Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Sama-Sama Cemburu


__ADS_3

Tak berapa lama akhirnya sampai juga di pelataran rumah Ais, tetapi Bagas menjadi murung karena di teras rumah Ais ada Aan yang sedang asik ngobrol dengan Pak Lukman.


"Is, baru pulang?" sapa Aan menyuggingkan senyuman.


"Iya, An. Kamu sudah lama di sini?" tanya Ais niatnya hanya untuk sekedar basa basi tapi malah membuat Bagas semakin tak suka pada Aan.


"Sayang, kamu masuk lekas mandi ya? karena aku ingin makan bersama kelian di sini," pinta Bagas tanpa ada rasa malu sedikitpun di hadapan Pak Lukman dan Aan.


Sementara Ais hanya tersenyum seraya melangkah masuk memenuhi perintah Bagas untuk segera mandi.


Pak Lukman hanya mesam mesem tak berani berkata, lain halnya dengan Aan yang mulai terbakar api cemburu.


"Sayang, apa yang anda katakan barusan pada Ais?" tanya Aan menatap tak suka pada Bagas seraya bangkit dari duduknya.


"Memang ada yang salah jika seorang kekasih memanggil sayang pada kekasih yang di cintainya? dan kenapa anda bereaksi seperti itu, tak suka ya? oohh... jangan-jangan ada udang di balik batu, aku tahu kamu sebenarnya suka kan pada, Ais?" tanya Bagas.


"Iya, memang aku suka pada Ais. Masalah buat loh! dan aku rasa anda dengan Ais itu tidak mungkin menjalin hubungan apa lagi aku tahu bagaimana bencinya Ais pada anda yang pemarah dan arogant," ejek Aan.


"Apa selama ini Ais suka sekali cerita tentang keburukanku pada pria ini ya? makanya dia tahu jika aku ini pemarah, Ais kenapa kamu buatku kecewa?" batin Bagas.


"Kenapa diam, mengaku kan? kamu panggil Ais sayang hanya sebelah pihak saja, apa Ais tadi panggil kamu sayang, nggak kan? jika Ais memang benar-benar kekasihmu, dia akan merespon kata sayang yang barusan kamu katakan," ejek Aan.


Pak Lukman sudah mulai merasakan jika situasi semakin memanas diantara kedua kubu. Ia pun bangkit berdiri dan mencairkan suasana.


"Sudah, kalian jangan seperti ini. Malu loh di lihat tetangga, sebaiknya kita masuk saja. Oh ya, Den Bagas ikut makan sekalian? kebetulan saya yang masak, sesekali mencicipi masakan saya, yuk.


"Pak Lukman, saya nggak di tawari? hanya dia saja yang bapak tawari untuk makan di sini, ya sudah saya pulang saja." Aan merasa tersinggung dengan ucapan Pak Lukman.


"Eh nggak begitu Nak Aan, boleh kok ikut makan sekalian," ucap Pak Lukman menjadi salah tingkah.

__ADS_1


"Untuk apa kamu maksa Pak Lukman menawarimu makan, karena kamu itu tak penting. Dia tahu aku ini calon menantunya." Ejek Bagas seraya melangkah masuk ke dalam rumah Ais dan tersenyum sinis pada Aan.


Sementara Ais sudah selesai mandi, dan saat ini sedang ada di ruang makan untuk menata hasil olahannya bersama Bagas.


"Loh, ini kok susah ada masakan? hem, berarti ayah sudah masak," gumam Ais.


Tak berapa lama semua orang telah berkumpul di meja makan yakni Bapak Lukman, Aan, Bagas, Ais, dan si kembar. Aan dan Bagas saling berebut untuk duduk di kursi samping Ais. Tingkah keduanya sontak membuat heran Pak Lukman dan si kembar.


"Aduh, bagaimana supaya dua manusia ini akur ya? hem sama-sama suka Ais, lantas apakah memang Ais sudah mempunyai keputusan tentang hatinya akan berlabuh pada Bagas?" batin Pak Lukman menjadi tanda tanya.


