Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Masih Ragu


__ADS_3

"Kamu lihat, Rindi. Kita telah di permalukan oleh Bagas, ini semua karena kamu yang merengek minta mendekatnya!" Setyo kembali ke mejanya yang semula di ikuti oleh Marlina dan Rindi.


"Maafkan aku, pah. Aku juga tidak tahu akan seperti ini jadinya," ucap Rindi ketakutan.


Sementara Marlina hanya hanya diam saja, dia sedang memikirkan perkataan Bagas.


"Apa iya jika Ais itu kekasihnya Bagas?" batinnya.


Sementara Rindi terus saja menatap ke arah Bagas dan Ais, dia tak rela melihat Bagas bersama wanita lain.


"Bagaimana bisa Bagas mengatakan jika gadis itu adalah kekasihnya, sementara ia memakai seragam sopir. Aku harus selidiki lebih lagi tentang gadis itu," batin Rindi terus saja tatapan matanya mengarah ke arah Ais.


Berbeda dengan Ais, ia juga merasa heran kenapa Bagas mengatakan pada keluarga Rindi jika dia adalah kekasihnya.


"Den Bagas, sebelumnya aku minta maaf ya jika aku ingin bertanya satu hal yang agak sedikit menyinggung perasaan Aden" ucap Ais.


"Aku tahu apa yang ingin kamu katakan Ais. Kenapa aku mengatakan pada mereka kalau kamu itu kekasihku ya kan?"


Mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Bagas, Ais pun salah tingkah dan tersipu malu.


"Hehehe, Aden seperti cenayang saja. Bisa menebak apa yang ingin aku tanyakan?"


"Aku ingin mengatakan satu hal tentang perasaanku padamu, jujur saja aku itu merasakan... aduh bagaimana ya?" Bagas mulai salah tingkah di buatnya.


"Aden kenapa tidak jadi berkata? coba katakan saja yang sebenarnya." Ais sudah tak sabar dengan apa yang ingin di katakan oleh Bagas.


"Jujur saja aku telah jatuh cinta padamu dan bersediakah kamu untuk menjadi kekasihku?" tanya Bagas sedikit ragu.

__ADS_1


"Apakah Aden sadar dengan apa yang barusan Aden katakan?" Ais merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bagas.


"Aku sangat sadar dengan apa yang barusan aku katakan Ais, sudah sejak lama aku ingin mengatakan hal ini padamu tetapi aku ragu karena kamu pasti tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan."


"Awalnya memang aku sangat kesal dengan setiap kecerobohan yang kamu lakukan. Tetapi di saat aku ingin marah atau kesal padamu aku malah selalu mengingatmu dan selalu ingin bertemu denganmu."


"Dan setiap aku bersama denganmu, jantung ini berdetak begitu kencangnya. Hal ini baru pernah aku rasakan sejak bersama dengan dirimu."


Ais bengong pada saat mendengar apa yang dikatakan oleh Bagas ia pun bingung harus menjawab apa padanya.


"Ais, kenapa kamu hanya diam saja jawablah apakah kamu mau menjadi kekasihku? aku sudah siap dengan segala konsekuensinya apapun jawabanmu itu aku tidak akan marah," ucap Bagas penasaran.


"Den, apakah Aden sedang bercanda padaku? aku ini hanya seorang sopir dan aku banyak kekurangannya bukan? Aden sering berkata aku ini gadis yang ceroboh kurang hati-hati gadis barbar, dan aku juga tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan serta pendidikanku hanya sampai lulus SLTA saja. Jadi aku tidak percaya jika Aden benar-benar menyukaiku," ucap Ais masih aja belum percaya dengan pernyataan cinta dari Bagas.


"Astaga, aku harus berbuat apa supaya kamu percaya jika aku ini cinta padamu, Ais?" Bagas merasa kesal tapi ia mencoba menahannya.


"Aku yakin saat ini Aden hanya sedang mengusili diriku ya kan?" Ais masih ragu.


