Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Kembali Lapor Polisi


__ADS_3

Bagas menghampiri Risa dengan tatapan membunuh. Ia pun mengambil berkas yang sempat di jatuhkan oleh Risa.


"Mampus aku!" batin Risa ketakutan.


"Risa, untuk apa kamu mencuri berkas-berkas ini hah? apakah ada orang yang telah memerintahmu untuk melakukan hal ini?" tanya Bagas ketus.


Namun Risa hanya diam saja bahkan ia terus saja tertunduk ketakutan.


"Aduh... bagaimana ini? jika aku berkata jujur bahwa Om Setyo yang memerintahku, pasti nyawa ibuku saat ini dalam bahaya. Tetapi jika aku tidak berkata jujur, aku sendiri yang akan mengalami bahaya," batin Risa bingung.


Melihat sikap diamnya Risa membuat amarah Bagas meluap-luap tak bisa ditahan lagi dan tak bisa di bendungnya lagi.


BRAK!


Bagas menghantamkan sapu yang dipegangnya ke arah almari yang ada di dekat di mana saat ini Risa berdiri. Hal ini membuat Risa terlonjak kaget dan semakin bertambah ketakutan. Bahkan matanya berkaca-kaca, menahan air matanya supaya tidak jatuh tertumpah.


"Risa, kenapa kamu diam saja tidak menjawab apa yang aku tanyakan barusan? apa kamu ingin aku menyeretmu ke kantor polisi dan melaporkan kejadian ini supaya kamu mendapatkan hukuman kurungan penjara, hah?" tanya Bagas lagi.


"Maafkan saya Tuan Bagas, tolong jangan laporkan saya ke kantor polisi. Jika saya di penjara lantas bagaimana dengan nasib ibu saya." Tiba-tiba Risa tersungkur seraya memegang kedua kaki Bagas.


"Baiklah aku tidak akan melaporkanmu kepada polisi, tetapi katakan dengan jujur apakah ada yang telah memerintahkanmu untuk melakukan hal ini?" bujuk Bagas lagi karena ia yakin jika Risa ini di perintah oleh seseorang.


"Memang benar Tuan Bagas. Ada orang yang telah memaksa saya melakukan hal ini dan yang menjadi ancamannya adalah ibu saya. Makanya dengan sangat terpaksa saya nekad melakukan hal ini demi keselamatan nyawa ibu saya," ucap Risa ketakutan.


"Cepat katakan sejujurnya siapakah orang itu!" pinta Bagas sudah tak sabar lagi.


"Orang itu adalah orang saya sendiri, Tuan Bagas," ucap Risa.


"Om kamu bukannya punya nama? sebutkan siapa namanya, nggak usah pakai bertele-tele seperti ini memancing amarah saya semakin memuncak saja!" bentak Bagas sudah tidak sabar lagi ingin tahu siapa orang yang ada di balik Risa.

__ADS_1


"Om saya namanya Setyo, Tuan Bagas," ucap Risa singkat.


"Oh jadi ternyata kamu ini keponakan dari Om Setyo?" tanya Bagas lagi untuk memastikan.


"Iya, Tuan Bagas."


Risa masih saja tertunduk ketakutan.


"Hem, baiklah kalau begitu. Aku akan memaafkan dirimu karena telah berkata jujur padaku. Tapi awas jika kamu melakukan hal ini lagi, dan mulai saat ini aku pecat kamu!" ucap lantang Bagas.


"Tuan Bagas, tolong jangan pecat saya. Jika di pecat saya tidak akan bisa membiayai pengobatan ibu saya yang saat ini sedang sakit di rumah sakit,' pinta Risa memohon.


"Hem, jika kamu tidak aku pecat bisa jadi kamu akan melakukan hal yang lebih parah dari Ini. Aku yakin kamu akan terus membela om kamu yang jahat itu," ucap Bagas kembali.


"Tuan, aku mohon. Aku memang awalnya melakukan ini karena perintah Om Setyo. Jika aku tak menurut aku di minta mengembalikan semua uang nya yang jumlahnya tidak sedikit."


