Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Kemalingan


__ADS_3

Ais pun melanjutkan pembicaraannya dengan pelanggannya kembali. Sementara saat ini Rindi terus saja menggerutu.


"Ist... bagaimana bisa si gadis miskin itu kini punya restoran mewah ini? apalagi setelah restoran yang itu aku hancurkan. Pastinya kan sudah bangkrut karena terakhir aku melihatnya tutup beberapa hari."


"Aku yakin apa yang barusan dikatakan Ais adalah suatu kebohongan, mana mungkin dia memiliki restoran semewah itu, pasti dia telah membayar orang-orang tadi beserta security-nya untuk bersandiwara di depanku."


"Aku harus mencari tahu lebih lanjut, siapa sebenarnya pemilik restoran mewah ini supaya aku bisa mempermalukan Ais."


Rindi masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya. Ia pun mencari beberapa informasi tentang pemilik restoran tersebut dan ia mendapatkan informasi jika salah satu pemiliknya adalah seorang pengusaha terkenal tepatnya pemilik perusahaan di sebelah restoran tersebut.


Rindi pun menyambangi sebuah perkantoran besar yang letaknya tak jauh dari restoran tersebut, ia ingin bertemu dengan seorang wanita karir, seorang direktur utama di perusahaan tersebut.


"Selamat pagi menjelang siang, Bu Ira," sapa Rindi di ruang kerja Bu Ira.


"Iya selamat pagi, ada keperluan apa anda mencari saya? apakah ingin mendaftar pekerjaan, tetapi maaf kebetulan di kantor saya sedang tidak butuh lowongan pekerjaan semua posisi sudah full,' ucapnya tegas.


"Mohon maaf, Bu Ira. Saya datang kemari bukan untuk melamar pekerjaan tetapi ada hal yang ingin saya tanyakan pada anda. Mohon luangkan waktunya sebentar karena ini penting bagi saya," ucap Rindi.


"Katakan saja apa sebenarnya yang ingin anda tanyakan? tapi mohon maaf ya, waktu saya tidak banyak, karena sebentar lagi saya ada meeting," ucap Bu Ira.


"Begini Bu Ira, saya ingin menanyakan restoran yang ada di samping perusahaan ini. Maksud saya saya ingin menanyakan pemilik restoran itu siapa?" tanya Rindi.


"Memangnya ada keperluan apa anda ingin mengetahui pemilik restoran tersebut?" Bu Ira malah balik bertanya.


"Begini Bu Ira, kebetulan saya punya kenalan yang ingin mengadakan kerjasama. Ia ingin menyewa jasa sebuah restoran, nah saya ingin mempromosikan restoran yang ada di samping perusahaan ibu, tetapi saya tidak tahu persisnya siapa pemilik restoran tersebut. Saya hanya tahu informasinya jika saya menghubungi Bu Ira," ucap Rindi.

__ADS_1


"Oh... jika ingin membicarakan masalah kerjasama tentang restoran itu dengan rekan kerja saya saja. Ini kartu namanya, anda bisa menghubunginya secara langsung supaya lebih nyaman dalam penyampaiannya penjelasannya."


Bu Ira memberikan sebuah kartu nama pada Rindi.


"Jadi yang mengelola restoran tersebut namanya Aisyah, benarkah ini Bu Ira?" tanya Rindi untuk memastikan.


"Benar sekali, nama direktur utama di restoran tersebut adalah Aisyah biasa dipanggil dengan nama, Ais," ucap Bu Ira tegas.


"Baiklah kalau begitu Bu Ira, terima kasih atas informasinya. Sekali lagi saya mohon maaf karena telah mengganggu waktu anda, kalau begitu saya permisi karena ingin langsung menghubungi yang bersangkutan."


Saat itu juga Rindi bangkit dari duduknya dan melangkah pergi dari ruang kerja Bu Ira. Ia melangkah dengan penuh amarah.


"Berarti apa yang dikatakan oleh Ais tadi adalah benar. Tapi bagaimana bisa seorang Ais yang hanya gadis miskin dan barbar itu bisa menjadi rekan kerja dari seorang pengusaha ternama dan kaya raya seperti Bu Ira?"


