Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Resmi Pacaran


__ADS_3

Aan terus saja gelisah memikirkan hubungan antara Ais dan Bagas. Karena Ais diam saja tanpa mengiyakan atau menolak, hingga membuat Aan bingung.


Dia terus saja kepikiran dengan kebersamaan Bagas dan Ais.


"Apakah masih ada kesempatan untukku? tapi aku ragu, karena Ais tidak mengiyakan atau menolak pria itu. Haahhhh, kenapa aku terus saja memikirkan hal ini?" batin Aan kesal.


Dia sama sekali tak bisa begitu saja melupakan bayang-bayang kebersamaan Ais dan Bagas.


Sementara saat ini Bagas sedang bahagia bisa berkumpul dengan keluarga Ais. Setelah selesai makan bersama tanpa sungkan Bagas membantu Ais menyuci piring yang kotor.


"Den Bagas kok dari tadi nggak kelihatan ya? apa memang ia masih ada di ruang makan?" Ayah Lukman mencari keberadaan Bagas dan ia sangat kaget pada saat melihat Bagas sedang membantu Ais untuk mencuci piring.


"Den Bagas, nggak usah. Itu sudah biasa di lakukan oleh Ais. Mending Aden ke depan saja yuk sama saya," ajak Ayah Luk man merasa tak enak pada Bagas.


"Iya, Den. Sudah berapa kali aku larang tapi Aden keras kepala. Ini sudah tugasku kok, sebentar juga kelar. Aden kedepan saja ngobrol sama ayah," ucap Ais.


"Ais-Pak Lukman, aku nggak apa-apa. Nggak usah di permasalahkan hanya hal sepele seperti ini," ucap Bagas.


Hingga pada akhirnya Ayah Lukman dan Ais menyerah dalam membujuk Bagas. Ayah Lukman akhirnya berlalu pergi dari dapur membiarkan dua insan ini asik mencuci piring bersama.


"Hem, sepertinya memang Den Bagas sedang jatuh cinta pada anak gadisku," batin Ayah Lukman tersenyum sendiri.


Sementara Bagas terus saja asik membantu Ais mencuci piring, seraya ia mengajaknya bercengkrama.


"Ais, aku minta kamu jangan panggil aku Den lagi, itu terlalu formal. Panggil aku Aden jika kita ada di kantor saja," ucap Bagas menatap pada Ais.


"Lantas aku harus panggil apa pada, Aden?" tanya Ais bingung.


"Panggil mas, sayang, atau beb," ucap Bagas sekenanya.


"Beb bebek apa?" tanya Ais terkekeh.


"Hem, kok begitu sih sayang. Oh ya, Ais. Apa kamu sudah punya jawaban untuk cintaku ini?" tanya Bagas.


"Hhee iya, Den. Aku...

__ADS_1


"Aku apa Ais?" Bagas semakin penasaran.


"Den, belum juga aku selesai berkata Aden sudah memotong pembicaraanku," ucap Ais manyun.


"Baiklah, maafkan aku. Sekarang jawab saja atas rasa cinta ini," ucap Bagas sudah tak sabar dengan jawaban dari Ais.


"Den, sebelum aku jawab perasaan dari Aden. Aku ingin tanya satu hal pada Aden, nggak apa-apa kan?" tanya Ais.


"Silahkan, sayangku. Berapa pun pertanyaan yang akan kamu lontarkan, akan aku jawab dengan sejujurnya," ucap Bagas dengan sangat yakinnya.


"Den, apakah Aden yakin dengan perasaan Aden padaku?" tanya Ais seraya memberanikan diri menatap ke arah Bagas.


"Aku yakin sekali, Ais." Jawabnya singkat.


"Apa Aden nantinya tidak akan kecewa atau menyesal dengan memilihku menjadi kekasi, Aden?" tanya Ais lagi.


"Aku sangat menyesal karena tidak dari dulu kenal dirimu, Ais. Aku sangat menyesal kenapa baru mengenalmu belum lama ini. Jika kira kenal dari dulu pasti kita sudah menikah dan punya banyak anak," ucap Bagas.


"Hem, ngehalunya terlalu jauh," ucap Ais.


"Tidak ada lagi, Den," jawab Ais.


