
Aan heran dengan apa yang dikatakan oleh Ayah Lukman.
"Maksudnya nggak di izinkan oleh pria pemarah itu bagaimana pak?" tanya Aan penasaran.
Ayah Lukman menceritakan awal mula dirinya berhenti menjadi sopir pribadinya Bagas. Dan bahkan cerita bagaimana dirinya tidak di izinkan kerja.
"Pak, masa iya baru menjadi pacar Ais saja sudah mengatur seperti itu pada bapak. Apa lagi nanti jika benar-benar sudah menjadi menantu. Bapak kok benar-benar yakin sekali ya," ejek Aan tak sadar.
Perkataan Aan lama-lama membuat geram Ayah Lukman.
"Nak Aan, maaf ya saya ini belum mandi dan mau mandi dulu. Nanti saya usahakan habis sholat isya datang," ucap Ayah Lukman.
Ia sengaja beralasan seperti itu supaya Aan lekas pergi dan tak menghasut ia terus.
"Baiklah, pak. Kalau begitu saya pamit pulang ya. Jangan lupa nanti datang karena ayah sangat berharap bapak datang." Aan bangkit dari duduknya seraya menyalami Ayah Lukman.
Seperginya Aan, Ayah Lukman bisa bernafas lega. Ia melangkah masuk ke dalam rumah dan tak lupa mengunci pintu rumahnya. Ia membaringkan tubuhnya di ranjang kamarnya.
"Hem, Aan-Aan. Aku tahu dari tadi kamu itu menghasut aku supaya benci sama Bagas. Karena kamu itu cinta juga pada Ais, tapi Ais lebih memilih Bagas."
"Jika kamu itu bukan anak dari Wardi yakni sahabat baikku tempo dulu. Mungkin sudah dari tadi aku tegur kamu."
Tak terasa Ayah Lukman memejamkan matanya, ia pun tertidur saat itu juga. Sementara Aan sudah sampai di rumahnya. Karena rumah berjarak dekat dengan rumah Ais, apa lagi ia mengemudi motor pada saat ke rumah Ais.
"Sudah di sampaikan ke Pak Lukman?" tanya Juwagan Wardi.
"Sudah, ayah. Katanya nanti
Pak Lukman pasti datang kemari," ucap Aan.
"Jika sudah kamu sampaikan, kenapa kamu terlihat murung seperti itu?" tanya Juragan Wardi penasaran.
"Sedih, yah," ucap Aan murung.
__ADS_1
"Sedih kenapa?" tanya Juragan Wardi lagi.
"Sedih, karena Ais sudah punya pacar. Padahal dari dulu aku suka padanya, tapi malah Ais memilih pria yang belum lama di kenalnya," ucap Aan murung.
"Memangnya kamu sudah pernah menyatakan rasa sukamu itu pada, Ais? hingga kamu mengatakan bahwa Ais lebih memilih pria lain di banding dirimu!" tanya Wardi.
"Aku sama sekali belum pernah menyatakan rasa ini pada Ais, ayah," ucap Aan.
"Kalau begitu kamu tak usah menyalahkan orang lain, apa lagi menyalahkan Ais dengan mengatakan lebih memilih pria yang belum lama di kenalnya. Dari pada memilih dirimu."
"Seharusnya kamu itu koreksi diri. Jika kamu suka seharusnya tak usah menunda waktu untuk menyatakan perasaanmu itu. Yang akhirnya seperti ini kan, keduluan sama orang lain."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Wardi, Aan membenarkannya.
"Iya, yah. Aku yang salah kenapa dari dulu aku pendam saja rasa cintaku pada Ais. Hingga Ais di ambil orang," ucap Aan sedih.
"Sudah, Aan. Dunia ini tak selebar daun kelor, banyak gadis di dunia ini yang lebih baik dari Ais. Pasti suatu saat nanti kamu akan menemukannya," ucap Wardi menghiburnya.
"Entahlah, ayah. Apa aku bisa move on dari Ais. Aku hanya heran saja padanya, ayah. Kenapa bisa ia suka pada pria yang selalu ia ceritakan padaku dulu. Pria ini katanya gampang sekali marah," ucap Aan.
