
Bagas terus saja mencari cara supaya dapet menemukan jalan yang tepat.
"Sayang, begini saja untuk sementara waktu kita tutup restorannya. Kamu gunakan cara online saja, yakni menjajakan semua menu masakan kamu itu di dalam akun sosial media baik itu Instagram, Facebook, WhatsApp atau yang lainnya."
"Permasalahan ini tidak akan berlarut-larut dalam waktu yang lama hanya beberapa hari saja akan hilang dengan sendirinya."
"Pada saat restoran tutup kita gunakan untuk memasang CCTV di semua penjuru ruangan baik di halaman restoran juga."
"Nanti aku juga akan mencari orang lagi untuk menjadi security di sini supaya tidak cuma satu saja security yang bertugas menjaga restoran ini."
"Jika ada dua atau tiga security yang ada di restoran ini pasti tidak akan terjadi hal buruk lagi seperti ini."
"Kamu nggak usah khawatir, sayang. Aku akan membantu mempromosikan semua menu masakanmu, baik di kantor ataupun juga kepada klien aku yang kebetulan juga mereka semua suka sekali dengan kuliner."
Setelah mendengar semua saran dan masukan dari Bagas ada sedikit kelegaan di hati Ais.
"Terima kasih ya Mas, atas semua saran dan masukannya yang membuat aku lega dan tidak khawatir lagi akan kelangsungan restoran ini."
"Apa yang Mas Bagas katakan itu benar, karena pada saat terjadinya keributan tersebut security kebetulan tidak masuk kerja dengan alasan menemani istrinya proses melahirkan makanya tidak ada yang menjaga."
Bagas menyunggingkan senyuman, ia juga ikut lega mengetahui kekasihnya sudah tidak gelisah kembali.
"Makanya tadi aku memberikan saran padamu supaya mempekerjakan security itu tidak cuma satu tapi dua atau tiga. Supaya tidak ada lagi kejadian seperti ini, di mana hanya satu security dan dia tidak bisa datang otomatis tidak ada yang menjaga restoran ini bukan?" ucap Bagas tersenyum.
Saat itu juga Bagas membantu Ais untuk membereskan kekacauan yang ada di dalam restoran tersebut merupakan sisa-sisa makanan yang masih banyak mereka sedekahkan pada orang yang kurang mampu.
__ADS_1
Bagas mengumpulkan para pelayan di restoran tersebut dan untuk sementara waktu mereka diberhentikan sejenak hanya untuk beberapa hari saja. Untuk sejenak membereskan segala kekacauan di restoran tersebut.
Esok harinya, Ais dan Ayah Lukman mulai menggarap pesanan on line berupa catering. Pada saat malam Ais langsung saja membuat promo di akun sosial medianya, begitu juga dengan Bagas. Hingga pagi itu juga Ais sudah mendapatkan banyak orderan on line.
"Alhamdulillah ya ayah, ide dari Mas Bagas langsung berjalan karena langsung banyak yang order ke kita," ucap Ais sumringah.
"Ya Ais, sebenarnya selagi kita mau berusaha pasti ada saja jalan," ucap Ayah Lukman.
Ayah dan anak ini sedang berkutat di dapur untuk mengolah segala bahan mentah menjadi beberapa menu masakan yang lezat.
Antusias keduanya patut di acungi jempol, karena mereka tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Bahkan si kembar turut serta turun tangan membantu dengan packing masakan tersebut ke wadahnya.
Rindi penasaran dan ia pun menyambangi restoran milik Ais. Betapa riangnya ia pada saat melihat restoran itu tutup.
Setelah sejenak menyambangi restoran milik Ais, Rindi melajukan mobilnya arah pulang dengan hati berbunga-bunga karena usahanya berhasil.
"Usahamu telah hancur dan aku yakin tidak akan bisa bangkit lagi dan kamu akan bangkrut. Setelah ini aku juga akan menghancurkan hubunganmu dengan Bagas," batinnya punya niat jahat lagi pada Ais.
