
Ais di minta duduk saja, kemudi di ambil alih oleh Bagas.
"Den, kenapa Aden yang jadi sopir dan kenapa aku di dandani seperti ini?" kembali lagi Ais bertanya, akan tetapi Bagas tak mengatakan apapun pada Ais, membuat Ais pun sedikit kesal hingga akhirnya dia diam saja.
Tak terasa telah sampai di sebuah restoran mewah yang sedang booming. Bagas justru turun terlebih dahulu dan dia malah yang membukakan pintu mobil untuk Ais. Ais terperangah dengan sikap Bagas. Apalagi pada saat Bagas mengulurkan tangannya pada Ais.
"Ayo, kenapa diam saja seperti itu? buruan aku sudah sangat lapar." Pinta Bagas masih dengan tangan terulur pada Ais.
Hingga akhirnya Ais menurut, dia menggenggam tangan Bagas. Hal ini menambah jantung Bagas berdegup kencang.
"Fix, aku telah jatuh cinta pada gadis ceroboh dan barbar ini. Tapi biarlah, yang terpenting dia ini gadis yang sangat baik dan sayang keluarga," batinnya seraya terus saja menatap tak berkedip pada Ais.
"Den, katanya sudah lapar kenapa malah bengong saja?" teguran Ais lagi-lagi membuyarkan lamunan Bagas.
Bagas pun terkesiap seketika itu juga langsung menggandeng Ais melangkah masuk ke dalam restoran mewah tersebut. Semua menatap ke arah mereka penuh takjub, membuat Ais bingung dan salah tingkah.
"Kenapa mereka menatapku dan Den Bagas seperti itu ya? aduh, jangan-jangan mereka berpikiran aku ini nggak sopan jalan berdampingan dengan bos aku," batin Ais menerka-nerka isi pikiran orang yang terus menatap ke arahnya dan Bagas.
"Wah, Tuan Bagas. Bagaimana kabar, sungguh pasangan yang sangat serasi. Wanitanya cantik, prianya tampan. Sangat sempurna, Tuan," ucap seseorang yang tak lain salah satu rekan bisnis Bagas.
"Terima kasih atas pujiannya, kami permisi dulu ya Tuan. Karena saya sudah sangat lapar," ucap Bagas menyunggingkan senyumnya.
"Silahkan, Tuan. Saya juga harus lekas kembali ke kantor," ucapnya seraya berlalu pergi dari hadapan Bagas dan Ais.
Ais semakin tak mengerti dengan sikap Bagas yang menurutnya banyak perubahan. Akan tetapi dia sengaja diam saja.
"Duduklah dan temani aku makan," punya Bagas.
Namun Ais ragu, dia masih saja tetap berdiri.
"Kamu nggak usah khawatir, aku tidak menjahatimu lagi kok. Tidak akan lengket kok, jika kamu tak percaya biar aku saja yang duduk di kursi itu."
__ADS_1
Bagas duduk di kursi yang akan di duduki oleh Ais, terus dia bangun kembali.
"Sekarang kamu percaya kan, jika tempat duduknya aman. Aku tak ingin alami kesialan dengan usil padamu," ucap Bagas menyunggingkan senyuman.
Ais pun segera duduk di kursi tersebut tanpa ada rasa ragu lagi.
"Den Bagas benar-benar aneh, super aneh. Sekarang sedikit-sedikit tersenyum tidak seperti pada saat itu wajahnya murung selalu," batin Ais heran.
Bagas langsung memesan makanan, dan tak berapa lama makanan pesanannya telah datang. Lagi-lagi Ais hanya diam saja.
"Kenapa diam, makanlah. Atau kamu tak suka dengan menunya bisa aku pesankan menu yang lain," ucap Bagas.
"Nggak usah, Den. Suka kok, ini mau aku makan," ucap Ais lantas menyantap makanan tersebut, tetapi dia merasa tak nyaman karena Bagas sesekali menatapnya.
"Ist, semakin lama tingkah Den Bagas semakin aneh. Sudah merubah penampilan aku seperti ini dan juga cara menatapku kok gitu banget ya," batin Ais.
