Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Mengintai


__ADS_3

Ais sungguh terharu mendengar ungkapan Lukman, ia pun memeluk ayahnya tersebut dengan deraian air mata.


"Eh ayah sama Mba Ais sedang akting sinetron apa ya?" canda Ado terkekeh.


"Bukan, Do. Mba Ais dan Ayah sedang akting Teletubbies, berpelukan..." ucap Ade terkekeh pula.


Melihat kedua adik kembarnya menggodanya, Ais langsung melepaskan pelukannya pada Lukman serta menghapus air matanya.


"Hem, awas ya kalian berdua! Mba nggak akan kasih makan untuk sore ini, lihat ini mba punya lauk enak. Biar mba dan ayah saja yang makan," ejek Ais seraya memamerkan makanan pemberian dari Bagas.


Melihat keakraban dan keceriaan ketiga anaknya, Lukman terkekeh bahagia. Ia merasa sangat beruntung memiliki tiga orang anak yang sangat penurut dan satu sama lain tidak pernah berantem. Tapi selalu bercanda ria dan selalu saling membantu.


"Bahagiaku itu simple, yakni melihat ketiga anakku sehat dan ceria seperti ini saja sudah cukup bagiku. Tidak ada niat di hati ini untuk menikah lagi. Satu pernikahan gagal membuat aku trauma."


"Dan aku juga khawatir, jika aku menikah lagi belum tentu ibu tiri akan sayang dengan ketiga anakku."


Gumamnya di dalam hati seraya bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam rumah untuk menyusul ketiga anaknya. Tanpa sepengetahuannya, ada sepasang mata yang tengah menatap rumah itu.


"Ternyata benar, itu Ais anakku..Dan yang tadi itu si kembar Ade dan Ado, mereka sudah besar."


"Lantas kenapa tadi Ais menangis ya, apakah karena bertemu aku?"


Ternyata Marlina mengamati rumah Lukman dari balik persembunyiannya karena ia penasaran dengan Ais. Pada saat di tanya tidak mengakui jika ia anak dari Lukman.


"Ais, ibu tahu kamu pasti benci sekali pada ibu hingga kamu tak mau memaafkan ibu. Lantas apa yang harus ibu lakukan supaya bisa mendapatkan maaf darimu, nak." Air mata kembali menetes.


Marlina berlalu pergi dari tempat persembunyiannya dan ia melajukan mobilnya. Ia akan mencari tahu dimana sekolah si kembar dan ia akan mendekati mereka secara perlahan-lahan.


"Hanya satu cara untuk bisa mendapatkan maaf dari Ais dan Mas Lukman yakni lewat si kembar. Karena pada saat aku tinggal pergi dulu usia si kembar baru berumur satu tahun, jadi mereka belum tahu apa-apa," gumamnya dalam hati di sela mengemudi mobilnya.


*********


Pagi menjelang, Marlina sudah siap di balik pengintaiannya. Karena ia akan mengikuti anaknya yang kembar pada saat berangkat ke sekolah. Ia ingin tahu dimana si kembar bersekolah.


"Oh jadi ini sekolahan si kembar. Aku akan tanya pada gurunya tentang pendidikannya. Apakah ada permasalahan dengan si kembar," batin Marlina.

__ADS_1


Dengan langkah pasti, Marlina melangkah menuju ke ruang guru dimana sudah ada kepala sekolah yang datang walaupun suasana di sekolah masih terlalu pagi.


"Tok tok tok tok"


Marlina mengetuk pintu ruang kepala sekolah.


"Silahkan masuk, ibu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya kepala sekolah dengan sangat ramah.


"Mohon maaf ya, pak. Pagi sekali saya datang kemari karena saya ingin menanyakan sesuatu," ucap Marlina agak ragu.


"Silahkan saja, ibu. Tak usah sungkan, tanyakan saja apa yang ingin ibu tanyakan," ucap Pak Kepala Sekolah.


"Saya datang kemari ingin tanya tentang Ade dan Ado anak dari Bapak Lukman," ucap nya.


