
Sore menjelang di mana semua orang telah berkumpul di rumah dan hal ini akan digunakan untuk menyatakan tentang apa yang disarankan oleh Bagas pada siang tadi.
"Ayah, ada yang ingin aku bicarakan dengan ayah tetapi kok ayah terlihat murung memangnya ada apa?" tanya Ais heran.
"Tadi pagi, ayah ke sekolah si kembar untuk melunasi bayaran sekolah mereka, tetapi ada hal aneh yang terjadi di sana," ucap Ayah Lukman seraya menghela napas panjang.
"Memangnya hal aneh apa yang telah terjadi di sekolah, ayah?" tanya Ais menjadi tambah penasaran.
"Semua uang bayaran tunggakan sekolah si kembar sudah ada yang membayarnya dan kata pak kepala sekolah yang melunasinya adalah saudara dari ibumu. Sedangkan setahu ayah, ibumu itu tak punya sanak saudara," ucap Ayah Lukman.
"Berarti ibu yang bayar, kenapa ayah nggak tanyakan saja pada Ade atau Ado. Barangkali ibu secara langsung menemui mereka," ucap Ais.
"Biar aku saja yang tanya sama Ade atau Ado." Ais melangkah ke ruang tengah di mana kedua adiknya sedang asyik menonton acara televisi.
"Ade-Ado, Mba Ais ingin tanya sebentar sama kalian ya?"
"Tanya apa sih Mbak kelihatannya kok serius sekali?" ucap Ado memicingkan alisnya.
"Apakah pernah ada seorang wanita yang lumayan tua datang ke sekolahan kalian?" tanya Ais menyelidik.
"Oh itu iya mbak, pernah sih. Sudah begitu lama kok, tapi kami lupa pada waktu itu ingin ngomong sama ayah atau mbak Ais."
"Waktu itu ada seorang ibu tiba-tiba minta kenalan dengan kami. Dan ibu itu memberi kami uang masing-masing seratus ribuan. Ibu itu namanya Lina."
Mendengar apa yang di katakan oleh si kembar, Ais sudah yakin jika yang menemui si kembar adalah ibunya.
"Kalian harus ingat ya, jangan lagi-lagi kalian ini akrab dengan orang yang tak di kenal. Hari gini banyak sekali orang jahat mengaku orang baik hanya untuk menculik anak-anak," ucap Ais sengaja menakuti kedua adiknya.
"Baik, mba. Kami nggak akan lagi-lagi merespon orang yang mendekati kami. Maafkan kami ya, mba," ucap Ado.
"Iya sudah jangan di ulang lagi. Oh ya, apa pihak sekolah tidak menagih uang bayaran kalian lagi?" Ais pura-pura bertanya.
"Nggak, mbak. Bukannya tadi ayah sudah ke sekolah?" Ade balik bertanya.
__ADS_1
"Hem, ya sudah kalau begitu. Yang terpenting ingat selalu pesan dari mba ya," ucap Ais sekali lagi.
Ais pun berlalu pergi dari ruang tengah dan dia kembali menemui ayahnya yang ada di ruang tamu. Tak lupa ia mengatakan semuanya kepada ayahnya tentang apa yang telah dikatakan oleh si kembar padanya.
"Tidak diragukan lagi memang benar yang datang ke sekolahan itu adalah ibumu, bahkan ia mencoba perlahan-lahan untuk mendekati si kembar dengan memakai nama bernama Lina," ucap Ayah Lukman.
"Lantas kita harus bagaimana Ayah, apa kita akan membiarkan ibu terus berusaha mendekati si kembar?" tanya Ais bingung.
"Kamu nggak usah khawatir Ais, bukannya si kembar kan sudah lulus apalagi uang sekolahnya sudah dibayar semua. Kita katakan saja pada guru-guru yang ada di sekolahannya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun tentang sekolah si kembar yang baru," ucap Ayah Lukman menenangkan hati Ais.
"Oh ya, katanya kamu ingin mengatakan sesuatu pada ayah?" tanya Ayah Lukman mengalihkan pembicaraan.
