Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Sama-Sama Resah Gelisah


__ADS_3

Setelah mendapatkan masukan atau saran dari Ayah Lukman, Ais sudah tak ragu lagi untuk menerima ajakan Bagas untuk menikah.


Namun pada saat Bagas datang lagi, Ais sengaja tak mengatakan apapun terlebih dahulu. Ia sengaja menunggu, Bagas yang membuka pembicaraan.


"Sebenarnya aku ingin menanyakan tentang hal yang sering aku tanyakan, tetapi aku khawatir Ais menjadi marah atau tersinggung jika aku sering kali menanyakan tentang pernikahan," batin Bagas sehingga dia mengurungkan niatnya untuk membicarakan tentang pernikahan kembali.


"Tumben sekali Mas Bagas tidak membicarakan tentang pernikahan, biasanya topik utama yang pertama dia katakan yakni mengajakku untuk menikah secepatnya. Jika aku yang mengatakannya, aku khawatir salah dalam berkata. Ah sebaiknya aku diam saja dulu sampai Mas Bagas membuka pembicaraan tentang pernikahan," batin Ais.


Baik Ais maupun Bagas sama-sama tak membicarakan tentang pernikahan. Justru yang mereka bicarakan adalah hal lain, walaupun sebenarnya di dalam hati keduanya ingin sekali mengutarakan tentang pernikahan.


Hingga menjelang pulang ke rumah pun baik Bagas ataupun Ais masih saja diam tak membicarakan hal itu. Hampir setiap Bagas pulang dari kantor, ia pasti tak langsung pulang ke rumah melainkan langsung ke restoran. Dan nanti ia pulang bersama dengan Ais. Terlebih dahulu mengantar Ais ke rumah.


Sementara Ayah Lukman yang stand by menjaga restoran hingga tutup jam tujuh malam. Ayah Lukman dan Ais telah sepakat untuk tidak menutup restoran terlalu malam.


"Mas Bagas, mau mampir dulu minum kopi atau mau makan dulu?" ucap Ais memecah keheningan pada saat telah sampai di pelataran rumah.


"Sayang, masa iya kamu lupa? tadi pada saat aku sampai di restoran bukannya aku sudah makan, masa iya aku harus makan lagi nanti yang ada perutku menjadi buncit bagaimana?" canda Bagas terkekeh.


Ais hanya diam saja ia hanya menanggapi dengan senyuman khasnya. Setelah cukup lama berada di rumah Ais barulah Bagas berpamitan pulang. Seperginya Bagas ada rasa kecewa di dalam hati Ais, karena apa yang ingin ia dengar dari mulut Bagas tak diucapkan olehnya.


"Kenapa hari ini Mas Bagas tidak mengatakan tentang pernikahan padahal aku ingin mengatakan hal itu, ingin meresponnya. Apakah ia benar-benar lelah karena tidak ada jawaban yang pasti dariku ya? kok aku menjadi khawatir dengan apa yang pernah dikatakan oleh ayah."

__ADS_1


"Aku khawatir jika Mas Bagas sudah tidak berminat untuk menikahiku. Aduh.... kenapa hatiku menjadi tak menentu seperti ini ya?"


Rasa resah dan gelisah kini sedang melanda Ais, dia mengkhawatirkan sikap Bagas akan berubah karena kerap kali Ais selalu membuat alasan jika Bagas mengajaknya menikah.


Sementara saat ini Bagas telah sampai di pelataran rumahnya. Ia pun menjatuhkan pantatnya di kursi teras halamannya seraya meluruskan kakinya menyandarkan punggungnya di kursi. Pandangannya menerawang ke cakrawala yang menghampar luas di depannya, pikirannya saat ini sedang traveling.


"Bagas, kamu sudah pulang. Kenapa wajahmu murung seperti itu, apakah kamu sedang banyak masalah di kantormu ataukah kamu sedang bertengkar dengan Ais?" satu tepukan tangan mendarat di bahu kiri Bagas yang membuatnya terhenyak kaget.


