
Begitulah keseruan Ais jika bertemu dengan teman-teman semasa sekolahnya baik teman semasa SLTP ataupun teman semasa sekolah SLTA. Tetapi Ais anak yang pintar walaupun memang selama di sekolah dia terkenal badung dan suka usil pada teman-temannya. Hingga sering guru BP menghukum Ais dan bahkan kerap kali melaporkan Ais pada ayahnya.
Setelah cukup lama, ketiga temannya berada di rumah Ais. Mereka pun berpamitan pulang dan tak lupa meminta nomor ponsel Ais. Karena selama ini mereka lost contack. Hingga tak pernah komunikasi.
"Hem, lumayan juga ada kedatangan tiga trio celurut hee bisa sedikit membuat aku terhibur walaupun hanya sejenak saja."
"Mau apa lagi ya, kalau nggak di izinin narik angkot? masa iya selama satu bulan aku hanya bermalas-malasan di rumah saja?"
"Bagaimana aku bisa mendapatkan uang jika seperti ini? tapi kalau aku pergi saja narik angkot yang ada nanti ayah marah lagi, dan aku juga tak ingin sih buat ayah terus-menerus marah padaku. Nanti jadi kena hipertensi dech."
Terus saja Ais menggerutu sendiri karena merasa bosan di rumah saja. Dia bukan tipe gadis yang pemalas, tetapi dia gadis yang pekerja keras.
Sementara Bagas di kantornya akhir-akhir ini sering murung dan melamun. Dia enggan untuk mengingat Ais, tetapi setiap saat malah wajah Ais menari-nari di otaknya.
"Sialan, aku benci dia yang sangat ceroboh tapi malah wajah menyebalkan itu selalu bermain di benakku. Ada apa sih denganku ini? nggak, aku nggak boleh jatuh cinta pada gadis bar-bar dan ceroboh seperti, Ais."
"Ih, nggak banget dech. Aku bisa bayangkan bagaimana jika aku benar-benar menikah dengan gadis seperti Ais. Aduh... sepertinya hampir setiap hari aku akan alami kesialan."
Terus saja Bagas melamun, dia menolak rasa yang ada di dalam hatinya. Dia selalu teringat pada Ais, tapi dia tak ingin jatuh cinta padanya. Padahal secara tidak langsung, dia itu sudah jatuh cinta pada Ais.
"Tok tok tok tok "
Pintu ruang kerja di ketuk seseorang.
"Masuk "
"Maaf, Den. Saya ingin izin pulang sebentar karena saya lupa jika ada undangan untuk kesekolahan si kembar," ucap Lukman.
__ADS_1
"Ais, bisa nggak sih kamu itu....
Lukman mengerutkan dahinya pada saat mendengar apa yang di katakan oleh Bagas.
"Eh maaf aku salah ngomong, maaf ya pak."
Bagas salah tingkah di depan Lukman, dia pun merutuki dirinya sendiri di dalam hati.
"Pulang saja, pak. Tapi kalau sudah selesai datang lagi ke kantor ya. Pakai saja mobilnya, dari pada bapak naik kendaraan lain nanti yang ada terlalu lama menunggu," pinta Bagas.
"Baik, den. Terima kasih, kalau begitu saya pergi dulu."
Lukman berlalu pergi dari ruangan Bagas dengan penuh tanda tanya.
"Aneh, kenapa juga ya Den Bagas menyebut nama Ais?" tanyanya dalam hati seraya menggelengkan kepalanya.
"Astaga, parah habis aku ini. Bisa-bisanya Ais terus saja ada di otakku? sudah membuatku malu juga!" gumamnya kesal.
Hatinya menolak untuk bisa membenci Ais. Walaupun mulut selalu saja merutuki, mengumpat sifat-sifat Ais yang ceroboh dan barbar.
