Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Enggan Mengakui


__ADS_3

Sore telah datang, waktu pulang pun tiba. Di saat pulang selama perjalanan, Bagas kembali lagi berkata pada, Pak Lukman.


"Pak, nanti jangan lupa ya. Di rundingkan mengenai apa yang aku tawarkan lagi tadi," pesan Bagas.


"Baik, den. Nanti saya rundingkan dengan Ais dulu," jawabnya singkat.


Tak berapa lama sampai juga di pelataran rumah Bagas.


"Pak, jangan pergi dulu," pinta Bagas hingga akhirnya Lukman pun menunggu dengan berdiri di pelataran.


Sementara Bagas berlari kecil ke dalam rumah mencari keberadaan Eti.


"Mah, sudah masak untuk makan malam belum?' tanya Bagas memastikan.


"Belum, mau masak itu si bibi," jawab Eti.


"Cegah dulu jangan bibi yang masak," pinta Bagas.


"Lantas kalau bibi nggak masak, kita akan makan malam dengan apa? apa kamu akan memesan makanan on line?" tanya Eti mengerutkan alisnya.


"Bukan begitu, mah. Aku ingin mamah ke depan dan bilang sama Pak Lukman supaya Ais kesini untuk masak," pinta Bagas pasang wajah memelas seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.


Hingga akhirnya Eti tanpa bersuara, akan melangkah ke pelataran menemui Lukman, tetapi terlebih dahulu Bagas menahannya.


"Mah, tunggu. Jangan mengatakan kalau aku yang meminta, katakan saja mamah yang menginginkan Ais masak di sini," pinta Bagas tersipu malu.


Eti hanya melirik sinis seraya melanjutkan langkahnya ke pelataran rumah untuk menemui, Pak Lukman.


"Pak, maaf. Tolong katakan pada Ais untuk kemari saat ini juga ya. Saya kangen sama masakan dia, kalau bisa tiap sore suruh kemari saja untuk memasak makan malam di sini," pinta Eti menyunggingkan senyuman pada Lukman.


"Baiklah, Nyonya. Apakah masih ada hal yang lain, jika tidak saya pamit pulang," ucap Lukman memastikan.


"Tidak ada, Pak. Hanya itu saja," ucap Eti.


Lukman lantas lekas pulang, seraya berjalan kaki dia pun menelpon Ais.


Kring kring kring kring

__ADS_1


Panggilan telepon tersambung pada ponsel Ais. Dia terlonjak kaget karena sedang tertidur di sofa ruang tamu menunggu kepulangan ayahnya.


"Hallo, ayah ada apa kok malah telpon. Memangnya ayah nggak pulang?"


"Ayah lagi jalan pulang, cepat kamu lekas ke rumah Den Bagas sekarang juga. Nyonya Besar barusan berpesan pada ayah supaya kamu lekas kesana untuk memasakkan menu makan malam."


Setelah mengatakan hal itu, Lukman mematikan panggilan telponnya.


"Hestah, belum juga aku jawab sudah di matikan saja." Ais bangkit dari rebahan di sofa, dia pun sejenak mandi dan langsung berangkat ke rumah Bagas, bahkan sempat berpapasan dengan ayahnya.


"Ayah..


"Sudah sana nggak usah banyak tanya, ntar Nyonya nunggu kamu terlalu lama kan nggak enak," sela Lukman pada saat berpapasan dengan Ais di jalan, belum juga Ais berkata sudah di potong ucapannya.


Hingga akhirnya Ais melanjutkan lagi langkahnya ke rumah Bagas. Tak berapa lama dia telah sampai di pelataran, dan dari atas balkon kamarnya, Bagas tersenyum pada saat melihat kedatangan Ais.


"Akhirnya datang juga si, Ais."


Ais pun entah ada angin apa, dia juga tiba-tiba menatap ke sekeliling atas hingga memergoki Bagas sedang tersenyum ke arahnya.


Namun pada saat Bagas kepergok oleh Ais, dia langsung beralih dari balkon.