Waktu berjalan begitu cepatnya tak terasa sudah satu minggu berlalu dari restoran Ais mengalami sebuah insiden dan kini ia sudah bisa membuka restorannya kembali. Tetapi kali ini semua keamanan ketat sudah terpasang CCTV di berbagai penjuru ruangan juga sudah ditambah lagi security.
"Alhamdulillah ya ayah, akhirnya restoran kita bisa buka kembali dan aku rasa kali ini tidak akan terjadi lagi hal yang memalukan seperti waktu itu," ucap Ais sumringah.
"Ini semua kan karena bantuan, Nak Bagas. Jika tanpa adanya ia, mungkin restoran kita sudah bangkrut dan tutup untuk selamanya," ucap Ayah Lukman tersenyum seraya menatap ke arah Bagas.
"Oh iya aku lupa, terima kasih ya Mas Bagas," ucap Ais tersipu malu menatap ke arah Bagas.
__ADS_1
"Janganlah terlalu memujiku ayah, aku hanya melakukannya hal yang seharusnya aku lakukan untuk kalian," ucap Bagas merendah.
Selagi mereka asyik mengobrol tiba-tiba datang dua orang yang tak lain adalah salah satu pelanggan catering, Ais.
"Selamat pagi, Bu Ira. Mari silahkan masuk," sapa Ais tak lupa menyalami Bu Ira dan asistennya.
Hal serupa juga di lakukan oleh Ayah Lukman dan juga Bagas. Lantas semuanya duduk di dalam ruangan Restoran.
"Begini Nak Ais, selama saya menjadi pelanggan catering kamu saya itu sangat puas sekali dengan segala menu masakan juga pelayanannya tidak pernah telat dan selalu tepat waktu. Serta masakannya itu rasanya luar biasa lezat dan nikmat bahkan seluruh orang yang sempat menyantapnya memuji hasil masakan, Nak Ais."
"Saya datang kemari untuk mengadakan kerjasama dengan Nak Ais dan Pak Lukman. Di mana saya akan memberikan modal untuk membuka usaha restoran tepatnya di samping perusahaan saya yang kebetulan sudah terbentuk sebuah ruko tinggal direnovasi saja."
"Nanti saya yang akan memberikan modal untuk segala kebutuhan restoran. Tugas dari Nak Ais dan Pak Lukman yakni mencarikan beberapa pelayannya serta mengolah bahan makanan tersebut menjadi masakan yang lezat seperti biasanya."
"Sistem keuntungan yakni enam puluh persen untuk saya dan empat puluh persen untuk Nak Ais dan Pak Lukman. Mengenai gaji para pelayan biar saya yang mengurusnya. Jadi tugas Nak Ais yakni menghandle restoran yang akan saya dirikan di dekat perusahaan saya."
"Apakah Nak Ais dan Pak Lukman bersedia untuk menjalin kerja sama dengan saya? nanti jika bersedia lota bisa langsung lakukan perjanjian hitam di atas putih."
Mendengar apa yang di katakan oleh Bu Ira tak lantas Ais langsung setuju begitu saja. Akan tetapi ia berunding sejenak dengan Ayah Lukman dan juga Bagas untuk beberapa menit. Setelah mendapatkan kesepakatan, hingga akhir di ambil sebuah keputusan jika Ais bersedia melakukan suatu kerja sama.
"Baiklah Bu Ira, setelah kami berunding. Kami sepakat untuk menerima tawaran kerjasama dari anda. Dan mengenai sistim bagi hasilnya kami juga tidak keberatan," ucap Ais antusias.
"Alhamdulillah, saya senang sekali Nak Ais dan Pak Lukman bersedia bekerja sama dengan saya. Dan kebetulan saya membawa pengacara pribadi saya untuk mengurus surat perjanjian hitam di atas putih.
"Semoga kelak restoran baru hasil kolaborasi kita ini menjadi restoran yang ramai pembeli."
__ADS_1