"Den, aku minta maaf ya tidak bisa menjawabnya sekarang. Aku butuh waktu untuk memikirkan tentang hal ini," ucap Ais.


"Baiklah Ais, aku akan menunggu dengan sabar sampai kamu benar-benar telah mempunyai jawaban untuk perasaanku ini. Sudahlah, sekarang sebaiknya kita makan saja. Oh ya, jika wanita muda yang tadi itu tanya tentang hubungan kita, katakan saja jika kamu ini calon istriku ya, walaupun kamu belum menjawab apa yang aku rasakan ini," ucap Bagas.


"Baiklah, Den. Aku akan menuruti kemauan Aden, sekali lagi aku minta maaf jika belum bisa memutuskan apakah aku menerima Aden atau tidak."


Ucap Ais seraya menangkupkan kedua tangannya di dada, ia merasa tak enak hati.


Tapi ini adalah suatu perasaan hati, jadi tak sembarangan untuk menjawabnya. Harus benar-benar butuh pemikiran yang matang.

__ADS_1


Saat itu juga mereka makan siang bersama karena pesanan telah datang.


"Ais, padahal aku sangat berharap jika kamu mengatakan iya saat ini juga. Supaya hati ini tenang dan lega," batin Bagas sedikit agak kecewa karena Ais tak langsung menjawabnya.


Tak berapa lama, mereka pun selesai dengan makan siangnya. Akan tetapi pada saat Bagas dan Ais akan masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba Rindi mencekal lengan Ais, membuatnya terhenyak kaget.


"Heh, apa yang kamu lakukan pada kekasihku?" tegur Bagas menepiskan cakalan tangan Rindi pada lengan Ais.


"Bagas, aku hanya ingin memastikan saja apakah memang benar dia ini kekasihmu? masa iya seorang sopir pribadi menjadi kekasih dari majikannya sendiri. Sepertinya ini hanyalah sebuah permainan mu saja supaya aku tidak terus mengganggumu bukan?" ucap lantang Rindi.


"Jika kamu tidak percaya pada apa yang aku ucapkan, kamu bisa tanya sendiri padanya apakah dia benar-benar kekasihku atau bukan," ucap Bagas seraya melirik ke arah, Ais.


"Hai nona, memangnya aku salah jika menjadi kekasih dari majikanku sendiri. Kamu ingin bukti apa dariku?" ucap Ais.


"Aku tidak percaya dengan apa yang kamu ucapkan. Aku sangat yakin jika kalian telah bekerja sama untuk menipu diriku. Lihat saja, aku akan mengetahui sendiri jika kalian memang benar-benar tidak ada hubungan spesial sama sekali," ucap Rindi.


"Sayang, kenapa kamu tidak mau membuktikan secara langsung kepada dia kalau kita ini adalah sepasang kekasih?" tiba-tiba Bagas memeluk erat pinggang Ais seraya kedua tangannya memegang dagunya.


"Mas Bagas, kekasihku. Masa iya kita harus membuktikan kasih sayang kita di depan orang lain itu kan tidak etis," ucap Ais saya tersenyum manja kepada Bagas dan kedua tangannya bergelayut manja di leher Bagas.


Tiba-tiba Bagas mencium bibir Ais di depan Rindi. Hal ini membuat Ais tersentak kaget, tapi ia tak bisa begitu saja marah pada, Bagas. Karena tak ingin acting mereka terbongkar di hadapan Rindi.


"Sialan, awas saja ya. Setelah ini aku akan hajar kamu habis-habisan," batin Ais kesal dengan tingkah Bagas.


Rindi pun meras kesal melihat hal itu, ia langsung melangkah pergi dengan menghentakkan kakinya.


Setelah Rindi sudah tak terlihat, barulah Ais melepaskan diri dari pelukan Bagas.

__ADS_1


Ais melayangkan tangannya tangannya akan menampar pipi Bagas, akan tetapi Bagas menangkap tangan Ais dan menciuminya.


"Jangan bertindak seperti ini, karena aku bisa menghukummu."


__ADS_2