"Iya ayah, ini tentang kerjaanku. Mas Bagas memintaku untuk berhenti kerja dan ia berkata akan memberikan modal untuk usaha aku dan ayah membuka sebuah restoran. Aku belum mengiyakan tapi aku meminta waktu karena aku ingin tahu apa keputusan ayah?" ucap Ais.
"Maksudnya bagaimana ayah tak mengerti, karena ayah sedang tidak bisa berpikir jernih sejak tahu ibumu datang ke sekolahan si kembar," ucap Ayah Lukman.
"Ayah, sudah jangan di bahas lagi nanti yang ada di kembar dengar loh," tegur Ais.
"Begini ayah, kata Mas Bagas ia nggak tega jika aku tetap bekerja sebagai sopir dan cleaning servis. Hingga ia ingin memberiku modal untuk membuka sebuah restoran. Kata usahaku ini bisa di bantu ayah juga, supaya ayah tak bosan di rumah terus."
"Mas Bagas memberikan modal bukan meminjamkan. Menurut ayah bagaimana?"
Setelah Ais menjelaskan secara detail barulah Ayah Lukman paham. Tetapi ia tak langsung menjawab apa yang di katakan oleh Ais. Sejenak ia hanya diam seolah sedang berpikir.
"Ayah, bagaimana menurut ayah? kalau menurutku sih ini kesempatan bagus untuk kita. aku bisa berkreasi dengan segala masakan yang aku suka, ayah," ucap Ais.
'Ya sudah, kamu terima saja..Ayah akan dukung apa pun yang menurutmu itu baik. Ayah juga akan siap sedia membantumu," ucap Ayah Lukman.
'Ayah serius bersedia, ini bukan suatu keterpaksaan kan?" tanya Ais ragu.
"Tidak, Ais. Ayah yakin dengan keputusan ini, siapa tahu saja ini adalah jalan terbaik untuk dirimu menjadi sukses menjadi seorang pengusaha kuliner," ucap Ayah Lukman.
"Baiklah, jika begitu besok aku akan mengatakan hal ini pada Mas Bagas," ucap Ais begitu antusiasnya.
__ADS_1
Hingga tak terasa pagi menjelang, Ais sudah siap sedia untuk datang ke rumah Bagas. Ia begitu antusiasnya untuk bertemu Bagas pagi ini.
Ia telah melupakan jika pagi ini adalah hari libur, tanggal merah. Kantor tutup jika tanggal merah. Tetapi ia tetap datang ke rumah Bagas.
Pada saat Ais sampai di pelataran rumah Bagas, orang tua Bagas cengengesan sendiri saling memandang.
"Nyonya-Tuan, Mas Bagasnya ada?" tanya Ais.
'Kok panggilannya Nyonya-Tuan? kamu kan saat ini sudah menjadi kekasih Bagas. Seharusnya memanggil kami dengan sebutan Mamah papah saja," ucap Broto.
Belum juga Ais menjawab, Bagas telah keluar dan ia berkata.
"Iya Ais, anggap orang tuamu seperti orang tuamu juga ya," ucap Bagas.
"Hheee iya mas, Loh Mas Bagas kok belum siap-siap?" tanya Ais heran pada saat melihat Bagas masih mengenakan baju rumahan.
"Siap-siap kemana, sayang?"
"Ke kantorlah," ucap Ais yang membuat Bagas tergelak dalam tawanya juga orang tuanya.
"Kenapa semuanya tertawa?" tanya Ais bingung.
"Memang jatuh cinta itu berjuta rasanya, hingga lupa segalanya dan lupa hari. Ais sayang, ini kan tanggal merah. Secara setiap tanggal merah kan kantor libur walaupun itu bukan hari Minggu," ucap Bagas terkekeh.
"Astaghfirullah alazdim, aku lupa."
Ais menepuk jidatnya sendiri.
Wajahnya berubah merona merah di pipinya menahan rasa malu.
"Pantas saja dari tadi orang tua, Mas Bagas terus saja menahan tawa pada saat melihatku," batin Ais.
'Ya ampun, malunya diri ini."
__ADS_1