
Tak berapa lama, mobil yang di tumpangi si bibi telah sampai di sebuah pelataran rumah. Dan rumah ini tidak begitu besar dan bangunan juga masih bangunan yang lama.
"Bi, jangan kaget ya. Ini rumah saya, menang tidak besar sih. Tapi di dalamnya masih ada satu kamar kosong."
"Saya selama ini kecapean urus rumah ini sendiri. Karena saya juga harus urus dua restoran saya bersama ayah saya."
Gadis yang baik ini adalah Aisyah, kekasih dari Bagas. Pada saat ia kembali dari pasar malam, tak sengaja melihat si bibi di trotoar sedang menangis. Dan Ais tak tega melihat hal itu, hingga meminta Bagas menghentikan laju mobilnya.
"Subhanallah, terima kasih ya non. Walaupun rumah ini kecil dan sederhana tapi saya akan tetap bekerja dengan baik. Saya tidak akan kecewakan non," ucapnya.
"Ya sudah ayok kita masuk, dan kalian Ade-Ado jangan lupa belajar ya. Mas Bagas, main dulu kan?" tanya Ais.
"Iya, sayang. Aku juga kangen kopi buatan mu," ucap Bagas mengedipkan matanya.
"Mas, apa nggak malu di lihat bibi," tegur Ais melihat tingkah Bagas tersebut.
"Kenapa mesti malu, bibi juga pernah muda pasti ya memaklumi ya kan bi?" ucap Bagas mencari pembelaan pada si bibi.
Bagas, Ais, dan bibi duduk di ruang tamu.
"Non, biar saja yang buatkan kopinya ya?" pinta bibi.
"Nggak usah bi, biar saya saja yang mengurus calon suami."
Ais tersipu malu seraya melangkah ke dapur untuk membuat kopi kesukaan Bagas.
Bagas gemas melihat raut wajah Ais yang merona merah karena malu.
"Bibi, di sini saja ya. Aku mau ke toilet sebentar."
Bagas hanya beralasan padahal ia ingin menyusul Ais ke dapur.
Bagas sengaja berjalan mengendap-endap, dan ia pun memeluk Ais dari arah belakang. Hampir saja Ais terlonjak karena kaget.
"Mas Bagas, nanti di lihat si kembar loh," ucap Ais lirih.
"Hem nggak lah, mereka kan sedang ada di kamarnya masing-masing," Bagas terus saja memeluk Ais dengan eratnya dan sesekali hembusan napasnya terasa di tengkuk leher Ais yang membuat bulu kudugnya merinding.
"Mas, ini kopi sudah jadi. Yuk kita ke ruang tamu nggak enak bibi sendirian," pinta Ais.
__ADS_1
"Hem, kapan ya aku bisa peluk kamu yang lama. Baru saja nempel sebentar sudah di usir begini," ucap Bagas manyun seraya meraih secangkir kopi kesukaannya.
"Nggak usah ngomel, yukk kita ke depan. Sambil menunggu ayah pulang karena ada yang ingin aku bicarakan sama Mas Bagas di depan ayah juga," ucap Ais seraya membawa nampan berisi air teh untuk dirinya dan bibi.
Serta beberapa toples cemilan.
"Bi, minumlah pasti bibi haus bukan? ini ada beberapa cemilan hasil buatanku."
Si bibi merasa terkejut karena malah ia yang layani oleh calon majikannya.
"Non, kok malah non yang buatin minum untuk bibi? seharusnya kan bibi yang buatin minum?" ucapnya tak enak hati.
"Bi, sudah nggak apa-apa. Minumlah mumpung masih hangat. Sambil menunggu ayah saya pulang," pinta Ais hingga si bibi tak bisa menolak lagi karena kebetulan ia juga sedang haus.
"Bi, sudah makan atau belum? jika belum aku ambilkan makan ya?" tanya Ais menatap menyelidik ke arah bibi.
"Nggak usah, non. Saya sudah makan kok."
