
Kepanikan sudah melanda pada diri Setyo karena tidak ada satupun yang membela dirinya sendiri. Ia sudah memastikan bahwa dirinya akan meringkuk dalam tahanan dalam kurun waktu yang cukup lama.
"Kenapa pula tidak ada satu orang pengacara pun yang mau membantuku padahal aku bukan ingin meminta tolong gratisan, tetapi membayar dengan harga yang mahal pun aku bersedia," keluh kesah Setyo di dalam hatinya.
Persidangan berjalan lancar tidak ada gangguan apapun bahkan tidak ada bantahan apapun dari diri Setyo akhirnya hakim mengetok palunya memutuskan masa hukuman Setyo yakni lima tahun penjara.
"Tidak, saya tidak terima dengan hukuman ini! masa iya saya diberi hukuman lima tahun penjara, padahal saya tidak membunuh seseorang sama sekali! kesalahan saya sepele kok hukumannya begitu lama! curang, pengadilan ini curang!"
Teriak histeris dilakukan oleh Setyo yang benar-benar tak ikhlas menerima masa hukumannya tersebut.
Namun sama sekali tidak ada yang peduli padanya ataupun merasa iba padanya, bahkan semua yang hadir di dalam persidangan merasa muak melihat tingkah Setyo tersebut.
Saat itu juga Setyo digiring ke tahanan yang telah di siapkan untuk dirinya. Dia terus saja memberontak akan tetapi pada sipir penjara menarik paksa dirinya untuk masuk kedalam sel tersebut.
Berbeda halnya dengan Rindi yang saat ini gelisah di rumah. Ia merasa menyesal karena tak hadir di acara persidangan papahnya. Tetapi ia juga malu jika dirinya datang dengan semua orang yang ada di pengadilan. Ia malu punya seorang papah narapidana.
"Apakah papah di hukum dalam jangka waktu yang cukup lama? tapi berapa lama ya, ah aku kok menjadi penasaran sekali ya?" batin Rindi kesal.
Hingga pada akhirnya, ia pun mengalah pergi ke kantor polisi untuk menanyakan masa hukuman Setyo.
"Komandan Arif, maaf saya telah menganggu anda. Saya datang kemari hanya ingin bertanya berapa masa hukuman papah saya?" tanya Rindi dengan rasa takut.
"Nona, kemana saja anda pada saat papah anda sedang jalani masa persidangan untuk mengetahui masa tahanannya? kami beberapa kali menelponmu, kenapa juga kamu tak mengangkat panggilan telepon dari kantor polisi?" tanya Komandan Arif ketus.
"Maafkan saya, Komandan. Waktu itu saya sedang tidak ada di tempat," Rindi mencoba berbohong.
__ADS_1
"Hem, anda pikir saya ini bodoh nona? jika anda sedang tidak ada di tempat dan ponsel anda tertinggal? setelah anda kembali pasti anda kan bisa membaca chat pesan yang sempat makam kirim," ucap Komandan Arif.
"Sialan, di ceramahi dahulu. Kenapa nggak langsung saja memberi tahu masa tahanan papah? bertele-tele sekali," batin Rindi kesal.
"Ya sudah kalau Komandan tidak mau memberitahukan berapa lama masa tahanan papah saya, kalau begitu saya permisi pamit pulang."
Namun pada saat Rindi akan bangkit dari duduknya Komandan Arif mencegahnya.
"Nona Rindi, kenapa sifat anda mirip sekali dengan papah anda yakni sangat pemarah dan tidak sabaran. Baiklah akan saya beri tahu pada anda. Masa tahanan yang harus papah anda jalani yakni lima tahun lamanya. Sudah puas bukan, karena sudah tahu masa hukuman papah anda?" ucap Komandan Arif tersenyum sinis.
"Apa saya tidak salah dengan Komandan? masa iya papah saya harus menjalani hukuman selama itu tidak sesuai dengan kesalahan yang dia lakukan? ini namanya tidak adil Komandan Arif," protes Rindi.
