Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Pernikahan


__ADS_3

Karena sudah tidak bisa melakukan aborsi secara tradisional, akhirnya Rindi mempertahankan kandungannya tersebut dengan secara terpaksa.


"Aku harus penghematan makanya daripada uangku untuk aborsi ke dokter atau bidan yang menghabiskan banyak uang, sudahlah terpaksa aku pertahankan saja janin ini. Entah bagaimana nantinya jika anak ini sudah lahir itu dipikir belakangan," gumamnya seraya mengemudikan mobilnya untuk menjenguk Setyo di lapas.


Sesampainya di lapas banyak sekali pertanyaan yang dilontarkan oleh Setyo pada Rindi.


"Kenapa lama sekali kamu baru menjenguk Papah ? mana laporan perusahaan, kenapa tidak kamu bawa sekalian? karena papah ingin mengeceknya untuk mengetahui bagaimana kinerja kamu selama tidak ada papah?" pertanyaan keluar dari mulut Setyo.


"Sudah berapa kali aku berkata pada papah bahwa aku sibuk sekali, sehingga tidak ada waktu untuk sering-sering jenguk papah. Jika papah cerewet seperti ini sebaiknya aku tidak menjenguk papah sama sekali hanya membikin aku kesal saja!"


Karena pengaruh kehamilannya, sifat Rindi semakin sensitif dan ia pun bangkit dari duduknya pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi kepada Papahnya. Hal ini membuat Setyo memicingkan alisnya karena tingkah Rindi yang terlalu sensitif.


"Aneh, masa iya aku cuma mengatakan hal seperti itu Rindi marah dan langsung pergi begitu saja," gumamnya ia pun bangkit dari duduknya dan memutuskan untuk kembali ke selnya di kawal oleh dua orang petugas aparat kepolisian.


Sepanjangan perjalanan pulang Rindi terus saja menggerutu kesal dengan papahnya. Selagi dia tidak fokus, mobilnya menabrak mobil angkot yang ada di depannya hingga ia terpaksa harus berhenti dan meminta maaf pada sang sopir yang tak lain adalah Aan.


"Kamu, maafkan aku ya aku sedang tidak konsentrasi sehingga menabrak angkotmu. Nanti aku akan tanggung jawab dengan membawa angkot-mu ke bengkel aku yang membayar semuanya," ucap Rindi.


"Iya tidak apa-apa tak usah sungkan," ucap Aan.


Mereka pun pada akhirnya berkenalan satu sama lain, walaupun sebenarnya di dalam hati Rindi ia sungkan diajak berkenalan oleh Aan hanya karena dirinya seorang sopir angkot. Ia bersedia berkenalan dengan Aan hanya karena Aan membebaskan biaya untuk kerusakan angkot.


Tiba-tiba terbesit di dalam otak Rindi untuk sesuatu yang tidak baik.


Sejak saat itu hubungan mereka semakin dekat dan karena merasa kecewa dengan Ais entah kenapa ia ingin menikahi Rindi, padahal mereka belum lama kenal.

__ADS_1


"An, apa kamu sudah yakin dengan pilihanmu? Kamu kan belum lama kenal dengan Rindi. Seharusnya kamu selidiki terlebih dahulu, dimana rumahnya dan orang tuanya," ucap Juragan Wardi memberi nasehat.


"Aku percaya kok, yah. Pada Rindi kalau dia itu wanita baik-baik, jadi ayah tak usah khawatir," ucap Aan mencoba meyakinkan Juragan Wardi.


"Aan, ayah tahu kamu melakukan ini hanya karena kecewa Ais menikah dengan pria lain. Kami nggak boleh seperti ini, An. Nanti yang ada kamu kecewa loh, menikah tanpa ada rasa cinta." kembali lagi Juragan Wardi menasehati Aan untuk berpikir ulang jika akan menikahi Rindi.


