
Sejak saat itu hubungan mereka semakin lengket saja. Akan tetapi ada hal yang mengganjal di hati Bagas.
"Masa iya, pacarku itu tetap menjadi sopirku? tapi jika Ais tak bersama denganku, aku tidak akan tenang. Lantas apa langkah yang tepat ya?" gumamnya di dalam hati.
Selagi gelisah melamun di teras halaman, orang tuanya datang dan duduk di samping Bagas.
"Bagas, ini kan malam Minggu. Kamu nggak apel ke rumah Ais?" tanya Broto.
"Belum, pah. Masih sore kok sudah di suruh apel, ini kan baru jam lima sore. Aneh Papah loh," protes Bagas manyun.
"Ya nggak aneh, Bagas. Memang seperti itu dulu papahmu saat apeli mamah. Malah jam empat sore sudah standby di rumah mamah," ucap Eti terkekeh jika ingat masa mudanya.
"Itu kan papah, mah. Bukan aku," ucap Bagas.
"Kamu terlihat gelisah sebenarnya ada apa, Bagas?" tanya Broto.
"Pah, aku kan sudah pacaran sama Ais. Tapi kok aku kurang nyaman jika Ais itu tetap bekerja menjadi cleaning servis dan sopir pribadiku. Tapi jika ia bekerja lain, aku juga kurang nyaman jauh darinya. Lantas sebaiknya bagaimana ya, pah?" tanya Bagas meminta saran dari Broto.
"Nikahi saja Ais," ucap Broto singkat.
"Aku sih mau, pah. Tapi apa Aisnya mau?" ucap Bagas merasa ragu.
"Kalau ia benar-benar cinta sama kamu pasti maulah," ucap Eti.
"Dari pada nanti jika Ais kerja di tempat lain, kamu terus saja memikirkan ia. Ya jalan satu-satunya kamu menikah dengannya, supaya kamu lega. Jika Ais sudah sah jadi milikmu kan tidak ada pria lain yang berani dekati, Ais," saran Broto.
Bagas sangat setuju dengan saran Broto. Apa lagi ia tahu jika tidak hanya dirinya yang suka pada Ais. Ada pria lain juga yang terus saja datang ke rumah Ais walaupun sudah diberi tau jika Ais telah berpacaran dengannya. Hanya satu jawaban pria itu, sebelum janur kuning melengkung Ais itu bukan milik siapa-siapa dan masih bisa pria lain dekat dengannya.
__ADS_1
Pria yang keras kepala mendekati Ais yakni Aan.
Beberapa jam kemudian, Bagas telah sampai di pelataran rumah Ais dengan mengendarai motor gedenya. Ia sangat kesal karena melihat ada Aan sedang bercengkrama dengan Ayah Lukman di teras halaman.
"Sore, pak. Aisnya ada?" tanya Bagas seraya menyunggingkan senyumnya pada calon ayah mertua.
"Ada, Nak Bagas. Sebentar ya, saya panggilkan dulu." Ayah Lukman lekas bangkit dari duduknya seraya melangkah masuk ke dalam rumah guna memanggil Ais.
Sejak Ais dan Bagas menjalin kasih, Bagas meminta Ayah Lukman untuk tidak memanggil dirinya Aden lagi.
Selagi hanya berdua saja dengan Aan, Bagas menghampiri pemuda yang lebih muda umurnya itu.
"Heh, kamu itu pria yang tak tahu diri dan tak tahu malu ya? sudah berapa kali aku katakan supaya kamu itu jangan datang lagi kemari, masih saja keras kepala!" tegur Bagas seraya melotot ke arah Aan.
"Memangnya kamu siapa, melarangku datang kemari? bapak bukan, ibuku bukan? lagi pula aku kemari kan ingin bertemu dengan Pak Lukman. Karena ia itu sahabat baik ayahku," protes Aan kesal.
"Baru juga pacaran sudah sombong, belum tentu juga kamu itu akan menikah dengan Ais. Paling juga hubungan kalian takkan bertahan lama," ejek Aan.