Bagas tak konsen kerja, dia terus saja teringat pada saat Ais membuat banyak ulah. Beberapa kali dia tersenyum sendiri pada saat ingat kekonyolan yang pernah terjadi dimana dia terpeleset pada saat Ais mengepel ruang kerjanya. Teringat pada saat Ais tak sengaja menyemprotkan selang air ke wajahnya. Dan yang membuat Bagas hingga tak sadar tertawa terbahak-bahak pada saat pantatnya nempel pada kursi karena ulahnya sendiri.
"Hhaaaa..hestah, ampun dah. Sialan banget, untung saja di dalam ruangan. Coba jika bukan di dalam ruangan, pasti aku sudah di kira gila karena tertawa sendiri seperti ini," gerutunya seraya meraih gelas cangkirnya.
Lagi-lagi dia teringat Ais.
"Hanya memegang cangkir kopi ini, aku juga ingat Ais. Lihat saja Ais, jika bertemu pasti aku akan marahi dia yang sudah buat aku seperti ini. Dan aku akan buat dia menyesal karena telah membuatku uring-uringan seperti ini."
__ADS_1
"Tapi nggak dech, jika aku berbuat iseng lagi padanya nanti yang ada kena ke aku lagi. Haduh....Ais....."
Bagas tertunduk seraya menutup wajahnya kesal karena dia selalu saja kepikiran Ais. Ingin sekali meminta pada Lukman supaya Ais yang menggantikan dirinya, tetapi dia gengsi.
Hingga tak terasa sore menjelang, dia pun sudah merasa lelah dan memutuskan untuk pulang.
"Kenapa aku jadi candu dengan masakan gadis bar-bar itu ya? bagaimana caranya ya, supaya dia mau tiap sore masakin aku?" batinnya bingung mencari alasan yang tepat untuk memanggil Ais ke rumah untuk masak.
Selama dalam perjalanan pulang, Bagas hanya diam tak berkata. Pikirannya sedang menerawang jauh, kadang tak sadar Bagas tersenyum sendiri. Dan hal ini tertangkap oleh lirikan mata Lukman dari kaca spion.
"Akhir-akhir ini kok Den Bagas terlihat aneh ya? ada apa sih sebenarnya? aku ingin bertanya tapi kok ya nggak enak, nanti yang ada aku di santlap di omelin seperti biasanya? baru kali ini aku melihat senyum di bibir Den Bagas, padahal sebelumnya dia tak pernah senyum sama sekali," batin Lukman heran dengan sifat Bagas.
"Semoga saja, Den Bagas masih waras. Astaghfirullah aldazim, kenapa aku berburuk sangka padanya. Maafkan bapak ya, den. Bukan maksud bapak berprasangka buruk," batin Lukman tiada hentinya menggerutu hingga tak terasa sampai di pelataran rumah Bagas.
Lagi-lagi Bagas asik melamun, hingga dia tak juga turun dari mobilnya. Hingga suatu tepukan di bahu barulah menyadarkan lamunannya.
Saat itu juga Bagas turun, dan Lukman juga berpamitan pulang. Bagaspun langsung punya ide jitu untuk bisa makan masakan Ais tanpa harus memintanya masak di rumahnya.
"Pak Lukman, mau langsung pulang?" tanya Bagas basa basi.
"Iya, den. Memangnya ada apa ya den? apa aden ingin pergi lagi ke suatu tempat, saya bersedia kok mengantar," ucap Lukman antusias.
"Bukan itu, pak. Justru saya yang ingin antar bapak pulang. Masa iya bapak sudah cape kerja seharian dari pagi hingga sore. Masa pulang ke rumah dengan berjalan kaki?" ucap Bagas pintar sekali mencari suatu alasan.
"Nggak usah, den. Saya kan sudah terbiasa pulang sendiri apa lagi jarak ke rumah dari sini kan dekat," tolak Lukman secara halus.
"Pak, saya berniat baik tetapi kenapa bapak menolak? jika begitu saya rumahkan bapak saja ya, karena sudah menolak niat baik saya," ancam Bagas ketus.
__ADS_1
Mendengar akan hal itu, Lukman pun tak berani lagi membantah.