"Makanya saya terpaksa mau menuruti kemauannya, jika tidak di paksa mengembalikan semua uangnya dan aku tak punya."


Sejenak Risa menceritakan semuanya dari awal hingga akhir pada Bagas, membuat Bagas iba dan tak tega untuk memecatnya.


"Baiklah, aku tidak akan memecatmu asalkan kamu mau membantuku," ucap Bagas.


"Membantu apa ya, Tuan Bagas?" tanya Risa masih dengan posisi bersimpuh di hadapan Bagas.


"Bangunlah terlebih dahulu dan kita duduk di ruang kerjaku supaya nyaman dan supaya tidak ada yang berprasangka buruk terhadap kita. Karena di ruangan ini adalah ruang tempat untuk bersantai, aku tidak ingin ada karyawan lain yang melihat kita berdua saja di sini, itu akan membuat orang berprasangka buruk terhadap kita."


Bagas pun membalikan badannya dan ia melangkah menuju ke ruang kerjanya lantas ia duduk di kursi kerjanya menunggu Risa. Tak berapa lama Risa sudah ada di hadapan Bagas dan duduk di depannya.


"Ada dua pilihan untukmu."

__ADS_1


"yang pertama aku tidak akan memecatmu tetapi dengan satu syarat kamu mau menjadi saksiku di depan aparat hukum karena aku akan melaporkan kejahatan Om kamu itu supaya dia tidak mengulanginya lagi."


"Yang kedua jika kamu tidak bersedia membantuku dan tetap membela Om kamu itu terpaksa aku akan memecatmu."


"Pikirkanlah baik-baik mana yang akan kamu pilih, dan aku menginginkan kamu menjawabnya sekarang juga."


Sejenak Risa terdiam seolah sedang berpikir dengan apa yang barusan dikatakan oleh Bagas. Beberapa detik kemudian barulah dia bisa memutuskan apa yang akan dia lakukan.


"Baiklah Tuan Bagas, aku memilih yang pertama. Aku bersedia untuk menjadi saksi di saat nanti Tuan Bagas melaporkan kejahatan Om Setyo."


"Karena percuma saja jika aku membela Om Setyo pada akhirnya aku akan mendapat hukuman darinya. Dan jika Om Setyo menghukum seseorang itu tidaklah tanggung-tanggung."


Bagas tersenyum, dia pun akan melaporkan kejadian itu ke kantor polisi saat itu juga dengan membawa bukti video rekaman CCTV yang ada di ruang kerjanya dan juga membawa Risa turut serta.


"Kamu tenang saja dengan bukti rekaman CCTV ini kamu akan terbebas dari jerat hukum karena kamu melakukan hal ini atas ancaman dari Om Setyo dan keterpaksaan," ucap Bagas meyakinkan Risa, karena ia sempat melihat wajah Risa begitu panik pada saat melihat rekaman video CCTV yang ada di ruang kerja Bagas.


Kebetulan Bagas punya kenalan aparat kepolisian, yakni Komandan Arif yang pada saat itu membantu Bagas juga membebaskan Ais dari laporan Setyo.


Pada saat telah sampai di kantor polisi, Komandan Arif sempat memicing alisnya melihat kedatangan Bagas.


"Nak Bagas, apakah ada suatu permasalahan kembali?" tanyanya.


Bagas pun menceritakan duduk permasalahan pada Komandan Arif yang merupakan sahabat baik Broto.


"Astaga, jadi Setyo tidak jera juga dengan hukuman yang pernah ia terima? bahkan ia malah dendam seperti ini dan memperalat gadis tak berdosa." Komandan Arif sempat menggelengkan kepalanya seraya menghela napas panjang.


"Ya seperti itulah, Om. Mohon ditindak lanjuti ya, om? dan aku juga minta supaya Risa jangan di beri hukuman karena aku percaya dia ini tidak bersalah," ucap Bagas.


"Kamu tenang saja, Nak Bagas. Om tahu mana yang pura-pura baik dan mana yang tak berbohong," ucap Komandan Arif.

__ADS_1


__ADS_2