"Mohon maaf sebelumnya, memang ibu ini siapanya mereka? karena setahu kami, ibunya si kembar telah meninggal dunia," tanya kepala sekolah menyelidik.


DEG DEG


Mendengar kata meninggal dunia, hati Marlina sangat sakit.


"Bu, maaf. Apa ada yang salah dengan yang saya katakan barusan?" tegur pak kepala sekolah pada saat melihat Marlina diam saja.


"Oh tidak, Pak. Justru memang saya kemari karena ada suatu mandat dari pihak keluarga almarhumah ibunya si Kembar, untuk menanyakan perihal pendidikan si kembar," ucap Marlina.


'Oh begitu ya, Bu. Begini Bu, si kembar termasuk anak yang sangat pintar dan baik. Mereka tidak pernah membuat masalah selama di sekolah. Permasalahan hanya pada biaya sekolah saja."


"Karena uang SPP dan bayaran yang lainnya, si kembar sudah menunggak beberapa bulan. Jika tidak di lunasi saya khawatir, ijasah mereka tidak bisa di ambil. Apa lagi mereka akan membutuhkannya untuk mendaftar tingkat SLTP."


Mendengar apa yang di katakan oleh kepala sekolah, Marlina sangat iba.


"Memangnya berapa uang tunggakan sekolah si kembar ya, pak? biar saya yang melunasinya," tanya Marlina penasaran.


"Sebentar ya, Bu. Biar saya cek dulu di laporan biodata anak-anak khususnya kelas enam."


Pak kepala sekolah bangkit dari duduknya dan melangkah ke almari untuk mengambil buku khusus pencatatan penunggakan biaya sekolah.

__ADS_1


Setelah menemukannya, ia mengatakan sejumlah nominal yang harus di bayar oleh Marlina.


Saat itu juga Marlina membayar cash semua tunggakan uang sekolah si kembar.


"Baiklah kalau begitu, saya permisi ya pak. Mohon maaf karena pagi sekali saya telah mengganggu waktu, bapak."


Marlina bangkit dari duduknya seraya menangkupkan kedua tangannya di dada dan setelah itu menyalami pak kepala sekolah.


Dengan penuh rasa sedih, Marlina keluar dari ruang kepala sekolah. Dan tanpa sengaja ia di tabrak oleh salah satu anaknya sendiri


BRAK....


"Maaf, Bu. Saya tidak sengaja," ucap Ade tertunduk ketakutan.


Ado yang melihat hal itu langsung menghampiri Ade.


"Bu, tolong jangan marah ya. Maafkan saudara kembar saya, kami sedang main kejar-kejaran," ucap Ado.


"Wahhh jadi kalian kembar ya, pasti ibu dan ayah kalian senang sekali ya punya anak kembar?" ucap Marlina memancing perkataan.


"Alhamdulillah, Bu. Ayah dan Mba kami sangat senang. Kami tidak punya ibu, karena ibu kami itu jahat. Kata Mba Ais, ia kabur pada saat kami berumur satu tahun. Tapi jika kami di tanya oleh orang, kami katakan saja ibu kami sudah meninggal dunia, karena kami tak ingin di tanya macam-macam mengenai kaburnya ibu," ucap Ado keceplosan.


"Ssstttt ...Ado! kenapa kamu ceritakan hal ini pada orang asing? kita kan tak kenal dengan ibu ini," tegur Ade lirih tapi masih bisa di dengar oleh Marlina.


"Hem, kalau begitu mari kita berkenalan. Panggil saja saya, Ibu Lina." Marlina mengulurkan tangannya.


"Saya Ado, Bu."


"Saya Ade, Bu."


Tanpa ada rasa sungkan, si kembar mau saja menyalami Marlina. Ia lantas memberikan uang pada si kembar masing-masing selembar ratusan ribu.


"Ini buat kalian jajan."


Awalnya si kembar menolak tapi dengan bujukan Marlina akhirnya mereka menerima pemberian uang itu. Marlina pamit pulang pada si kembar.

__ADS_1


__ADS_2