Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Berhasil Mendapatkan Rekaman Video CCTV


__ADS_3

Setelah Bagas sampai di restoran yang tadi ia makan bersama Ais, langsung saja menemui bagian resepsionis untuk meminta izin melihat rekaman Video CCTV yang ada di toilet.


Bermodalkan wajah yang tampan dan sedikit senyuman saja, resepsionis itu langsung mengantarkan Bagas ke petugas yang khusus mengatur dan menjaga CCTV di seluruh bagian ruangan yang ada di restoran tersebut.


Setelah bertemu dengan orang yang bertugas mengatur dan mengawasi rekaman Video CCTV di restoran tersebut, Bagas langsung saja meminta rekaman video CCTV yang ada di toilet.


Ia pun meminta orang yang bertugas tersebut mengirimkannya ke nomor ponselnya. Bahkan Bagus tak tanggung-tanggung mengeluarkan sejumlah uang untuk petugas tersebut.


Melihat jumlah nominal uang yang cukup banyak, petugas tersebut antusias membantu Bagas. Ia bahkan bersedia kelak menjadi saksi jika di perlukan.


"Alhamdulillah, aku sudah mendapatkan bukti yang kuat dari restoran ini. Tinggal aku melihat rekaman video CCTV di lobi kantor beberapa hari yang lalu." Gumamnya seraya melangkah pergi dari restoran tersebut.


Ia pun melajukan motor gedenya menuju ke rumah. Sementara di rumah orang tuanya sedang panik, karena sudah menjelang pukul sembilan malam, Bagas belum pulang juga.


Karena mereka tidak pernah mengajarkan anaknya untuk berlarut-larut jika sedang berpacaran, itu tidaklah baik.


Sesampainya di pelataran rumah, orang tuanya langsung menegurnya.


"Bagas, kamu baru pulang?" tanya Eti.


"Iya, mah." Bagas menjatuhkan pantatnya di kursi samping orang tuanya duduk.


"Bagas, bukankah papah dan mamah sudah pernah mengatakan supaya ingat waktu jika berpacaran?" ucap Broto.


"Iya, pah. Aku akan cerita sedikit pada papah dan mamah ya, tolong dengarkan baik-baik." ucap Bagas serius.


'Sepertinya ada yang sangat serius?" ucap Broto memicingkan alisnya.

__ADS_1


"Benar sekali, pah. Satu jam yang lalu aku sudah sampai di depan pintu gerbang. Tetapi aku di hadang oleh, Tante Marlina."


"Ia mengatakan banyak hal padaku. Katanya Om Setyo dan Rindi akan melaporkan Ais ke kantor polisi dengan tuduhan tindak kekerasan."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Bagas, kedua orang tuanya memicingkan alisnya tanda heran.


"Sebentar, Bagas. Apa yang membuat Om Setyo dan Rindi akan melaporkan Ais ke kantor polisi?" tanya Broto penasaran.


"Begini, pah. Pada saat beberapa hari yang lalu Rindi datang ke kantor dan ingin mengganggu Ais, tetapi ia kena sial sendiri hingga jatuh terpeleset dan pada akhirnya masuk rumah sakit karena cedera pinggangnya."


"Lantas tadi pada saat kami sedang makan di restoran tak sengaja juga bertemu dengan Rindi dan orang tuanya."


"Kembali lagi terjadi insiden yang di awali oleh penyerangan oleh Rindi terlebih dahulu. Hingga Ais tak terima ia pun menyerang balik Rindi karena untuk membela dirinya."


Orang tua Bagas terperangah pada saat mendengar cerita dari Bagas. Layaknya Bagas seperti mendongengi anak kecil. Dan anak kecil itu sangat fokus mendengarkannya.


Bahkan Bagas tak sungkan untuk memperlihatkan rekaman video CCTV yang dia barusan dapat di restoran pada orang tuanya. Bagas juga memperlihatkan rekaman video CCTV yang ada di lobi hotel. Karena ia masih menyimpannya untuk antisipasi jika suatu saat di perlukan.


"Ya ampun, Rindi benar-benar ingin menggali lubangnya sendiri. Padahal di dua rekaman video CCTV itu jelas sekali jika yang memulai dahulu adala dirinya," ucap Eti.