"Jika anda merasa masa hukuman untuk Papah anda itu terlalu berat, seharusnya anda melakukan banding. Tetapi kenapa pada saat persidangan anda tidak hadir sehingga bisa melakukan banding saat itu juga dengan anda membawa seorang pengacara pilihan anda," ucap Komandan Arif.
"Daripada uang dibuang sia-sia untuk menyewa pengacara mending uang digunakan untuk kebutuhanku sehari-hari. Karena dalam jangka waktu lima tahun papah dipenjara, aku pasti tidak akan mendapatkan jatah uang sepeserpun."
"Daripada aku bersusah payah memimpin perusahaan Papah selama ia di dalam penjara, lebih baik aku juga akan menjualnya saja. Uangnya bisa aku gunakan juga untuk keperluanku supaya selama papah dipenjara lima tahun aku tidak terlantar."
Rindi telah memilih jalan yang salah, ia memutuskan suatu hal yang benar-benar akan membuat masa depan dirinya dan papahnya itu hancur berantakan.
Dengan menjual perusahaan begitu saja, secara otomatis mereka tidak akan memiliki usaha lagi.
Pada saat Rindi pulang ke rumah, ia langsung saja mencari dokumen penting milik papahnya. Dan juga segala barang berharga untuk dia jual dan di gunakan sebagai kebutuhan sehari-hari dalam hidupnya.
"Aku pasti akan mendapatkan uang yang banyak dengan menjual perusahaan milik Papah. Maafkan aku ya, pah. Karena aku butuh banyak uang, untuk kehidupanku selamaima tahun kedepan."
__ADS_1
"Untuk kehidupan selanjutnya jika papah keluar dari penjara itu gampang di atur. Untuk saat ini, ya jalani dulu saat ini."
Rindi telah menemukan semua dokumen penting perusahaan Setyo. Segera ia membawa dokumen itu untuk dijualnya kepada seseorang kenalannya.
"Rindi, apa kamu yakin akan menjual perusahaan milik Papahmu? lantas bagaimana jika kelak Papahmu tahu?" tanya orang tersebut.
"Itu urusan belakangan Om, yang terpenting saat ini aku membutuhkan uang yang sangat banyak," ucap Rindi.
"Tapi untuk apa uang sebanyak itu untuk dirimu?" tanyanya lagi.
"Om, sudah lah jangan banyak bertanya lagi. Kalau Om tidak mau membeli perusahaan milik papahku ya sudah aku akan mencari pembeli yang lain."
Pada saat itu juga Rindi bangkit dari duduknya akan tetapi pada saat ia akan melangkah pergi, pria paruh baya tersebut mencegah lengannya dan menyuruhnya untuk duduk kembali.
"Jangan terburu-buru emosi Rindi, duduklah dahulu kita kan bisa bicarakan hal ini secara baik-baik."
"Aku bersedia membeli perusahaan milik Papahmu tetapi dengan satu syarat. Suatu nanti tidak ada selisih paham antara Papahmu dan aku."
Mendengar apa yang dikatakan oleh pria paruh baya tersebut Rindi hanya tersenyum kecil.
"Tenang saja, jual beli yang kita lakukan ini kan menggunakan bukti-bukti tertulis juga, jadi suatu saat nanti papah tidak akan bisa berbuat onar pada perusahaannya yang telah dibeli oleh om," ucap Rindi meyakinkan pria paruh baya tersebut.
"Baiklah kalau begitu sekarang juga kita lakukan perjanjian jual beli dan beserta beberapa saksinya," ucap pria paruh baya tersebut.
Rindi dan pria paruh baya tersebut langsung saja melakukan jual beli perusahaan di sertai beberapa saksi dan juga beberapa bukti tertulis. Rindi sangat senang karena pada akhirnya kini ia mendapatkan uang yang sangat banyak.
__ADS_1