"Ayah, aku ini sudah dewasa dan bukan anak kecil lagi jadi sudah bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk bagi kehidupanku. Aku yakin dengan pilihanku, ayah tak usah khawatir lagi tinggal memberikan restu kepadaku saja," ucap Aan.


Setelah Aan berhasil mencari tahu tentang hari pernikahan Ais, ia pun segera menentukan hari pernikahannya dengan Rindi yakni satu hari setelah pernikahan Ais.


***********


Pernikahan Ais pun saat ini berlangsung, dan Aan serta orang tuanya datang. Bahkan ia juga mengajak Rindi.


Rindi sama sekali tidak tahu jika dirinya akan di ajak ke pesta pernikahan Ais dan Bagas, hingga ia pun menurut saja. Ia kaget pada saat melihat sepasang mempelai.


"Walaupun aku tidak ada rasa cinta sedikitpun, tetapi aku melakukan ini karena supaya bayi yang aku kandung punya bapak ."


"Untuk langkah berikut nya aku tidak memikirkannya dulu. Yang terpenting aku bisa menikah dulu dengan Aan."


Saat itu juga Rindi pergi dari acara pesta pernikahan Ais. Ia sengaja tak berpamitan dengan Aan dan orang tuanya. Pada saat Aan menghadap ke hadapan kedua mempelai untuk mengucapkan selamat, ia celingukan mencari keberadaan Rindi.


"Dimana, Rindi? ayah-ibu, apa kalian melihat Rindi?" tanya Aan celingukan.


"Tidak, kami sama sekali tidak melihatnya. Coba kamu telpon saja, barangkali ia sedang ada di toilet," ucap Juragan Wardi.

__ADS_1


'Biar saja dech, aku akan mengucapkan selamat terlebih dahulu pada Ais dan suaminya."


Saat itu juga Aan mengucapkan selamat pada Ais dan Bagas, dengan tak lupa ia memberikan undangan pernikahan pada Ais.


"Besok, gantian ya. Sempatkan waktu kalian untuk datang di acara pernikahanku," ucap Aan memberikan sebuah undangan pada Ais.


Karena sedang banyak tamu, Ais tak langsung membaca undangan itu. Ia langsung meletakkan di kursi pengantin.


"Baiklah, Aan. Kami pasti datang kok," ucap Ais tersenyum.


Hingga hari berikutnya yang telah di tunggu pun datang. Dimana Aan menikah dengan Rindi. Tetapi mereka tidak mengadakan pesta pernikahan yang besar seperti pada saat pernikahan Ais.


Alangkah terkejutnya Ais dan Bagas pada saat melihat siapa yang telah menjadi mempelai wanitanya.


"Kamu, jadi dia ini? aku pikir hanya namanya saja yang sama, ternyata orangnya juga sama. An, apa kamu...


"Sayang,..." Bagas melarang Ais mengatakan tentang siapa sebenarnya Rindi kepada Aan atau orang tuanya.


Setelah mengucapkan selamat pada sang mempelai, Bagas lekas mengajak pulang Ais.


"Mas Bagas, kenapa kamu melarang aku untuk mengatakan siapa sebenarnya Rindi? dan itu tadi bukan papahya Rindi kan? karena papahnya ada di dalam penjara. Berarti Rindi benar-benar telah membohongi Juragan Wardi dan Aan. Kasihan mereka, mas," ucap Ais


"Ais, apa benar yang barusan kamu katakan?" tiba-tiba muncul Juragan Wardi di belakang Ais dan Bagas.


Kebetulan Juragan Wardi berniat mengambil sesuatu barang yang tertinggal di mobil. Dan kebetulan pula saat ini Ais dan Bagas juga sedang ada di parkiran mobil.

__ADS_1


Sejenak Ais dan Bagas saling berpandangan satu sama lain.


"Ais, tadi aku dengar semuanya yang kamu katakan tentang Rindi. Apa benar adanya, jadi kamu kenal Rindi dan orang tuanya?" tanya Juragan Wardi semakin penasaran dengan cerita yang barusan tak sengaja di dengar olehnya.


__ADS_2