Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Tak Ada Lagi Kesempatan


__ADS_3

Lukman merasa lega karena sudah bisa mengeluarkan unek-uneknya.


"Ika, terima kasih ya. Kami pamit pulang, dan nanti Ais akan kirim pulsa ke nomormu untuk mengganti pulsa mu tadi yang kami gunakan untuk menelpon Marlina."


Lukman berpamitan pada Ika begitu pula dengan Ais. Mereka bersalaman satu sama lain.


Sementara saat ini tangis pecah di Singapura. Marlina begitu sedih karena niat baiknya sama sekali tak di terima oleh Lukman.


"Ya Allah, apa memang sudah tak ada maaf bagiku dari Mas Lukman? padahal aku hanya ingin menebus semua rasa salahku dimasa lalu dengan aku bekerja untuk si kembar. Tapi Mas Lukman sama sekali tak mau menerima pemberianku."


"Ia benar-benar menginginkan aku putus hubungan dengan anak-anakku. Bukankah di dunia ini tidak ada yang namanya mantan anak?"


"Kenapa Mas Lukman tega sekali. Tolong lembutkan hatinya ya Allah, supaya aku bisa bersama anak-anak."


"Aku benar-benar telah menyesali semua kesalahanku ini. Masa iya tidak ada kesempatan sama sekali bagiku untuk memperbaiki semua kesalahanku ini?"


Terus saja Marlina terisak dalam tangisnya seorang diri di negeri orang.


******"


Satu bulan berlalu dari kejadian itu dan Marlina benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan oleh Lukman. Ia tak lagi berkirim surat atau pun berkirim uang lagi.


"Ayah, apa ibu mendengarkan perkataan ayah?" tanya Ais ingin tahu saja.


"Sepertinya iya, Ais. Karena satu bulan ini ibumu tidak kirim surat atau uang. Syukurlah jika begitu, ayah lega. Karena ayah tak ingin lagi berhubungan dengan ibumu."


"Kamu pasti berpikir ayah ini kejam terhadap ibumu. Tapi ayah benar-benar tak bisa melupakan apa yang pernah ibu mu perbuat pada ayah tempo dulu."


"Maafkan ayah ya, Ais. Mungkin kamu kecewa dengan sikap keras kepala ayah ini."


Mendengar segala perkataan ayahnya, Ais justru tersenyum.


"Ayah, aku sama sekali tak ada rasa kecewa sedikit pun pada ayah. Selamanya aku itu bangga punya ayah seperti Ayah Lukman ini."


"Ayah adalah seorang ayah sekaligus ibu yang baik bukan hanya buatju tapi juga buat si kembar."

__ADS_1


"Ayah jangan pernah berpikir jika diri ayah kejam. Jika aku di posisi ayah juga akan melakukan hal yang sama."


"Aku yang hanya sebagai anak, sempat melihat sendiri bagaimana ibu pergi tempo dulu dan tak mengindahkan ku padahal aku sampai terjatuh."


"Aku hingga kini juga masih merasakan sakit yang teramat dalam. Ayah sudah ya jangan berpikir macam-macam."


"Lagi pula kita kan sudah terbiasa hidup tanpa adanya seorang ibu. Jadi aneh saja jika tiba-tiba ibu datang begitu saja."


"Dimana ia di kala aku salut atau adik-adik sakit. Selalu saja ayah kan yang ada di samping kami. Ibu hanya memikirkan kesenangan dirinya saja bahkan ia rela meninggalkan anak kandung hanya demi harta dan masih ia memanjakan anak tirinya itu."


Sekilas Lukman teringat sesuatu setelah baru saja mendengarkan apa yang Ais katakan.


"Oh ya, Ais. Bagaimana perseteruan antara kamu dengan anak tiri ibumu?" tanya Lukman.


"Haduh, ayah. Hari gini baru tanya tentang hal ini? padahal sudah berbulan-bulan berlalu. Hello, ayah kemana saja ya?" canda Ais terkekeh.


