Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Penyesalan Yang Tiada Berguna


__ADS_3

Malam menjelang, akan tetapi Marlina belum juga bisa memejamkan matanya. Dia terus saja ingat masa lalunya dimana ia meninggalkan anak-anaknya, hingga tak terasa air matanya jatuh bercucuran.


"Marlina, kenapa kamu menangis? " tanya Setyo pada saat ia terjaga dari tidurnya.


"Mas, aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi aku minta kamu jangan marah ya?" ucap Marlina ia sangat khawatir suaminya akan marah.


"Katakan saja aku janji tak akan marah padamu," ucap Setyo tersenyum.


"Mas, aku kangen dengan ketiga anakku. Sudah begitu lama aku tak bertemu dengan mereka. Apakah aku boleh menemui mereka?" tanya Marlina ragu.


"Tidak, jika kamu bertemu dengan ketiga anakmu yang ada nanti kamu juga bertemu dengan mantan suamimu juga. Dan ini aku tak suka, apa kamu lupa dengan janjimu dulu untuk sepenuhnya mengabdi padaku dan hanya menjadi ibu bagi Rindi. Untuk apa kamu ingin menemui mereka?" tanya Setyo curiga.


"Ya Allah, sudah aku katakan barusan jika aku hanya ingin menemui mereka saja karena aku sangat merindukan mereka. Apa itu salah, lagi pula bagaimanapun mereka itu adalah anak kandungku," ucap Marlina.


"Baiklah, jika kamu ingin kembali pada masa lalumu itu silahkan saja. Tapi jangan harap aku akan menerimamu lagi! " bentak Setyo.


Dia memang suami yang sangat baik dan tanggung jawab, tetapi sangat posesif. Itu yang membuat Marlina sulit sekali untuk bisa bertemu dengan ketiga anaknya. Selalu saja Setyo beranggapan jika Marlina akan kembali pada Lukman.


********


Pagi menjelang, Marlina melakukan aktifitasnya seperti biasanya. Tetapi kali ini dia tak seceria seperti biasanya, sejak dia bertemu dengan Lukman.


"Mah, apakah mamah sudah mengatakan pada papah?" tanya Rindi membuyarkan lamunannya di sela sarapan.


"Mengatakan apa?" tanya Setyo.


"Jadi mamah belum mengatakannya pada papah ya?"


"Katakan sendiri memangnya kenapa sih?" ucap Marlina ketus tidak seperti biasanya.

__ADS_1


"Iya, Rindi. Katakan saja apa yang ingin kami katakan. Jangan meminta mamahmu yang mengatakan," ucap Setyo penasaran.


"Pah, tolong bantu aku supaya bisa dekat lagi dengan Bagas."


Mendengar apa yang di katakan Rindi, Setyo langsung menjatuhkan sendok dan garpu ya di piring yang membuat kaget Rindi dan Marlina.


"Kamu sudah buat malu, kami! dan kami ingin mengulangnya lagi? papah nggak akan mau mengemis demi dirimu. Sama saja memperlakukan harga diri papah"


Saat itu juga Setyo beranjak bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Dia sama sekali tak menghiraukan apa yang diinginkan oleh Rindi.


"Kamu sudah lihat sendiri kan, bagaimana sifat papahmu? makanya mamah angkat tangan tak mau mengatakan padanya," ucap Marlina.


"Lantas aku harus bagaimana, mah?" tanya Rindi bingung.


"Cari lelaki lain memangnya kamu nggak bisa? di dunia ini banyak lelaki nggak cuma satu! apa yang papahmu katakan memang benar adanya," ucap Marlina.


"Kalau kamu tahu hal itu kenapa dulu kamu menyakiti dirinya dengan membawa lelaki lain, bahkan ke rumahnya?"


Rindi sudah tak bisa berkata lagi dia pun hanya diam. Mimpinya untuk bisa mendekati Bagas lagi tak kesampaian.


"Mamah mau pergi karena ada arisan sama teman-teman, kamu jangan keluyuran di rumah saja."


Marlina beranjak pergi dari meja makannya.