"Ayah tadi masak ya, padahal aku bawa masakan dari rumah Den Bagas," tanya Ais.


"Iya, Is. Pikir ayah supaya kamu pulang kerja tak usah capek-capek masak, makanya ayah berinisiatif memasak," ucap Lukman.


"Hhee, katanya sudah menjadi sepasang kekasih. Mana buktinya, Ais panggilnya saja Den," ejek Aan melirik sinis pada Bagas.


Bagas tak berkata, ia hanya melirik sinis pada Aan, tetapi di dalam hati memang membenarkan perkataan Aan.


"Iya juga, masa Ais masih manggil aku dengan sebutan Den?" batinnya kesal.


"Den-Nak Aan, silahkan cicipi masakan saya," ucap Pak Lukman menawarkan hasil masakannya.


"Oh ya, pak terima kasih. Bapak juga cobain masakan dari hasil kolaborasi aku dan Ais, ia kan sayang?" ucap Bagas.


"Wah, Den Bagas masak juga? baik Den, pasti saya akan makan. Apa lagi ini di meja jadi banyak meminta seperti ini, ayok Ade-Ado makan yang banyak," ucap Bapak Lukman.


Aan sama sekali tak mengambil makanan yang di katakan itu adalah hasil kolaborasi Ais dan Bagas. Ia lebih memilih masakan dari Pak Lukman. Sementara Pak Lukman penasaran dengan masakan kolaborasi Ais dan Bagas.


"Bagaimana, pak. Enak nggak?" tanya Bagas penasaran.

__ADS_1


"Hem, bukan enak lagi tapi nikmat banget Den. Ade-Ado makan juga" ucap Pak Lukman.


"Iya, kalian makan dong hasil masakan calon kakak ipar kalian ini," pinta Bagas menatap si kembar seraya menaik turunkan alisnya.


Mendengar kata calon kakak ipar, membuat Ais terhenyak kaget dan mendadak tersedak.


"Uhuk-uhuk... uhuk-uhuk..."


Serentak baik Aan dan Bagas mengambil air minum milik mereka dan sama-sama memberikannya pada Ais. Ais menjadi bingung melihat tingkah keduanya yang seraya mencari perhatian darinya.


"Waduh, jika aku terima air putih dari Aan pasti Den Bagas marah. Dan sebaliknya jika aku terima air putih dari Sen Bagas, Aan yang marah," batin Ais hingga pada akhirnya Ais mengambil air putih miliknya sendiri.


Ais hanya tak ingin di saat suasana makan menjadi beberapa tak enak jika terjadi perselisihan.


Saat itu juga Ade dan Ado menyicipi masakan hasil kolaborasi antara Bagas dan Ais.


"Hem, yang ayah katakan memang benar Mas Bagas. Wenake poll." Puji Ado seraya mengacungkan kedua ibu jarinya seraya tersenyum pada Bagas.


"Eh yang sopan kalau memanggil, Den Bagas," tegur Pak Lukman.


"Itu sudah sangat sopan Pak Lukman. Aku justru suka di panggil Mas, apa lagi kalau calon istriku ini juga mau memanggilku Mas juga." Tiba-tiba Bagas sejenak meraih satu tangan Ais yang tepat ada di samping dirinya, dan mengecupnya mesra, hal ini membuat Aan semakin terbakar api cemburu.


Pak Lukman, saya permisi pamit pulang. Barusan dapat pesan dari ayah katanya ada hal penting," ucap Aan tiba-tiba langsung melangkah pergi begitu saja.


Padahal Pak Lukman belum menanggapi perkataannya. Aaan sudah tak bisa lagi menahan rasa cemburunya itu, hingga ia memutuskan untuk pulang saja.


"Apa iya mereka telah berpacaran? tetapi masa iya pada seorang pacar masih saja memanggil dengan sebutan, Den?"


"Tapi jika memang tidak berpacaran, mas iya pada saat ia memanggil sayang si Ais hanya diam saja? terlebih pada saat ia mencium jemari Ais?"

__ADS_1


__ADS_2