
Pagi menjelang Ais harus melakukan tugasnya seperti biasa menjadi seorang sopir dan cleaning service di kantor Bagas karena usaha restorannya belum bisa dikelola untuk saat ini.
Dalam jangka waktu satu bulan ruko yang telah dibeli oleh Bagas akan direnovasi terlebih dahulu untuk dibuat sebuah restoran yang sangat unik dan memikat para pembeli nantinya.
"Sayang, aku minta maaf ya karena tidak dari dulu membuat suatu rencana usaha restoran untukmu. Dan aku juga minta maaf karena menurut temanku waktu untuk merenovasi ruko itu butuh jangka waktu satu bulan lamanya. Jadi kamu harus terpaksa tetap menjadi sopir dan cleaning service di kantorku," ucap Bagas merasa tak tega dengan Ais.
"Nggak apa-apa kok mas, sebenarnya walaupun tidak usah membelikan ruko untukku juga nggak apa-apa aku tetap bekerja menjadi sopirmu dan cleaning service di kantor ini," ucap Ais menyunggingkan senyumnya.
"Tentu saja itu tidak boleh, sayang. Karena kamu sudah menjadi kekasihku jadi tidak sepantasnya kamu tetap bekerja menjadi seorang sopir dan cleaning servis di kantorku," protes Bagas.
Ais pun tak bisa berkata lagi, Ia hanya tersenyum tersipu malu. Hubungan mereka semakin lama semakin romantis saja tetapi di dalam diri Ais masih ada rasa sungkan dan kaku jika sedang bersama dengan Bagas, karena kekasihnya itu adalah atasannya sendiri.
Kadang ia merasa tak percaya jika saat ini sudah berpacaran dengan atasannya sendiri. Ia juga tak tahu bagaimana mudahnya ia menerima cinta dari Bagas.
"Heran juga, kadang aku masih saja tak percaya dan sempat merasa jika ini hanyalah sebuah mimpi. Tapi pada saat aku mencubit pipiku sendiri, terasa sakit. Kok bisa ya, seorang Bagas suka padaku yang hanya seorang sopir yang kerap kali bertindak ceroboh dan selalu bikin ia marah?"
"Hem, dunia ini pwnih dengan misteri dan keanehan serta ke ajaiban. Aku jga nggak tahu apakah hubunganku dengan Mas Bagas akan
berlangsung lama atau tidak, hanya Allah yang tahu."
"Untuk saat ini aku hanya jalani hari-hariku bersama Mas Bagas bagaikan aliran sungai. Aku tak mau bermimpi atau berharap lebih, karena aku khawatir harapanku kelak tak sesuai dengan kenyataan."
Selagi asik melamun, tiba-tiba bahinya di tepuk oleh Bagas.
"Sayang, kok kamu dari tadi bengong? hayo...sedang melamun apa ya? jangan-jangan kamu melamunkan aku ya," canda Bagas terkekeh membuat Ais tersipu malu.
"Hem, senyum begitu berarti benar kan? hayo kamu melamunkan aku tentang apa ya?" tanya Bagas penasaran.
__ADS_1
"Yeh...kok Mas Bagas kepo sih. Rahasia dong, hanya aku saja yang tahu apa yang barusan aku lamunkan," ucap Ais.
"Hem, mulai dech main rahasia segala. Ya sudahlah, bikinin aku kopi ya?" pinta Bagas seraya menaik turunkan alisnya.
Saat itu juga Ais melangkah menuju ke dapur untuk membuatkan kopi kesukaan Bagas dan ia meninggalkan sejenak pekerjaannya yakni yang sedang mengepel di ruangan Bagas.
Kini malah tinggal Bagas yang sedang asyik melamunkan Ais.
"Gadis ceroboh yang selalu membuatku marah dan emosi setiap detiknya malah dia yang mampu meluluhkan hatiku hingga membuat aku jatuh cinta padanya."
"Kadang aku merasa heran, padahal Ais tak pernah menggodaku. Malah dia selalu membuatku emosi yang sangat memuncak. Kok bisa ya aku jatuh cinta pada seorang Ais yang sangat ceroboh?"
