Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Satu Bulan Kerja Di Rumah Ais


__ADS_3

Tak terasa sudah satu bulan, Bi Asih bekerja di rumah Ais. Ia begitu bahagia dan senang karena keluarga Ais sangat baik. Apa lagi si kembar yang seumuran dengan anaknya selalu saja mengingatkan kedua anaknya yang kebetulan juga kembar laki-laki.


"Bi Asih, ini gaji pertama bibi kerja di rumah ini. Terima kasih sekali ya, bi. Sejak ada bibi, baik aku atau ayah tidak kecapean lagi." Ais menyodorkan amplop kehadapan Bi Asih.


Namun justru Bi Asih menolaknya, ia meminta Ais setiap bulannya langsung saja mengirimkan uang ke kampungnya.


"Maaf, Non Ais. Saya bisa minta tolong nggak? setiap saya gajian, uangnya tong di transfer ke kampung saya saja untuk kebutuhan orang tua dan dua anak saya," ucap Bu Asih.


"Bi Asih, kalau boleh saya memberikan saran. Sebaiknya bapak atau ibunya Bi Asih membuat rekening bank sendiri saja. Biar lebih efektif kalau saya transfer ke nomor rekening pribadi dari orang tua bibi. Lebih nyaman juga, Bu," ucap Ais.


"Iya juga ya, non.Ya sudah nanti saya hubungi orang rumah supaya membuat rekening bank. Untuk sementara uangnya titip di non dulu saja ya," ucap Bi Asih.


Ia sama sekali tak pernah ambil uang sepeserpun dari hasil jeri payahnya sendiri. Isi ponsel, ia selalu memakai WiFi yang ada di rumah Ais. Segala kebutuhan seperti sabun dan lain-lain di cukupi oleh Ais.


Awalnya Ais tak memberikan itu, tetapi ia tak tega. Hingga Ais bermurah hati selalu memberikan jatah sabun dan lain sebagainya untuk bibi.


Bahkan Ais juga mengizinkan bibi untuk ikut WiFian supaya bibi tidak bolak balik ke konter untuk membeli pulsa.


"Ya sudah ya, bi. Ini uang saya ambil lagi, nanti kalau sudah membuat nomor rekening, bibi jangan sungkan ngomong ya ke aku."


Ais meraih kembali amplop tersebut untuk di simpannya.


Ia benar-benar tertolong oleh kehadiran Bi Asih. Kini Ais mengelola satu restoran yang bekerja sama dengan kliennya dan Ayah Lukman mengelola restoran milik pribadi. Semua itu sudah menjadi kesepakatan bersama antara Ayah Lukman dan Ais.


"Ayah, terima kasih ya. Sejak ayah memutuskan untuk mengelola restoran kita sendiri, aku jadi nggak begitu repot. Nggak harus ngalor ngidul, mengurus dua restoran," ucap Ais.


"Ini semua juga berkat Bi Asih. Seharusnya ayah yang berterima kasih padamu, jika kamu tak membawa BinAsih ke rumah ini. Mungkin ayah juga keteteran."


"Lagi pula ini sudah menjadi kewajiban ayah menafkahi kalian anak-anak ayah. Jadi wajar saja jika ayah yang mengurus restoran kita. Dan kamu fokus urus restoran satunya lagi."

__ADS_1


Kedekatan Ais dengan Bagas memang berdampak positif bukan hanya untuk Bagas tapi juga untuk Ais. Karena ekonomi menjadi lebih baik.


Semua hutang sudah terselesaikan dan tidak ada lagi sama sekali. Kini mereka terbebas dari lilitan hutang yang pernah mereka alami dulu.


"Ya Allah, aku sungguh berterima kasih padamu. Aku sama sekali tak pernah menyangka jika aku akan menjadi istri dari majikanku sendiri. Jika di telusuri kehidupan pribadiku ini begitu susah."


"Betapa tidak, aku harus menjadi sopir angkot demi membantu ekonomi Ayah. demi supaya adik-adik bisa sekolah terus."