"Baiklah sekarang jawablah tentang perasaanku, apakah kamu mau menjadi kekasihku atau tidak?" tanya Bagas penasaran.


"Iya Den, saya mau menjadi kekasih Aden," ucap Ais tersipu malu dengan menundukkan wajahnya.


"Kok iyanya sambil tertunduk memangnya kamu mau menjadi kekasih lantai apa? yang kamu lihat lantainya bukan aku." Ucap Bagas seraya menengadahkan wajah Ais.


"Iihhh Aden, nggak tahu apa ya kalau aku malu," ucap Ais seraya mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Heheeee masa iya kamu malu, biasanya kamu itu malu-maluin dengan segala kekonyolanmu dan Kecerobohanmu itu," goda Bagas terkekeh.


Ais hanya tersenyum malu seraya terus tatapan matanya kesana kemari salah tingkah. Karena ini baru pertama kalinya, ia menyatakan menerima pemuda sebagai kekasihnya. Selama ini ia tak pernah merasakan getaran cinta seperti yang ia rasakan pada, Bagas.


"Sayang, panggil aku jangan Den ya," pinta Bagas.

__ADS_1


"Baiklah, Mas Bagas."


"Nah begitu kek dari kemarin kan di dengar rasanya romantis gitu loh. Oh iya, aku ingin tanya padamu, kenapa kamu mau terima cintaku dan mau menjadi kekasihku?" tanya Bagas penasaran.


"Karena aku merasakan hal yang sama seperti yang Mas Bagas rasakan terhadapku. Jika aku tak punya rasa sedikitpun pada, Aden eh Mas Bagas untuk apa pula aku mau terima cinta Mas," ucap Ais.


Mendengar cintanya di sambut oleh Ais, Bagas sangat senang sekali.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Setelah beberapa hari aku tak nyenyak tidur dan tak enak makan menunggu jawaban cinta darimu, akhirnya kamu membalas rasaku ini," ucap Bagas sumringah.


"Mas Bagas, bohong bilang ngga enak makan. Padahal selama ini yang aku lihat, Mas kalau makan lahap sekali,' goda Ais terkekeh.


"Hheee kamu itu nggak bisa dibohongi ya," ucap Bagas terkekeh.


"Awas saja kalau berani bohong sama aku, siap saja tonjokan ku melayang." Ais memukul pelan bahu Bagas.


"Aaahhh sakit sekali... seharusnya itu di cium bukan di tonjok begini," ucap Bagas pura-pura kesakitan merintih seraya mengelus buahnya sendiri.


"Mas Bagas, maaf ya. Masa iya sih pukulanku sakit ? padahal aku mukulnya cuma pelan-pelan, lembek amat sih gitu aja kok sakit," ejek Ais terkekeh.


"Aku kan hanya bercanda supaya kamu itu khawatir atau bagaimana, tetapi kamu bukannya khawatir malah mengejekku, itu namanya tidak cinta," ucap Bagas mengerucutkan bibirnya.


Setelah cukup lama berada di rumah Ais, Bagas pun berpamitan pada Ayah Lukman dan Ais serta kedua adiknya. Ia pulang dengan suka cita yang luar biasa karena Ais telah membalas rasa cintanya itu. Sesampainya di rumah, ia pun tetep saja bersiul membuat orang tuanya yang sedang duduk di teras halaman heran dan saling memandang satu sama lain.


"Mah, sepertinya anak kita sedang happy nih," goda Eti seraya melirik ke arah Bagas.


"Mamah tahu aja deh kamu aku sedang happy," ucap Bagas menaik turunkan alisnya.


"Coba cerita apa yang membuatmu happy, masa iya nggak mau berbagi kebahagiaan sama mamah dan papah," pinta Broto yang memang penasaran.


"Mah-Pah, Ais telah memberikan jawaban atas pernyataan cintaku padanya waktu itu," ucap Bagas sumringah.


"Sekarang mamah tahu deh pasti jawabannya itu diterima kan sama, Ais," goda Eti terkekeh.


"Betul betul betul betul betul betul...."

__ADS_1


"Seperti serial Upin Ipin saja," ucap Broto terkekeh.


__ADS_2