
Ais pulang dengan berjalan kaki dia merasa hari ini adalah hari yang sangat melelahkan baginya karena sudah capek di tempat kerja dia harus melawan preman yang sempat mengganggunya tadi sore.
Sesampainya di rumah dia langsung menjatuhkan pantatnya di kursi teras halaman dan meluruskan kakinya, dia pun menyandarkan punggungnya seraya menghilang napas panjang.
Sementara ayahnya sedang sibuk mengangkat jemuran, ia melihat anaknya yang begitu kelelahan dan terlihat sekali bajunya kotor. ia pun langsung menghampiri, Ais.
"Kamu kenapa is, kok bajumu sampai kotor sekali seperti itu?" tanya Lukman heran.
Ais pun menceritakan apa yang terjadi pada saat pulang dari kantor, ayahnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kan ayah sudah bilang berpuluh-puluh kali supaya kamu jangan pernah lewat ke jalan yang sepi itu. Bukankah itu jalan yang pernah kamu lalui saat kamu tertusuk pisau di perutmu itu?" ayahnya malah mengomeli Ais.
"Namanya juga orang lupa, ayah. Bukankah ayah juga sering lupa," ucap Ais ketus.
"Sudahlah ayah nggak usah dipermasalahkan. Aku lelah dan ingin segera mandi. Aku hari ini tidak masak untuk makanan sore karena baru saja aku di beri makanan dari rumah Den Bagas, nanti aku siapkan di meja makan sebelum aku mandi."
Ais bergegas bangkit dari duduknya dia melangkah masuk ke dalam rumah menuju ke ruang makan terlebih dahulu untuk menata semua makanan yang diberikan oleh bibi setelah itu barulah dia membersihkan badannya.
Setelah itu barulah mereka makan bersama-sama.
Sementara di rumah Bagas dia masih saja teringat akan aksi hebatnya Ais dalam melawan para preman tadi sore tanpa sadar dia juga senyum-senyum pada saat sedang makan bersama orang tuanya hal ini membuat tanda tanya bagi orang tuanya.
"Bagas, kamu kenapa sih dari tadi kok senyum-senyum sendiri apa ada hal yang lucu yang membuat kamu seperti ini?" tegur Eti mengerutkan dahinya.
"Hanya ada sesuatu hal yang lucu aja yang tadi sempat terjadi sehingga aku masih ingat dan merasa geli sendiri," ucap Bagas seraya melahap makanan yang ada di depannya.
"Bagas, papah ingin tanya sama kamu tolong kamu jawab dengan jujur. Jangan pernah berbohong pada papah dan mamah ya?" ucap Broto menatap anaknya serius.
"Katakan saja pah, sepertinya kok serius amat seperti itu," ucap Bagas terkekeh.
"Bagas, apa kamu menyukai Ais?" tanya Broto menyelidik.
__ADS_1
"Uhuk uhuk" pertanyaan Broto membuat Bagas tersedak karena kaget.
Eti pun langsung mengambilkan segelas air minum untuk, Bagas. Setelah ia merasakan lega minum air putih tersebut ia pun menghela napas panjang.
Bagaimana ya aku mengatakannya?" Bagas malu salah tingkah dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Papah tahu kok dari sikapmu itu menandakan bahwa kamu memang telah jatuh cinta pada, Ais," tebak Broto terkekeh.
"Entahlah, pah. Aku juga tidak tahu apakah yang aku rasakan ini adalah rasa cinta pada Ais atau bagaimana? karena aku juga masih kerap kali marah-marah padanya," ucap Bagas jujur.
"Kalau kamu memang cinta padanya, seharusnya kamu harus bisa merubah sikap pemarahmu itu. Hilangkanlah sedikit demi sedikit, karena memang perubahan sifat seseorang itu tidak bisa secara instan harus bertahap tapi setidaknya kamu harus berusaha untuk berubah lebih baik lagi," ucap Broto menasehati Bagas.
"Memangnya jika aku benar-benar jatuh cinta pada Ais, papah dan mamah akan setuju?" tanya Bagas ragu.