"Tidak ada masalah apapun mah, hanya saja hati ini tak tenang karena sampai detik ini Ais belum ada jawaban tentang ajakanku untuk menikah dengannya."


"Kadang aku berfikir jika Ais itu tak serius denganku mah. Padahal kan kalau yang aku tahu gadis manapun jika diajak menikah akan merasa sangat senang dan bahagia, tetapi kenapa tidak dengan Ais?"


Mendengar apa yang dikatakan oleh anaknya, Eti pun menyunggingkan senyuman seraya melangkah duduk di samping kursi di mana saat ini anaknya tengah duduk.


"Ais begitu berhati-hati dan teliti karena mungkin ia melihat dari kegagalan rumah tangga orang tuanya. Hal itu bisa saja membuatnya khawatir dan takut untuk melangkah ke jenjang pernikahan."


"Saran mamah, kamu yang sabar saja dalam menghadapi Ais. Dan untuk saat ini coba kamu hindari dulu kata-kata pernikahan. Pasti jika Ais sudah benar-benar siap, dengan sendirinya ia akan mengiyakan ajakanmu itu."


Bagas tersenyum setelah mendengar nasehat dan beberapa saran dari Eti. Ia sudah tak resah dan gelisah lagi. Ia juga sempat berpikir toh masa pacarannya dengan Ais juga baru beberapa bulan. Mungkin mereka masih butuh waktu lagi untuk saling adaptasi guna memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing.


********

__ADS_1


Malam menjelang, Ayah Lukman sudah bersantai di rumah. Ia pun iseng menghampiri Ais yang sedang sibuk menghitung pembukuan restoran di ruang tengah.


"Bagaimana, Ais? apakah kamu itu sudah mengatakan pada Bagas tentang kesediaanmu untuk menikah dengannya?" tanya Ayah Lukman menyelidik.


'Hem...belum ayah,' ucap Ais seraya asik dengan aktifitasnya.


"Loh kok belum, memangnya kenapa kamu belum mengatakannya? apa kamu ragu lagi padanya?" tanya Ayah Lukman heran.


"Bukan begitu, ayah. Tadi Mas Bagas hanya diam saja tak menyinggung kata-kata pernikahan, jadi aku juga tak berkata apa pun," ucap Ais.


"Lah kok kamu begitu sih, Is? seharusnya kamu itu yang ngomong dulu kan nggak apa-apa," protes Ayah Lukman seraya menghela napas panjang.


"Aku nggak enak ayah, jika harus ngomong terlebih dahulu pada Mas Bagas. Makanya aku sengaja diam menunggu dirinya untuk mengatakan tetapi malah Mas Bagas tidak menyinggung tentang pernikahan, ia hanya bicara tentang hal lain," ucap Ais sekenanya.


"Ais, adanya Bagas diam saja itu mungkin dia lelah juga mengatakan tentang pernikahan tersebut. Apa salahnya giliran kamu yang mengatakannya terlebih dahulu," saran Ayah Lukman.


"Iya juga ya ayah, mungkin saja Mas Bagas lelah untuk mengatakan tentang pernikahan makanya dia hanya diam saja dan berbicara tentang hal lain," Ais membenarkan tentang perkataan ayahnya.


"Bisa jadi seperti itu, pastinya Bagas itu ingin mengatakannya lagi tetapi dia khawatir akan mendapatkan penolakan lagi darimu. Dan yang ada kamu itu beralasan ini dan itu lagi hingga Bagas tak mengatakan tentang ajakannya untuk menikah denganmu," ucap Ayah Lukman.


"Lantas aku harus bagaimana ayah, apakah aku diam saja atau aku yang mengatakannya dulu?" tanya Ais dilema.

__ADS_1


"Kan barusan sudah ayah katakan padamu, tidak ada salahnya jika kamu itu mengatakannya terlebih dahulu supaya tidak ada ganjalan di hati kalian berdua, dan supaya kalian itu sama-sama lega," ucap Ayah Lukman.


"Baiklah kalau begitu ayah, esok aku yang akan mengatakannya dulu jika bertemu dengan Mas Bagas," ucap Ais.


__ADS_2