
Rindi begitu sedih, semua harta benda hilang begitu saja hanya karena tidak ada penjaganya di rumah.
"Untung saja, buku tabungan aku nggak hilang. Tapi bagaimana jika maling itu menggadaikan atau bahkan lebih parahnya menjual rumah dan mobil Papah dengan sertifikat yang di curinya ya? aku harus lapor polisi jika begini."
Saat itu juga Rindi menelpon aparat kepolisian untuk datang ke rumahnya. Dan hanya beberapa menit kemudian, beberapa aparat kepolisian datang.
Mereka memeriksa semua ruangan yang ada di rumah Rindi. Bahkan menanyakan perihal rekaman video CCTV. Untung saja Rindi masih memasang CCTV di setiap sudut ruangan di rumahnya. Hingga polisi bisa menangkap jelas para pelaku kejahatan tersebut.
"Kami akan segera menindaklanjuti kasus anda, nona. Kami yakin orang-orang ini sudah terlebih dahulu tahu tentang situasi rumah ini. Saran saya pekerjaan lagi security supaya lebih aman."
"Apa lagi, Nona hanya tinggal seorang diri apa tidak takut?"
Sejenak Rindi hanya tersenyum saja pada saat mendengar perkataan dari salah satu aparat kepolisian.
Rindi lega karena laporannya mendapatkan respon baik dari para aparat kepolisian. Bahkan kasusnya akan segera di selidiki lebih lanjut.
"Hem.. semoga saja para pelakunya cepat tertangkap. Apa lagi salah satu dari mereka sempat membuat topengnya," batin Rindi.
Dia memutuskan untuk mempekerjakan security kembali, sesuai dengan saran polisi.
*******
Satu Minggu kemudian, semua pelaku kejahatan di rumah Rindi tertangkap. Diantara tiga pelaku yang dua ternyata orang yang Rindi kenal yakni security dan tukang kebun yang ia pecat begitu saja.
"Astaga... jadi Mamang dan Ujang yang merampok rumah saya? lantas kenapa kalian merampok rumah saya?" tanya Rindi kesal.
"Karena kami kesal, kamu itu memecat kami seenaknya saja. Bahkan gaji terakhir kami tidak kamu bayarkan!"bentak Mamang sama sekali tidak merasa bersalah.
"Kalian ini ada-ada saja, padahal saya sudah bayar gaji kalian. Sudah bertindak jahat seperti ini, masih saja fitnah saya! apa mau , kalian saya tuntut hah?" bentak Rindi.
Rindi sengaja berbohong di hadapan aparat kepolisian, tentang gaji yang tidak di bayarkan olehnya. Karena ia tak ingin menanggung malu.
"Pak polisi, proses saja mereka dengan hukuman penjara yang lama biar mereka bertiga jera dan tak melakukan hal ini lagi. Saya khawatir akan ada lagi rumah yang menjadi sasaran perampokan bagi mereka," ucap Rindi.
__ADS_1
Aparat kepolisian berjanji akan memproses ke-tiga perampok tersebut. Dan mengembalikan surat-surat berharga yang masih utuh belum di salah gunakan sama sekali.
Hanya barang-barang elektronik yang sudah di jual oleh tiga rampok tersebut. Dan uangnya di gunakan untuk membayar hutang mereka pada rentenir.
"Hem ada-ada saja hal yang memilukan terjadi di dalam hidupku. Untung saja surat-surat berharga masih utuh. Tapi aku tetap tidak ikhlas karena perhiasan, motor kesayanganku serta barang elektronik di jual semua oleh tiga maling itu," batin Rindi kesal.
Mendadak ia ingat dengan Setyo.
"Aku sudah lama nggak jenguk papah, sebaiknya aku jenguk sebentar dech. Kasihan juga jika aku tak jenguk."
Saat itu juga Rindi melajukan mobilnya menuju ke lapas dimana saat ini Setyo di tahan. Dan pada saat sudah berhadapan sab bertatap muka dengan muka. Setyo begitu marah.