"Jika kami tidak setuju tidak mungkin kami mendukungmu dengan menasehatimu supaya merubah sikapmu itu," ucap Broto meyakinkan Bagas.
"Iya Bagas, mamah akan sangat senang sekali jika memang kamu berjodoh dengan Ais."
"Walaupun memang dari segi kekurangannya dia sering bersikap ceroboh tetapi setiap manusia itu selalu ada sisi buruknya, juga sisi baiknya."
"Jika kamu memang benar-benar cinta padanya, terima juga sisi buruknya jangan hanya sisi baiknya saja. Dan jangan pernah kamu meminta dirinya untuk berubah."
Demikian nasehat dari Mamah Eti untuk Bagas.
"Iya, mah. Aku akan coba menerima kekurangannya, tapi aku juga tak tahu apakah Ais ada rasa padaku, mah," ucap Bagas mulai bisa terbuka pada orang tuanya tentang perasaannya terhadap Ais.
"Kalau menurut papah, dia juga kagum padamu. Bisalah kamu kukuhkan hatinya asal kamu jangan terus marah-marah padanya. Yang ada nanti Ais malah benci padamu," ucap Broto menasehati kembali.
"Iya, Bagas. Wanita itu suka di perlakukan dengan lemah lembut, bukan dengan emosi dan marah-marah," canda Eti terkekeh.
"Iya, mah-pah. Terima kasih ya, sudah mau dengar curhatan aku."
__ADS_1
"Iya, Bagas. Kamu gapai dan perjuangkan cintamu itu. Kami akan selalu mendukung apa pun yang menurutmu itu baik. Apa lagi kami ini sudah tak sabar ingin menimang cucu," ucap Broto terkekeh.
"Astaga, papah. Kok sampai sejauh itu sih berpikirnya?" Bagas menggelengkan kepalanya.
"Lah memang nggak ada yang lain kan, apa iya kamu cinta dengan Ais hanya untuk pacar-pacaran saja? itu namanya nggak benar, kami nggak akan setuju,' ucap Eti.
"Hhee iya, mah. Tenang saja lah, aku ini bukan tipe pria yang suka mainin wanitanya. Papah mamah tahu kan bagaimana aku selama ini?" ucap Bagas.
"Kami tahu sekali, kamu itu pemarah sekali. Mana ada wanita yang mau sama pria seperti kamu," ejek Eti.
Bagas merasa lega karena bisa mencurahkan isi hatinya pada kedua orang tuanya. Kini dia sudah mendapatkan lampu hijau dari orang tuanya sehingga dia bisa melangkah lebih bebas lagi untuk bisa mendapatkan cinta dari Ais.
"Entah kenapa memang dari dulu aku tidak tertarik dengan seorang wanita, tapi sejak aku bertemu dengan Ais semuanya berubah. Memang awalnya aku benar-benar selalu kesal padanya dengan kecerobohannya tetapi lama-lama kelamaan aku selalu merindukannya," batin Bagas senyam senyum sendiri.
Di dalam kamar dia terus saja menatap foto Ais tadi siang pada saat Ais memakai dress dan wajahnya di make up. Dia sengaja mencuri foto Ais pada saat Ais lengah, dia mengabadikan momen itu lewat kamera ponselnya.
Bahkan foto Ais di jadikan wallpaper ponselnya. Tanpa henti dia menatap foto tersebut, hingga tak terasa dia memejamkan matanya begitu saja.
Di dalam tidur nyenyaknya, Bagas pun bermimpi indah bersama Ais. Hingga tak sadar dia pun terjatuh dari ranjang tempatnya tidur.
Blugggg....
"Aduh...."
Bagas terbangun dari tidur karena merasakan sakit pada tubuhnya.
"Baru kali ini aku mimpi hingga terjatuh dari ranjang, dan apa ini? kenapa celanaku basah kuyup seperti ini?"
Bagas pun bangun dan dia meraba kasurnya, yang ternyata basah.
"Astaga, apa kata mamah dan papah jika tahu kasurku basah seperti ini. Gara-gara semalam aku mimpi basah," gumamnya terkekeh sendiri.
__ADS_1