"Semua ini menurutku aneh, apakah ini ada campur tangan dari Bagas? secara iya kan seorang pengusaha juga, mungkin saja seperti itu karena tidak mungkin jika Ais mendapatkan rekan kerja dengan usahanya sendiri."


Rasa iri dengki dan cemburu semakin menghujam dada Rindi, ia semakin tidak terima dengan keberhasilan dan kesuksesan yang saat ini sedang dirasakan oleh, Ais.


"Aku sudah berhasil menghancurkan satu restoran milik Ais, tetapi kenapa kini Ais malah memiliki restoran yang lebih besar, megah, mewah bahkan viral di semua media elektronik selalu diiklankan dipromosikan."


"Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, aku tidak rela jika melihat sainganku yang telah merebut kekasih hatiku sukses begitu saja."


"Aku juga akan mencari cara bagaimana supaya restoran Ais itu bangkrut seperti restoran miliknya yang itu."


Sampai detik ini Rindi belum mengetahui jika restoran yang pernah dia buat sebuah fitnah kini sudah buka kembali.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan pulang, Rindi terus saja mengumpat dan terus saja menggerutu, terus saja tidak terima dengan kenyataan bahwa Ais lebih unggul darinya.


Dia berpikir bagaimana bisa gadis miskin gadis barbar dan hanya lulusan SLTA mampu sukses begitu cepatnya. Sedangkan dia yang lulusan sarjana hingga detik ini hanya seorang pengangguran yang lantang lantung tidak jelas.


"Sampai detik ini aku masih heran pada Bagas, kenapa dia memilih gadis barbar untuk menjadi kekasihnya? padahal aku lebih baik dari nya, secara dilihat dari segi pendidikan aku lebih pintar karena aku sekolah tinggi lulusan sarjana luar negeri sedangkan Ais hanyalah anak dari seorang sopir, bahkan ia hanya sopir angkot."


"Aku rasa Ais mendapatkan Bagas bukan dengan cara yang baik. Pasti ia melakukan guna-guna sehingga Bagas mau melakukan segalanya untuk Ais."


Tak terasa Rindi telah sampai di rumah, tetapi ia shock pada saat melihat pintu gerbang rumahnya sudah terbuka. Dan pada saat ia masuk dengan mobilnya, ia juga melihat pintu rumahnya terbuka lebar. Hingga rasa penasaran yang tinggi membuat Rindi memarkirkan mobil hanya di pelataran rumah. Dan ia lekas masuk ke dalam rumahnya.


Akan tetapi ia teringat jika belum mengunci pintu gerbang, ia pun berlari kecil mengunci pintu gerbang rumah nya. Lantas ia berlari menuju ke rumah.


"Astaga.... siapakah yang melakukan hal ini? habis sudah isi rumah ini? bagaimana bisa di siang bolong ada maling tapi para tetangga tidak tahu sama sekali?" gumamnya kesal.


Rumah Rindi kemalingan, barang berharga seperti TV, laptop, juga bener barang elektronik lainnya juga hilang.


"Sialan, aku sengaja memecat security dan tukang kebun. Karena aku tak ingin uangku bertambah boros untuk membayar mereka. Kini malah rumahku di bobol maling."


"Aku belum cek kamar aku, apakah maling nya masuk ke kamar atau tidak?"


Saat itu juga Rindi masuk melangkah menuju ke kamarnya.


"Loh, sudah terbuka..Astaga. .. kamarku juga kemalingan.."


Rindi menangis histeris pada saat mendapati kamarnya juga di bobol maling padahal pintu kamar di gembok.

__ADS_1


Semua perhiasan yang ada di kabar hilang, dan lebih parahnya lagi sertifikat tanah dan rumah serta surat-surat mobil milik papahnya juga tidak ada.


Rindi mengecek ke garasi apakah motornya masih ada. Ternyata motor kesayangannya juga raib. Ia pun terkulai lemas.


__ADS_2