tak setia pada Papah."
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi Rindi.
"Pah, kenapa pula aku di tampar seperti ini?" Rindi mengusap pipinya yang panas perih akibat tamparan dari Setyo.
"Makanya kalau bicara itu di pikir pakai otak! seenaknya mengatakan papah untuk menikah lagi!" bentak Setyo.
Rindi tak bisa berkata lagi karena tak ingin di tampar lagi oleh Setyo. Ia hanya diam saja dengan hati yang masih saja belum bisa terima dengan tamparan yang di berikan oleh Setyo.
Sementara saat ini Ika mengirim pesan pada Marlina lewat chat pesan ke nomor ponselnya.
[Lina, barusan Setyo datang kemari mencari dirimu. Tapi aku tak mengatakan tentang keberadaanmu seperti apa yang kamu mau.]
__ADS_1
[Lina, bagaimana kondisi kamu di sana? apakah kamu kerasan kerja di situ?]