Tak berapa lama, mereka menyudahi makannya. Dan Bagas mengajak Ais kembali ke kantor. Dalam hati Bagas, dia tak rela juga jika Ais merubah pendiriannya kembali seperti sediakala tapi apa boleh buat.
Setelah berada di kantor, Ais pun berganti pakaian kembali dan dia melanjutkan kerjanya sebagai cleaning servis.
"Hy Ais." seorang karyawan cowok mencolek bahu Ais untuk bisa mendapatkan respon dari Ais yang sedang berdendang memakai heatset.
"Eh iya, Mas Didin. Ada apa ya?" tanya Ais pada saat melepaskan heatsetnya.
"Hem anu, Is. Kamu kalau pulang kerja di rumah saja atau kemana?" tanya Didin.
"Memangnya ada apa ya tanya begitu?" Ais malah balik bertanya.
"Hee...anu Is..
"Heh, kamu! jam kerja malah di sini, cepat kembali ke ruanganmu!" bentak Bagas yang tiba-tiba sudah ada di belakang Didin.
__ADS_1
Didin terhenyak kaget mendapatkan bentakan dari Bagas. Dia pun langsung berlalu pergi tanpa berani melanjutkan perkataannya lagi.
Aispun akan melanjutkan lagi pekerjaannya dan pada saat dia akan memasang headsetnya lagi, Bagas menahan tangannya.
"Maaf ada apa ya, Den?" tanya Ais menautkan alisnya.
"Is, lain kali kamu jangan menanggapi karyawan yang mendekatimu itu, aku tak suka! barusan dia ngomong apa saja, cepat katakan! awas ya kalau kamu berbohong dengan apa yang Didin tadi katakan padamu!" ancam Bagas dengan napas kembang kempis.
"Dia tanya kalau aku sepulang kerja di rumah nggak, terus apa ya tadi aku lupa." Ais menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Dia memang tak begitu memperhatikan apa saja yang tadi di katakan oleh Didin, karena menurutnya tidaklah penting.
"Ingat ya Ais, jangan kamu tanggapi lagi kalau ada karyawan yang mendekatimu!" ucap lantang Bagas.
"Iya, Baginda Raja. Aku tadi juga nggak menanggapi, aku pikir dia ingin minta tolong aku untuk membuatkan minuman," ucap Ais santai.
"Heh, aku nggak izinkan kamu membuatkan minuman untuk orang lain! pokoknya hanya aku saja, nanti aku akan buat peraturan baru di kantor ini," ucap Bagas tak suka dengan apa yang di katakan oleh Ais.
"Den, kenapa sih? padahal kata ayah, di samping aku sebagai cleaning servis juga kerap kali kan di minta buatkan minuman untuk para karyawan," ucap Ais.
"Itu berlaku hanya untuk ayahmu saja. Karena sekarang kamu yang kerja bukan ayahmu, jadi peraturannya juga berbeda. Intinya kamu tak boleh dekat-dekat dengan karyawan di sini, juga jangan sesekali membuat minuman untuk mereka. Kalau sampai kamu melanggar aturan baru dariku, kamu akan aku rumahkan!" ancam Bagas berlalu pergi.
"Untung saja aku keluar dari ruanganku untuk mengecek kerjaan Ais, jika tidak pasti Ais sudah di dekati oleh karyawan aku!" batin Bagas kesal.
Dia mulai merasakan apa yang namanya terbakar api cemburu. Sedangkan Ais belum peka juga jika Bagas sudah mulai tumbuh rasa cinta padanya. Hingga dia menganggap kalau tingkah Bagas itu aneh.
Tak terasa sore menjelang, dan pada saat Ais sudah berganti pakaian kerja menjadi pakaian khusus sopir, tiba-tiba Didin kembali menghampirinya.
"Ais, kamu belum jawab pertanyaan aku. Oh ya, aku boleh kan sesekali main rumahmu?" tanya Didin penuh semangat.
Belum juga Ais menjawab, lagi-lagi Bagas sudah ada di hadapan mereka.
__ADS_1
"Nggak boleh, awas ya jika kamu mendatangi rumah Ais. Aku pastikan akan pecat kamu secara tidak terhormat!"
Didin pun langsung ngacir ketakutan.