Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Agak Terhibur


__ADS_3

Sejak kejadian keributan itu, Setyo benar-benar memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengawasi rumah dan restoran milik Ayah Lukman. Hingga satu Minggu berlalu.


"Ternyata mantan suami dan anak Marlina tidak bohong, Marlina tidak ada bersama mereka. Lantas menghilang kenapa sebenarnya Marlina ya? masa iya sama sekali aku tak tahu? dan keterlaluan sekali Marlina hilang begitu saja bahkan nomor ponsel juga tidak aktif," batin Setyo gelisah.


Ia tak memungkiri masih ada rasa cinta pada Marlina. Akan tetapi semua sudah terlambat karena Marlina telah pergi untuk selamanya dari kehidupan dirinya.


Bagi Setyo tidak ada wanita yang seperti Marlina. Bahkan almarhumah istrinya yakni mamahnya Rindi juga sifatnya buruk.


Setelah terjadinya insiden di restoran, Ais sampai lupa untuk mengatakan tentang pernikahan kepada Bagas. Yang dia pikirkan hanyalah rasa amarahnya terhadap Setyo juga rasa benci yang mendalam terhadap Marlina.


"Sayang, kenapa beberapa hari ini aku lihat kamu itu murung seperti sedang menyimpan sesuatu di dalam hatimu?" tanya Bagas menyelidik menatap wajah murung Ais.


"Nggak apa-apa kok, mas," ucap Ais berbohong.


"Nggak apa-apa bagaimana? wajahmu saja sudah menampakkan kemurungan tidak seceria biasanya. Jika itu semua karena aku, aku minta maaf. Mungkin saja ada suatu kata-kataku yang telah membuatmu murung seperti ini," ucap Bagas.


"Mas Bagas, terlalu sensitif ya? aku itu tidak ada masalah sedikitpun denganmu, jujur saja aku sedang memikirkan rasa kesalku beberapa hari lalu karena kedatangan tamu yang tak diundang di restoran ini."


"Bahkan yang aku tidak suka, orang itu menghina ayah hingga sampai hari ini pun aku masih ingat kata-kata hinaannya itu."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Ais, membuat Bagas itu memicingkan alisnya.


"Memangnya siapa yang telah datang bertamu ke sini sayang, apakah ibumu?" tanya Bagas semakin penasaran.


"Bukan mas, tetapi suami ibu yang sekarang," ucap Ais.


"Hah, Om Setyo maksudmu?" tanya Bagas lagi untuk memastikan.


"Iyalah Mas, siapa lagi? memang suami ibu itu ada berapa kan cuma dia," ucap Ais mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Ya maaf sayang, lah .. sensi banget dech," Bagas mencolek hidung mancung Ais membuat Ais sontak saja tersenyum.


Melihat senyum manis yang tersungging di bibir tipis kekasihnya membuat Bagas semakin merasa bahagia.


"Nah begitu dong tersenyum kan jadi terlihat kecantikannya yang paripurna," goda Bagas terkekeh.


"Sayang, kamu tak perlu bersedih terus jika Om Setyo datang lagi ke sini kamu langsung saja telepon aku. Seharusnya waktu itu kamu beritahu aku jangan diam saja," ucap Bagas ikut merasa tak senang karena ulah Setyo wajah Ais menjadi murung.


"Aku bahkan sampai lupa jika Om Setyo itu sudah bebas dari penjara. Memangnya apa saja yang telah di katakan olehnya di sini? maaf jika tak keberatan aku ingin tahu," ucap Bagas ragu khawatir Ais murung lagi.


"Intinya, ia mencari ini di sini. Sudah aku katakan tidak ada tapi ia tetap tak percaya hingga terjadi keributan. Yang aku tak suka ia itu sombong dengan menghina ayahku yang waktu dulu hanya seorang kuli bangunan. Hingga ibuku lebih memilih dirinya. Ini benar-benar sangat menyakitkan hatiku, mas."