Tetapi perut bibi protes, perutnya bunyi saat itu juga yang menandakan jika bibi memang sedang lapar karena dari pagi ia belum makan.
"Aduh, cacing di perut aku nggak mau di ajak kompromi. Semoga saja si non ini nggak mendengar bunyi cacing di perut ku," batin bibi.
Ais melangkah ke ruang makan dan membuka tudung saji.
Kebetulan masih banyak makanan, dan ia bingung ingin menyajikan apa untuk bibi. Ais pun melangkah dengan tangan kosong ke arah ruang tamu.
"Bi, ikut yuk. Sebentar ya mas."
Bagas tersenyum seraya mengangguk pelan pada saat melihat Ais menuntun si bibi. Ais membawa bibi ke ruang makan dan memintanya duduk.
"Bi, makan yang banyak ya. Ini masih banyak sekali lauk dan pauk. Bibi bisa makan sepuasnya dan ambil sendiri. Saya tinggal ke depan sebentar ya, bi."
Belum juga bibi menjawab, Ais sudah berlalu pergi menuju ke ruang tamu kembali.
"Alhamdulillah, mimpi apa aku semalam ya Allah. Hingga sore ini aku bertemu dengan orang baik seperti dirinya," batinnya.
Bibi lantas makan dengan lahapnya karena menang sudah tak bisa lagi menahan rasa laparnya. Hingga ia tak sadar makanannya menambah porsinya. Ia merasakan masakan yang ia makan begitu lezatnya.
Sementara saat ini Bagas dan Ais sedang berada di ruang tamu untuk menunggu kepulangan Ayah Lukman dari restoran.
__ADS_1
"Sayang, kok kamu nggak takut sih sama bibi?" bisik Bagas.
"Memangnya takut kenapa, mas?" tanya Ais lirih.
"Ia orang asing, apa kamu nggak takut kalau ia komplorwn orang jahat yang sedang menyamar?"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Bagas, hampir saja Ais tak bisa menahan rasa tawanya.
"Mas Bagas, terlalu banyak menonton film pastinya ya," goda Aja terkekeh.
"Insya Allah, bibi itu orang yang baik. Aku tak tega jika melihat seseorang yang sedang menangis, apa lagi si wajah bibi tadi terlihat sangat jelas rasa sedih, kecewa, bingung."
"Aku percaya, Allah sengaja mempertemukan kami. Allah ingin aku menolong bibi, dan bibi juga menolongku."
Mendengar kata-kata Ais yang terakhir, Bagas pun memicingkan alisnya.
"Menolongmu bagaimana toh, sayang? maksudnya bibi menolongmu itu apa?" tanya Bagas lirih.
"Begini Mas Bagas, selama aku mengelola dia restoran kan bertambah kesibukanku dan aku benar-benar merasa lelah dengan urusan rumah ini."
"Aku lelah kalau sudah pulang dari restoran harus urus rumah ini. Ya walaupun rumah ini kecil."
"Kadang memang kita saling kerja sama yakni aku, ayah, dan si kembar. Tapi tetap aku merasa lelah."
"Jadi bertemunya aku dengan bibi itu adalah sebuah kebaikan untuk diriku."
Setelah mendengar penjelasan dari Ais panjang lebar, barulah Bagas manggut-manggut tanda paham.
"Sayang, sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan denganku sih?" tanya Bagas mulai penasaran.
"Penasaran nech ye, kasih tahu nggak ya?" Ais mulai iseng menggoda Bagas.
"Kasih tempe saja, karena aku tak suka tahu," Jawab Bagas terkekeh membuat Aia gemas dan segera menggelitik Bagas.
"Hhhhaaa..... sudah.... sayang....nanti aku jadi nggak doyan makan ..loh..."
"Hha... sudah.... ampun...tuh lihat ada bibi apa kamu nggak malu sih."
Ais menghentikan aksinya menggelitik Bagas. Dan ia benar-benar melihat bibi sudah duduk di hadapannya.
__ADS_1