"Aku nggak akan mau dan nggak akan mampu untuk berdiam diri di rumah. Bagaimana aku bisa mendapatkan lelaki yang baik seperti Bagas. Jika aku terus di dalam rumah," batin Rindi.


Marlina pergi dengan mengendarai mobil sendirian, begitu juga dengan Rindi. Akab tetapi dia pergi beberapa menit setelah Marlina pergi.


Rindi tak pernah betah di rumah, dia suka keluyuran dan hura-hura dengan teman-temannya.

__ADS_1


Pada saat Marlina mengemudikan mobilnya, tiba-tiba ia berhenti.


"Sebaiknya aku ke rumah Mas Lukman saja, pasti Mas Setyo tidak akan tahu. Kab dia sekarang ini sedang ada di kantornya. Hati ini tak tenang jika belum tahu kabar ketiga anakku." Marlina akhirnya nekad pergi ke rumah Lukman.


Hanya beberapa menit saja, ia telah sampai di pelataran rumah Lukman. Dan kebetulan Lukman sedang jemur pakaian di pelataran kosong.


"Marlina, untuk apa kamu datang kemari setelah bertahun-tahun pergi?' tanya Lukman ketus.


"Mas, aku memang salah telah meninggalkan anak-anak demi kesenanganku sendiri. Aku minta maaf, aku telah menyesal dan aku ke sini hanya ingin melihat anak-anakku saja tidak ada niat yang lain," ucap Marlina memelas.


"Kata maafmu tidak ada gunanya lagi karena mereka sudah terbiasa hidup tanpa adanya dirimu. Jadi tak perlu kamu datang-datang lagi ke sini hanya akan membuka luka lama pada anak-anak saja," ucap Lukman.


"Mas, apa kamu telah punya istri lagi sehingga kamu bersikap kasar seperti ini padaku?" tanya Marlina penasaran.


"Ada atau tidaknya istri itu bukan urusanmu, kamu tak usah turut campur kehidupan pribadiku dan anak-anak lagi, karena kamu bukan siapa-siapa lagi bagi kami tak ubahnya kamu itu adalah orang lain," ucap Lukman.


"Kamu salah, Mas. Walaupun status kita sudah bukan suami istri tapi sampai kapanpun aku ini akan tetap menjadi ibu bagi ketiga anakku," ucap Marlina.


"Ibu yang tak tanggung jawab, ibu yang tega meninggalkan anak-anak bahkan pada saat si kembar masih bayi. Apa itu pantas disebut namanya seorang ibu?kamu itu tak pantas menyandang status seorang ibu, karena kamu sama sekali tak punya hati nurani sedikitpun. Bahkan kamu rela meninggalkan ketiga anakmu yang waktu itu masih kecil-kecil hanya demi untuk bisa hidup mewah dengan lelaki yang kaya raya," ucap Lukman kesal.


"Mas, aku mohon padamu tolong izinkan aku untuk bertemu ketiga anak aku," pinta Marlina memohon.


"Aku tidak akan mengizinkan kamu untuk bisa bertemu dengan anak-anak. Pergilah sekarang juga karena tidak ada gunanya juga kamu datang ke sini untuk menyesali segala perbuatanmu di masa lalu!"


"Aku sangat yakin jika anak-anak juga tidak akan menerimamu begitu saja. Mereka pasti telah membencimu terutama Ais yang pada saat itu melihat sendiri bagaimana kamu pergi dengan lelaki lain!"


Saat itu juga Lukman masuk ke dalam rumah dan menguncinya dari dalam. Dia benar-benar tak ingin meladeni Marlina, karena dia benar-benar sudah sangat kecewa padanya. Apalagi jika mengingat waktu dulu di mana Marlina begitu saja meninggalkannya demi lelaki lain.


Marlina begitu terpukul dia begitu sedih karena usahanya gagal hingga pada akhirnya dia pun pergi begitu saja, karena dia juga tak ingin berlama-lama di rumah Lukman. Rasa khawatirnya timbul jika suaminya akan tahu jika saat ini dirinya ada di rumah Lukman.

__ADS_1


__ADS_2