"Bagaimana ya kelam hubunganku dengan Ais? dan jika pada saatnya memang aku berjodoh dengannya seperti apa ya kelak rumah tanggaku dengan Ais? berapa anak yang akan kami miliki ya?"
Kini giliran Ais yang menepuk bahu Bagas hingga Ia pun terhenyak kaget dari lamunannya.
Ais meletakkan secangkir kopi msnos di atas meja kerja Bagas dengan sangat pelan supaya tidak terjadi lagi kejadian tempo dulu dimana kopi tertumpah dan Bagas marah besar.
"Hem, bakss dendam ceritanya hingga gantian sengaja mengagetkan aku ya? kalau aku punya riwayat jantung bagaimana? bahaya loh," ucap Bagas seraya meminum sedikit kopinya.
"Tapi nyatanya Mas Bagas nggak jantungan kan? mas, aku lanjutkan kerjaku lagi ya," pamit Ais.
"Iya, sayang."
Sementara Ais melanjutkan mengepel dan membersihkan ruang kerja Bagas, Bagas pun asik dengan kopi buatan Ais seraya menatap kekasihnya itu.
"Hem, memang kopi buatan Ais itu beda di banding kopi buatan Pak Lukman atau orang lain. Apa karena kekasihku ya, atau Ais buatnya dengan penuh cinta hingga nikmat sekali?" batin Bagas.
__ADS_1
********
Sementara saat ini Marlina sedang ada di lapas untuk menjenguk Setyo.
"Bagaimana usahamu dalam membujuk Bagas?" tanya Setyo ketus.
"Maaf, mas. Aku tak berhasil, Bagas tak akan mencabut tuntutannya padamu ataupun pada Rindi,' ucap Marlina tertunduk lesu.
"Dasar bodoh! masa iya kerjaan gampang seperti itu saja tak berhasil! apa sih yang kamu bisa? semenjak menjadi istriku, kamu itu tak pernah buatku bahagia, tapi bakatmu hanya bisa menghabiskan uang uangku saja!" ucap sinis Setyo.
"Mas, kok kamu berkas kasar seperti ini padaku setelah aku berkorban hidupku untukmu?" protes Marlina kesal.
"Berkorban apa kamu untukku hah? mengerjakan hal kecil seperti ini saja kamu tak berhasil, seenaknya saja mengatakan jika kamu telah berkorban besar untukku," protes Setyo.
"Apa kamu lupa mas, aku ini rela pergi dari keluargaku dari suami dan anak-anakku hanya demi kamu. Masih saja kamu seperti ini padaku?" ucap Marlina.
"Ya kamu lakukan itu kan karena aku kaya raya, hingga kamu tega meninggalkan suami dan anak-anakmu. Tapi ini kan atas kemauanmu sendiri, bukan aku yang meminta."
"Jadi kenapa kamu ungkit hal ini sekarang? jika kamu merasa bosan denganku dan ingin kembali lagi pada Lukman ya sana silahkan. Toh kehadiranmu ini hanya bisa menghabiskan hartamu saja."
Perkataan kasar dari Setyo sangat menusuk hati Marlina. Tak terasa bulir bening keluar dari matanya. Akan tetapi tak membuat Setyo iba dan meminta maaf. Ia malah semakin menjadi.
"Inilah sifat burukmu yang sama sekali aku tak suka. Kamu itu terlalu cengeng. Padahal aku tak berbuat kasar padamu sama sekali. Coba jika aku melakukan KDRT, tangismu pecah memekakkan telinga semua orang," ejek Setyo pada Marlina.
"Masih untung aku menjenguknya tetap malah seperti ini. Lantas bagaimana ini?" batin Marlina kesal.
"Dari dulu hingga kini sifat Mas Setyo tidak pernah berubah sama sekali," batin Marlina.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam, mau protes seperti biasa? silahkan saja dech. Lagi pula percuma saja punya istri seperti dirimu yang tak bisa membantu suami di saat sedang kesusahan seperti ini!" ejek Setyo.