Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Pertolongan Mendadak


__ADS_3

Padahal ia punya banyak uang dari hasil menjual perusahaan papahnya, tetapi ia berkata bohong dengan mengatakan jika dirinya sama sekali tak punya uang.


Si bibi merasa kecewa karena sudah dua bulan gajinya tak dibayar.


"Non, masa iya Non Rindi nggak punya uang sama sekali. Non kan anak orang kaya, Papahnya punya perusahaan pasti tabungan non juga banyak. Setidaknya bayar dulu gaji bibi yang bukan lalu juga nggak apa-apa, karena saya benar-benar butuh untuk bayar sekolah anak-anak di kampung," pintanya memohon akan tetapi Rindi sama sekali tidak ada rasa belas kasih sedikitpun pada asisten rumah tangganya.


"Bi, di sini yang majikan itu siapa? kan saya? kenapa bibi yang mengatur seperti itu, sudah aku katakan besok aku akan mencari uang untuk bayar gaji bibi. Sabar sedikit apa nggak bisa, aku pasti bayar kok, nggak usah khawatir seperti itu," ucap lantang Rindi.


"Maaf Non, saya juga sudah bersabar hingga dua bulan ini gaji saya tertahan seperti ini. Saya nggak tega dengan kedua anak saya yang sudah lama nunggak uang sekolah. Dan saya berniat gaji saya yang dua bulan untuk bayar tunggakan uang sekolah kedua anak saya," ucap bibi mulai hilang rasa sabarnya.


Bahkan kini bibi tak berpikir jika Rindi itu anak majikannya. Ia sudah bersikap masa bodoh dan ia akan terus meminta haknya hingga dapat demi kedua anaknya yang ada di kampung.


Bibi ini seorang janda di tinggal mati suaminya, dan kedua anaknya di titipkan pada orang tuanya yang ada di kampung.


Mendengar apa yang di katakan oleh bibi, malah membuat Rindi marah besar.


"Bi, jika bibi terus saja memaksa. Sebaiknya bibi pergi saja dari sini!" usir Rindi ketus.


"Baiklah, non. Dengan senang hati saya akan pergi dari rumah ini, tapi tolon bayar dulu tunggakan gaji saya yang dua bulan. Dari bulan lalu dan juga bulan ini," ucap bibi sangat yakin.


"Enak saja, pergi sana cepat! bibi sudah buat mood aku hilang! jadi aku tidak akan bayar bibi sepeserpun! kalau tidak pergi sekarang juga akan aku paksa bibi pergi dengan cara aku seret bibi!" ancamnya ketus.


"Astaga, Non Rindi. Tega sekali memakan uang anak yatim? ingat perkataan saya baik-baik ya non. Non telah bertindak salah dengan memakan gaji saya dua bulan lamanya. Padahal uang itu sangat saya butuhkan, pasti Allah akan memberikan satu pelajaran yang seumur hidup tak kan pernah Non lupa! camkan baik-baik pesan terakhir dari saya! karena doa orang yang teraniaya pasti akan di kabulkan!"

__ADS_1


Setelah mengucapkan hal itu, si bibi berlalu pergi ke paviliun belakang hanya untuk mengemasi semua pakaiannya. Ia pun pergi saat itu juga dari rumah besar milik Setyo dengan menitikkan air matanya karena ia tak mendapatkan gajinya yang dua bulan tertahan.


Dengan jalan kaki menyusuri trotoar, si bibi terus saja melamun dan melamun. Seperempat jalan ia pun duduk sejenak.


"Ya Allah kemana lagi aku harus mencari uang untuk membayar biaya sekolah anak-anakku? dan kemana lagi kaki ini melangkah sedangkan aku sama sekali tak punya uang karena setiap bulan gajian selalu aku kirim semua ke kampung karena kedua anakku dan orang tuaku lebih membutuhkan uang," batinnya berkeluh kesah hingga tak terasa air matanya menetes begitu saja.


Pada saat ia sedih sendiri seperti itu duduk di pinggir trotoar. Ada sebuah mobil yang sedang melintas dan kebetulan mobil ini berhenti tepat di samping trotoar.


"Ibu kenapa menangis sendiri seperti ini? apa yang telah terjadi pada ibu?" tanyanya iba.


Bibi tanpa ada rasa sungkan menceritakan semuanya pada gadis muda nan cantik ini.


Mendengar cerita dari bibi, gadis muda ini tak tega.


"Biasa sih, pakai nomor rekening milik tetangga." ucapnya singkat.


"Hem, boleh nggak saya tahu berapa nomor rekeningnya biar saya yang kirim uang ke anak-anak ibu," pintanya ramah.


"Apa Non serius?" tanya bibi ragu.


"Serius, bi. Saya hanya ingin bantu bibi dan supaya bibi tak bersedih lagi," ucap gadis baik itu meyakinkan si bibi.


Sejenak si bibi meraih ponselnya yang ada di dalam tas yang ia bawa. Dan menunjukkan nomor rekening milik salah satu tetangganya yang selalu di gunakan untuk dirinya mengirimkan uang untuk kedua anaknya yang ada di kampung.

__ADS_1


Saat itu juga si gadis baik ini mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening yang di tunjukkan oleh si bibi denga M-banking nya.


"Ibu, saya transfer uang lima juta ya. Ibu bisa kasih sedikit rezeki pada tetangganya ini yang memiliki nomor rekeningnya ya. Biar berkah, saling berbagi rezeki. Ibu telpon dulu gih sama orang rumah, katakan bahwa sudah kirim uang."


"Nanti setelah itu, ibu bisa ikut saya pulang ke rumah ya. Ibu bisa kerja sama saya di rumah saya. Tapi maaf rumah saya itu kecil tidak besar."


"Tapi Insa Allah saya tidak akan telat dalam membayar uang gaji, ibu. Ibu percaya kan pada saya?"


Si bibi mengangguk dan ia kali ini menangis haru, ia sama sekali tak menyangka jika akan ada orang baik yang akan menolongnya tepat waktu seperti itu.


Bibi langsung menelpon orang rumah dan ia mengatakan jika sudah kirim uang. Bahkan bibi meminta orang rumah juga memberikan uang kepada yang punya nomor rekening sejumlah dua ratus ribu sebagai tanda jasa sudah mau memakai rekening miliknya untuk transfer uang.


"Non, sekali lagi bibi ucapkan terima kasih ya. Bibi bersedia bekerja di rumah non, dan nanti gaji pertama bibi untuk bayar tadi uang yang non kirim ke kampung."


"Pastinya satu bulan gaji kan nggak cukup ya non. Ya sudah dua bulan gaji buat bayar uang non tadi ya."


Gadis yang baik ini bertambah iba mendengar apa yang barusan di katakan oleh bibi.


"Bu, saya kan kasih uang itu ikhlas untuk ibu. Jadi itu nggak di hitung hutang, bu. Jika ibu kerja selama dua bulan nggak di gaji lantas bagaimana nanti yang di kampung?"


"Ibu kerja pada saya, tapi akan tetap saya gaji dari awal bekerja. Uang tadi itu saya berikan secara cuma-cuma."


"Ya sudah, ayok ibu masuk ke mobil. Ikut ke rumah saya sekarang juga ya."

__ADS_1


Gadis baik itu menuntun si ibu masuk ke dalam mobil yang ia tumpangi. Dan setelah itu melaju kembali.


__ADS_2