"Pernah juga kami saling mengatakan najis jika saling suka. Tapi malah ternyata jadi suami istri hingga saat ini. Dan keluarlah kamu."
Sejenak Aan bisa tersenyum pada saat mendengar cerita masa lalu Wardi.
Sementara saat ini Bagas dan Ais sedang berada di sebuah gedung bioskop. Mereka melihat film yang sangat romantis. Membuat mereka baper dan tak sadar Ais menyenderkan kepalanya di dada bidang Bagas.
Bagas tak tinggal diam, ia merengkuhnya dalam dekapannya. Tangannya menggenggam jemari tangan Ais. Rasa nyaman kini sedang di rasakan keduanya.
"Ternyata seperti ini rasanya jatuh cinta dan pacaran. Kenapa nggak dari dulu ya," batin Bagas.
"Aku akan ajak nikah Ais secepatnya, dan semoga ia mau," batinnya lagi.
Tak berapa lama, acara film telah usai. Bagas mengajak makan Ais di sebuah restoran. Dan mereka lagi-lagi bertemu dengan Marlina dan suami serta anaknya.
__ADS_1
"Kenapa sih, kita harus bertemu lagi dengan Bagas? kalau aku belum pesan makanannya, mending kita pergi saja dari sini! sungguh memuakkan, membuat selera makanku hilang seketika," ucap Setyo seraya mengepalkan tinjunya.
Marlina justru senang karena bisa bertemu Ais walaupun ia tak bisa menjangkaunya, hanya bisa melihat dari jarak jauh.
"Wah, berarti benar omongan Bagas. Jika ia pacaran sama Ais. Alhamdulillah, semoga saja hubungan mereka langgeng hingga pernikahan. Ais terlihat sangat cantik sekali memakai pakaian seperti itu," gerutu Marlina di dalam hatinya.
Lain halnya dengan Rindi, ia sangat cemburu melihat kemesraan Bagas dengan Ais.
"Ih, norak banget Bagas! di depan umum pakai acara pegangan tangan, ciumin tangan si cleaning servis itu. Walaupun di dandani kaya apa, tetap saja tidak setara dengan Bagas! aku juga tak akan lupa, karena ulahnya aku jadi masuk rumah sakit! awas saja kamu ya gadis desa!" batin Rindi kesal.
Bagas sengaja menggenggam tangan Ais dan menciuminya karena ia melihat ada keluarga Rindi. Sementara Ais belum melihatnya, karena ia duduk membelakangi keluarga Rindi.
"Mas Bagas, aku mau ke toilet sebentar ya," pamitnya.
'Jangan lama-lama ya, sayang," pesan Bagas.
"Ok, mas. Sebentar doang kok."
Ais melangkah menuju ke arah toilet wanita, dan tanpa ia sadari Rindi juga mengikutinya. Setelah sampai di toilet khusus wanita, barulah tiba-tiba Rindi menarik rambut Ais dari arah belakang.
"Aaahhh...siapa sih ini? sakit tahu!" teriak Ais merintih kesakitan.
"Kamu mau tahu siapa aku?" Rindi terus saja menarik rambut Ais membawanya melangkah ke arah cermin.
"Sekarang kamu lihat kan, siapa aku?" ucapnya tersenyum sinis.
"Mba, kasar amat sih!"
"Iya, datang-datang main tarik rambut orang!"
Beberapa pengunjung toilet wanita tak suka dengan tingkah Rindi.
"Heh, berisik kalian! nggak usah turut campur urusan orang, sebaiknya kalian urus diri kalian sendiri!' bentak Rindi melotot ke arah wanita yang menegurnya.
__ADS_1
Saat Rindi terus saja nyerocos, hal ini tak di sia-siakan oleh Ais. Dengan sekuat tenaga, ia menendang Rindi dengan kedua tangan bertumpu pada wastafel di depannya, walaupun menendang ke arah belakang. Dan tepat mengenai pahanya, hingga Rindi langsung jatuh tersungkur melepaskan tarikan pada rambut Ais.