"Masih ingat dengan Papahmu ini? aku pikir kamu sudah lupa dengan Papah?" sindir Setyo.
"Kok papah ngomongnya seperti itu sih? di jenguk bukannya berterima kasih dan senang, malah seperti ini. Jika tahu seperti ini, aku tidak usah datang untuk menjenguk sekalian," ucap Rindi kesal.
"Kemana saja kamu selama ini tidak jenguk papah?" tanya Setyo kesal.
Ia sengaja melakukan itu, karena ia tahu jika ia berkata jujur pada Setyo tentang perusahaan yang telah ia jual, pastinya Setyo akan marah besar.
"Maaf ya pah, aku bohong tentang perusahaan. Belum waktunya saja untuk papah tahu tentang hal ini," batin Rindi.
"Hem... memangnya kamu bisa mengurus perusahaan? setahu papah dulu tiap kali Papah ajak kamu kantor selalu saja kamu tolak.," Setyo tak percaya dengan kemampuan Rindi.
"Lain dulu lain sekarang, pah. Sekarang aku terpaksa, seorang yang lulusan sarjana luar negeri masa iya nggak bisa handle kantor?" dengan sombongnya Rindi berkata.
"Hem, syukurlah jika kamu sudah sadar. Lantas bagaimana urusan kantornya? apa ada suatu masalah atau tidak?" tanya Setyo menyelidik.
"Nggak lah, pah. Semuanya aman terkendali."
"Kalau begitu kapan-kapan kamu bawa pembukuan kantor kemari ya, papah ingin melihatnya," ucap Setyo.
"Astaga.. papah kok nggak percaya banget sih dengan skill yang aku punya? masa iya aku harus kemari membawa pembukuan kantor? ya sudah lain waktu kalau aku kemari lagi. Pah, aku pamit pulang ya, sudah terlalu lama di sini."
__ADS_1
Rindi langsung bangkit berdiri, ia pun berlalu pergi begitu saja karena ia tak ingin papah terus bertanya banyak hal tentang perusahaan.
Bahkan ia juga tidak bercerita jika rumahnya telah kerampokan. Dan tidak bercerita bahwa ia pecat semua pekerja yang ada di rumah mereka.
"Astaga Rindi-Rindi, ternyata kamu belum juga berubah. Masa iya pamit kok nyelonong pergi begitu saja. Tapi nggak apa-apa setidaknya aku tenang karena perusahaan aman terkendali oleh Rindi."
Setyo percaya saja dengan apa yang dikatakan oleh Rindi.. Entah apa jadinya jika ia tahu yang sebenarnya tentang perusahaan yang telah di jual oleh Rindi dengan harga yang sangat murah.
Rindi tidak tahu harga pasaran untuk sebuah perusahaan ekspedisi milik Setyo. Ia ceroboh dengan memberikan harga semaunya sendiri. Ia hanya ingin cepat memegang uang banyak, tanpa berpikir kedepannya.
Hanya beberapa menit saja, Rindi telah sampai di depan pintu gerbang rumahnya. Akan tetapi tiba-tiba ponselnya berdering.
Kring kring kring kring
Ada satu panggilan ternyata masuk ke nomor ponsel miliknya.
"Hem, siapa sih? oaaahh.. Brian.
Rindi langsung mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Hallo sayang, kamu sedang ada dimana?"
"Ada apa sih, sayang?"
"Aku kangen tahu, beberapa hari tak bercinta denganmu rasanya ada yang hilang di dalam hidupku."
"Hem, memang apa yang akan kamu berikan kali ini padaku? aku juga butuh barang-barang branded."
"Seperti biasa, kita bercinta dulu setelah itu kita shopping. Cepat datang di hotel yang biasa karena aku sudah pesan kamar. Aku itu sudah candu dengan tubuhmu itu."
"Baiklah, sayang. Aku datang segera ke hotel yang biasa."
Saat itu juga Rindi melajukan mobilnya ke arah hotel. Ia mengurung niatnya untuk pulang ke rumah.
__ADS_1