"Aku tidak masalah jika aku sendiri yang di hina habis-habisan masih bisa aku terima. Tapi jika ayahku yang di hina aku tidak akan tinggal diam karena ayah adalah segalanya bagiku, mas."


"Jika tidak ada ayah entah bagaimana hidupku dan kedua adikku. Mungkin kdmi ada di panti asuhan atau hidup di jalanan."


"Ayah itu berkorban begitu banyak untuk kami bertiga. Hingga aku tidak akan biarkan satu orang pun menghina dirinya."


"Sebenarnya ibu sempat menghubungi ayah, ia berkirim surat pada ayah dan juga mengirimkan uang. Tapi semua uang pemberiannya itu kami kembalikan lewat sahabat baik ibu."


"Bahkan secara langsung ayah menelpon ibu waktu itu memakai nomor ponsel sahabat ibu karena ayah tak ingin nomor ponselnya di ketahui oleh ibu."


"Ternyata ibu itu sudah bercerai dari suaminya yang sekarang dan saat ini ia bekerja di Singapura sebagai asisten rumah tangga. Tapi aku sengaja tak mengatakan hal ini pada mantan suaminya yang sekarang."


"Jika aku katakan yang ada pasti ia semakin bertambah salah paham pada kami. Waktu itu saja, ia menuduh kami menyembunyikan ibu."


Demikian curhatan Ais kepada Bagas, yang membuat Bagas menjadi bertambah sayang pada Ais dan keluarganya.


"Ya Allah, begitu berat dulu Ayah Lukman menjalankan hidupnya tanpa ada seorang istri. Aku saja tak bisa membayangkan betapa repotnya mengurus tiga anak hanya seorang diri. Dan juga harus bekerja."

__ADS_1


"Ya ampun, di samping Ayah Lukman berperan menjadi ayah ia juga berperan menjadi seorang ibu."


"Bahkan ia kuat hingga detik ini hidup sendiri tanpa menikah lagi."


"Aku juga salut pada Ais yang benar-benar menjadi seorang anak yang berbakti. Dimana ia tela dan ikhlas membantu Ayah Lukman mencari nafkah demi si kembar."


"Ya Allah, aku akan berusaha untuk memberikan kebahagiaan pada Ais dan keluarganya. Sudah cukup penderitaan yang mereka rasakan selama bertahun-tahun lamanya."


"Kini sudah saatnya mereka hidup berbahagia dan jangan ada lagi tangis dan duka."


Melihat Bagas sedari tadi diam, membuat Ais heran.


"Mas Bagas, kenapa kamu melamun?" tanya Ais seraya menepuk bahu Bagas sontak saja ia kaget.


"Astaga... sayang...kamu membuat aku kaget saja. Kalau aku punya riwayat jantung bagaimana?" ucap Bagas seraya mengusap dadanya.


"Salah sendiri dari tadi aku tanya tidak menjawab, hanya bengong saja ya terpaksa aku tepuk bahuku dong," ucap Ais sekenanya.


"Iya iya aku minta maaf, aku sedang tidak fokus saja bukan sedang melamun," ucap Bagas nyeleneh.


"Apa bedanya tidak fokus dengan melamun, menurutku tidak ada bedanya sama saja. Mas Bagas ini ada-ada saja," ucap Ais terkekeh.


"Sayang, mulai sekarang kalau ada apa-apa itu katakan saja padaku jangan pernah sungkan. Jika memang kamu menganggap aku ini bagian dari hidupmu," ucap Bagas.


"Iya mas terima kasih ya atas perhatiannya."


"Jangan cuma berkata iya tapi prakteknya tidak," protes Bagas.


"Mas Bagas, aku sengaja tidak menceritakannya padamu karena aku itu tidak ingin menambah beban pikiranmu. Urusan kantormu saja kan sudah banyak masa iya aku harus menambah beban pikiranmu dengan urusan pribadi keluargaku?" ucap Ais menyunggingkan senyuman.

__ADS_1


Sejenak rasa kekesalan pada Setyo hilang berkat Bagas.


__ADS_2