"Tapi aku tak pernah jalani dengan keluh kesah. Justru menjadi sopir angkot selalu saja memiliki cerita unik dan lucu."


"Kadang aku kangen juga dengan teman-teman sesama sopir angkot. Bagaimana ya kabar mereka?"


"Jujur sih, kerap kali aku ingin main ke pangkalan angkot dikala waktu luang. Tapi aku enggan bertemu dengan Aan, yang ada nanti ia salah pemikiran dikira aku ada hati padanya."


"Hemmm .. memang kehidupan ini sebuah misteri yang susah sekali di tebak."


"Aku bahkan tak pernah berpikir akan menjadi seorang istri dari bos aku yang suka sekali marah-marah."


"Sayang, kamu itu kenapa? dari tadi aku perhatikan kamu senyam senyum sendiri? apakah sedang membayangkan malam pengantin kita kelak, atau membayangkan bulan madu kita ya, hayo....." ledek Bagas


"Hem, seenaknya saja menafsirkan lamunan orang. Mas Bagas saja itu yang pikirannya mesum. Siapa juga yang sedang melamun itu. Aku sedang ingat semua masa laluku. Dan yang membuat aku senyam senyum itu pada waktu aku ingat kebersamaan kita dulu," ucap Ais terkekeh.


"Heee aku pikir sedang membayangkan malam pengantin bersamaku," goda Bagas mengedipkan matanya.


"Iaasttt...pasti Mas Bagas yang seperti ini iya kan? hayo ngaku hayo...."


Ais lalu menggelitik pinggang Bagas.


"Hhhhhaaaaaa....sudah ......haha....ampun ...sayang..... sudah..... ampun...."

__ADS_1


Sejenak Ais pun mengentikan aksinya. Ia menatap wajah tampan Bagas yang kini berubah merona merah serta pinggir mata berair karena tertawa barusan.


"Menyebalkan sekali, selalu dan selalu kamu itu suka banget usil. Aku nggak suka deh kalau di kelitik pinggangku. Tapi aku lebih suka kau menggelitik gelitik hatiku ini."


Ais hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya tersenyum melihat tingkah calon suaminya yang selalu saja usil padanya.


"Sayang, marah ya?" tanya Bagas pada saat melihat Ais hanya diam saja.


"Nggak kok mas, memangnya kenapa?" Ais malah balik bertanya.


"Ya karena tiba-tiba kamu diam saja seperti ini. Aku pikir kamu marah. Sayang, aku minta maaf ya," ucap Bagas.


"Maaf untuk apa, mas?" Ais merasa heran.


"Maaf atas sikap aku yang dulu. Dan maaf juga karena dulu aku sempat berpikir buruk padamu," ucap Bagas jujur.


"Berpikir buruk bagaimana?" Ais semakin penasaran.


"Dula pada saat awal aku kenal dirimu, aku sering di ledek oleh mamah. Katanya kalau benci nanti lama-lama suka. Dan pada saat itu aku sempat berpikir, ih bagaimana ya kalau aku sampai menikah dengan cewek ceroboh bosan barbar? oh nggak banget dech, tetapi aku malah tergila-gila pada dirimu."


Tiba-tiba Bagas memeluk pinggang Ais hingga mereka kini begitu dekat.


"Kini kamu selalu bermain di otakku ini, sayang. Bahkan aku tak bisa jauh dari dirimu walaupun hanya sebentar saja."


Mendengar ucapan Bagas, Ais terkekeh.


"Huh gombal, rayuannya tuh nggak bermutu. Nyomot dari siapa kata-kata itu?" ejek Ais seraya menarik hidung Bagas.


"Dari sini." Bagas menuntun satu tangan Ais dan meletakkan di dadanya.

__ADS_1


"Mas Bagas, waktu untuk kita menikah tiga bulan lagi. Coba kamu berpikir lagi, apa benar sudah mantap memilih aku untuk menjadi istrimu?" tanya Ais ragu.


"Kenapa kamu berkata seperti itu?" Bagas memicingkan alisnya.


__ADS_2