"Hhee maafkan ayah, Ais. Karena pikiran ayah kalut dan juga kamu tahu sendiri kan, sejak kita buka restoran waktu kita tersita di restoran kita yang selalu ramai?" ucap Ayah Lukman membela diri.


"Iya dech ayah, aku tahu kok. Urusan kami itu sudah kelar karena bantuan Mas Bagas. Dan si Rindi juga sempat di penjarakan oleh Mas Bagas. Malah saat ini sepertinya ia sudah bebas dari penjara."


Selagi mereka asyik bercengkerama berdua datanglah Bagas.


"Sepertinya lagi asik sekali ini calon istriku ngobrol dengan calon Ayah mertuaku ini," canda Bagas terkekeh seraya menyalami Ayah Lukman.


"Eh Nak Bagas, ayah pikiran salah satu pelanggan restoran ini," goda Ayah Lukman terkekeh pula.


"Hem, calon istriku yang baik dan cantik. Calon suamimu ini ingin makan siang di sini. Apakah sekiranya boleh dan di izinkan, calon ayah mertuanya?"


Ayah Lukman semakin terkekeh melihat tingkah Bagas. Sedangkan Ais hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya menghela napas panjang melihat tingkah Bagas tersebut.


Ais melangkah ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk kekasihnya tersebut.


Ayah Lukman benar-benar heran dengan perubahan yang terjadi pada Bagas. Dari seorang yang pemarah dan tak pernah senyum sama sekali. Kini menjadi seorang yang suka bercanda dan banyak tersenyum.


"Nak Bagas, kekuatan cinta memang luar dari biasa ya?" ucap Ayah Lukman.

__ADS_1


"Hem, maksudnya apa ya Ayah?" tanya Bagas memicingkan alisnya tanda tak tahu apa arti dari ucapan Ayah Lukman.


"Hem kekuatan cinta mampu merubah segalanya," ucap Ayah Lukman terkekeh.


"Ah Ayah, aku jadi malu dech. Bukannya ada pepatah bilang jika sudah cinta tai kucing pun rasa coklat," ucap Bagas terkekeh.


"Ih jorok Nak Bagas, berarti sudah pernah tuh makan gituaan..iihhh hoekk.. jorok ah.." Ucap Ayah Lukman merasa musl mendengar perkataan Bagas.


"Hhee ya nggak pernah lah ayah. Jijik amat sih. Ayah pasti benar-benar membayangkan ya, sampai hoek-hoek begitu?" tanya Bagas penasaran.


"Jangan ngomong seperti itu, apa lagi Nak Bagas kan mau makan siang?" tegur Ayah Lukman.


"Heeee Iya maaf ya ayah." Bagas tersipu malu seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Memangnya Mas Bagas ngomong apa sih ayah?" tanya Ais yang sempat mendengar perkataan ayahnya barusan.


Ia pun menyajikan beberapa menu masakan dan minuman kesukaan Bagas di meja di hadapannya.


"Ih Ais malah tanya, jangan katakan lagi Nak Bagas cukup satu kali saja. Makanlah saja," pinta Ayah Lukman seraya berlalu masuk.


Sementara Bagas makan di temani oleh Ais. Melihat Ais hanya bengong tak ikut makan siang. Dengan penuh kasih sayang Bagas berinisiatif menyuapinya.


"Aaaaaa...ayok dong buka mulutnya sayang. Masa iya diam saja sih," pinta Bagas seraya akan menyendokkan makanan ke mulut Ais.


"Ist, nggak ah. Malu mas, dilihat banyak orang itu," ucap Ais menolak seraya lirih.


"Cepatlah buka mulutnya sayang, apa mau aku cium bibirmu di muka umum?" ancam Bagas seraya mengedipkan matanya genit.


Hingga pada akhirnya Ais mau menerima suapan dari Bagas.


"Aduh.... romantisnya...jadi iri dech..."


"A-a-aaaaku mau dong di suapin."


Beberapa pelanggan yang sempat melihat hal itu sempat menggoda Ais dan Bagas.

__ADS_1


__ADS_2