"Hem, manis juga senyumnya. Ternyata dia bisa tersenyum juga rupanya, tetapi kok jika sedang berhadapan denganku sama sekali tak pernah senyum sedikitpun tetapi malah selalu mengajak berantem," batin Ais.


Tak berapa lama, Bagas sudah ada di ambang pintu rumahnya.


"Ngapain kamu kemari?" tanya Bagas berpura-pura, belum juga Ais menjawab Eti sudah menyela dari belakang punggung dirinya.


"Bukannya kamu meminta mamah supaya Ais kemari, kok sudah datang di tanya ngapain kemari?" sela Eti di belakang punggung Bagas.


"Mamah..." Bagas menoleh seraya mengerucutkan bibirnya kesal.


"Upsss...mamah lupa Bagas, maklum sudah tua," ucapnya lirih namun masih bisa di dengar oleh Ais.


Eti terkekeh sedangkan Bagas segera masuk ke dalam rumah karena menahan rasa malu. Eti memang sengaja melakukan hal itu.


"Ais, mau kan jika setiap sore datang kemari untuk memasakkan makan malam untuk kami? karena Tante suka sekali sama masakanmu," ucap Eti.

__ADS_1


"Boleh, Nyonya.".


Eti pun mengajak Ais ke dapur, di dapur bibi begitu antusias dan sangat riang melihat kedatangan Ais.


"Ais, bibi senang dech kalau Ais kemari."


Saat itu juga Ais mulai beraksi mengolah bahan-bahan mentah yang ada untuk siap di jadikan makanan. Satu jam berlalu semua sudah terhidang di meja makan, dan Ais pun berpamitan pada Eti untuk segera pulang ke rumah.


"Nyonya, saya pamit pulang ya. Semua makanan sudah siap di meja makan," ucapnya ramah.


"Oh ya Ais, begini saja ya. Mulai sekarang dan seterusnya kamu menjadi juru masak Tante ya setiap sore. Nanti Tante gaji setiap seminggu sekali saja ya kasihnya," ucap Eti sumringah.


"Tak perlu sungkan, Nyonya. Tidak semua di ukur dengan uang, saya ikhlas kok jika memang nyonya dan orang rumah suka dengan masakan saya, saya bersedia memasak di sini tiao sore," ucap Ais.


"Baiklah, Ais. Begini saja. Jika setiap sore kamu di rumah tak usah masak, kamu bawa saja masakan dari sini yang kamu masak di sini ya. Dari pada sama kami suka tak habis kan mubazir," ucap Eti.


"Itu terserah, nyonya saja," ucap Ais.


Setelah itu Ais pulang dengan membawa menu masakan yang barusan dia masak di rumah Bagas.


Seperginya Ais, Bagas baru berani memperlihatkan batang hidungnya yang mancung.


"Mah, sudah matangkah? aku sudah lapar nech, mah. Boleh kan aku makan duluan," ucap Bagas menaik turunkan alisnya.


"Hem, bolehlah makan saja. Kamu itu sudah candu ya dengan masakan, Ais. Sebentar lagi kamu pasti candu dengan Aisnya," canda Eti terkekeh.


"Ih, mamah ngomong apa sih? aku mau makan pake acara di becandain seperti ini, nanti kalau selera makan aku bilang bagaimana? repot juga kan mamah." Ucap Bagas seraya berlalu ke ruang makan untuk segera menyantap masakan Ais.


Eti hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak semata wayangnya. Dia pun ikut ruang makan, untuk melihat Bagas makan, karena dirinya belum ingin makan.


"Bagas, kamu suka ya sama Ais?" tiba-tiba Eti bertanya yang membuat Bagas terlonjak kaget amdan terbatuk-batuk.


"Uhuk-uhuk"


Bagas langsung meraih minumnya dan sejenak dia minum. Setelah lega barulah dia berkata.


"Memangnya mamah nggak malu punya menantu seperti Ais, barbar ceroboh dan suka buat kekacauan?" tanpa sadar Bagas berkata seperti itu.

__ADS_1


"Bagas, kata-katamu itu mewakili apa yang saat ini sedang kamu rasakan," ucap Eti terkekeh.


__ADS_2