Ais mengenakan dress selutut berwarna biru di padu dengan tas selempang dan sepatu berwarna biru pula. Terlihat aura kecantikannya yang sangat memikat. Dengan rambut di urai sebatas bahu.
Penampilan Ais berbeda dari hari-hari biasanya. Ia biasa berpenampilan tomboi dengan mengenakan celana jins robek, t-shirt yang di padu dengan kemeja kotak-kotak kesukaannya serta topi dengan gayanya yang khas dengan memakainya di balik. Rambut selalu di ikat.
"Pak, saya pinjam Ais sebentar ya. Saya mau ajak Ais jalan-jalan," izin Bagas pada Ayah Lukman.
"Iya, Nak Bagas. Hati-hati di jalan dan pulangnya jangan malam-malam ya," pesan Ayah Lukman.
Saat itu juga baik Ais maupun Bagas menyalami Ayah Lukman. Dan mereka langsung melangkah ke motor gede milik Bagas dengan ia menuntun Ais. Hal ini sengaja Bagas lakukan untuk membuat Aan terbakar api cemburu.
__ADS_1
Dan Aan pun benar-benar terbakar cemburu dengan tingkah Bagas ini. Apa lagi pada saat naik di motor, melihat tangan Ais bertumpu pada pinggang Bagas.
"Aku yang terlebih dahulu kenal dan dekat dengan Ais dalam waktu yang cukup lama. Tapi malah pria itu yang belum lama kenal sudah menjadi kekasih, Ais."
"Aku menyesal dahulu selalu saja menunda untuk mengungkapkan rasa isi hatiku padamu, Is. Sehingga kini aku benar-benar patah hati olehmu."
"Tapi aku tak rela jika kamu bersama dengan pria itu, Is. Aku akan merebut mu darinya dan akan membuatmu menjauh darinya."
"Nak Aan, kok kamu diam saja? pasti sedang melamun ya?" tegur Ayah Lukman mengagetkan lamunan Aan.
"Nggak juga, pak. Aku hanya sedang heran saja kenapa kok Ais mau pacaran sama pemuda pemarah itu?" ucap Aan tak sadar.
"Bapak juga, kenapa mengizinkan Ais jalin hubungan dengannya?"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Aan, justru membuat Ayah Lukman terkekeh.
"Nak Aan, Bagas memang pemarah tapi ia itu baik hati. Dan saya juga tak bisa melarang mereka karena mereka saling cinta dan saling suka. Walaupun memang pada awalnya mereka suka sekali berantem bagai Tom & Jerry," ucap Ayah Lukman.
"Apa bapak tidak khawatir jika suatu saat pemuda itu akan menyakiti Ais? sifat buruknya itu kan pemarah, ia baik hanya sesaat pasti suatu hari nanti sifat aslinya muncul lagi," ucap Aan.
"Saya tak ada fikiran buruk sedikitpun dengan hubungan percintaan mereka. Saya percaya kalau Nak Bagas itu pemuda yang baik. Dan takkan menyakiti Ais," ucap Ayah Lukman terus saja memuji Bagas hingga Aan semakin benci pada Bagas.
"Oh iya, Nak Aan. Tadi katanya datang kemari karena ada pesan dari Juragan Wardi?" tanya Ayah Lukman mengalihkan pembicaraan.
"Iya, pak. Bapak di minta datang ke rumah nanti sehabis sholat isya. Karena di rumah kami akan diadakan syukuran, ayah membeli satu angkot lagi," ucap Aan.
"Baiklah, nanti saya pasti datang," ucapnya singkat.
__ADS_1
"Ayah saya tanya, pak. Apa bapak nggak ingin bekerja, katanya bisa kok menggantikan Ais," ucap Aan.
"Maaf, Nak Aan. Saya sudah tidak di izinkan bekerja oleh Ais dan Nak Bagas," ucap Ayah Lukman.