"Benar sekali, mah. Tapi ia mengadu banyak hal pada Om Setyo, dan herannya lagi Om Setyo langsung percaya begitu saja pada anaknya. Tanpa melihat dahulu kebenarannya. Padahal Tante Marlina sudah memberi tahu jika Rindilah yang salah terlebih dahulu, tapi Om Setyo tak merespon ucapan Tante Marlina," ucap Bagas.


"Hem, laporkan balik saja jika memang Setyo benar-benar melaporkan Ais. Kamu jangan takut, Bagas. Jika perlu papah akan hubungi salah satu sahabat papah yang masih menjabat sebagai Komisaris Besar Kepolisian," ucap Broto.


"Iya, pah. Aku tidak takut sama sekali. Justru aku akan membuat pelajaran pada Rindi supaya di malu dan mendapatkan hukuman yang setimpal," ucap Bagas.


"Oh iya, pah-mah. Ada satu hal lagi yang belum kalian ketahui, jika Tante Marlina itu adalah ibu kandung Ais," ucap Bagas menjelaskan.

__ADS_1


"Hah, yang benar?" serentak kedua orang tuanya berkata sambil terperangah seraya tak percaya dengan apa yang barusan di katakan oleh Bagas.


Kini Bagas menceritakan tentang masa lalu Ais dimana dahulu di tinggal pergi oleh Marlina pada saat usianya masih sangat kecil.


Setelah mendengar cerita menyedihkan tentang Ais dari Bagas. Orang tuanya semakin mendukung hubungan percintaan anaknya dengan Ais.


"Kasihan sekali ya, Ais. Kok ada ya ibu setega itu meninggalkan ke tiga anaknya hanya demi harta," ucap Eti menghela napas panjang.


"Sudahlah, tak usah menghakimi masa lalu seseorang. Kini kamu fokus saja jalani hubunganmu dengan Ais, Bagas. Dan satu pesan papah, kamu jangan pernah menyakiti Ais. Karena apabila itu terjadi, kamu sama saja menyakiti mamahmu. Karena mamah dan Ais kan sama-sama wanita," pesan Broto.


"Pasti pah, aku akan berusaha selalu sayang dan setia pada satu wanita. Dan aku juga sedikit demi sedikit mengikis sikap burukku ini," ucap Bagas meyakinkan orang tuanya.


Orang tuanya, begitu sangat berterima kasih pada Ais. Karena sejak Bagas mengenal Ais, sikap buruknya perlahan tapi pasti hilang dengan sendirinya.


Kini Bagas sudah tak pernah marah-marah lagi, tidak seperti tempo dahulu pada saat belum kenal Ais.


Ais telah membawa dampak positif bagi kehidupan Bagas. Makanya kedua orang tuanya sangat mendukung penuh hubungan mereka.


Sementara di kediaman Marlina, ia sangat bersyukur karena ia sampai di rumah dimana Rindi dan Setyo belum sampai di rumah.


"Alhamdulillah, aku tepat waktu. Jadi aku tidak akan ketahuan jika aku ini habis menemui Bagas," batin Marlina.


Tak berapa lama, Setyo dan Rindi pulang. Tapi wajah Setyo begitu muram karena ia tak berhasil melakukan visum. Karena tidak ada tanda memar atau luka yang serius pada Rindi.


"Pah, bagaimana ini? jika tak ada bukti visum, bagaimana kita bisa menyeret gadis desa itu ke ranah hukum?" tanya Rindi panik.


"Kamu nggak usah khawatir, nanti papah akan bantu kamu. Papah yakin akan bisa menyeret gadis desa itu ke penjara. Papah juga takkan terima jika anak kesayangan papah kok di sakiti orang lain, apa lagi cuma seorang gadis miskin," ucap Setyo.

__ADS_1


"Sudah, kamu percayakan saja. Papah akan telpon salsh satu kenalan papah yang ada di kepolisian. Ia seorang Letnan polisi, pasti bisa membantu papah."


Saat itu juga Setyo menelpon Kolonel polisi.


__ADS_2